Search

Geografi Manusia

Berbagi dan Mengabdi

Sekolah, penjara atau tempat berpetualang?

“bebas euy..” itu adalah salah satu pekikan siswa, saat mendapatkan informasi kelulusan dari sekolahnya. Pekikan itu, kemudian disambut pula, oleh pekikan serupa, senada atau semakna dengan itu. Mereka meluncurkan pekikan itu, sebagai gambaran rasa bahagia,  dengan kelulusannya.

Ada makna lain, yang juga, perlu dicermati bersama. Pekikan itu, terasa memberikan sebuah gambaran, bahwa sekolah selama ini, menjadi ‘penjara; atau ‘ruang tanpa kebebasan’.  Sehingga, kelulusannya itu sendiri, dirasa sebagai sesuatu yang membanggakan dan menggemberikan, dan layak dirayakan.

Dalam kasus yang lain, banyak diantara siswa, yang merasa gembira saat bel pulang berbunyi, sedangkan saat bel masuk terdengar, sangat cuek untuk segera memasuki kelas. Memang tidak semua aak mengalami hal serupa itu, tetapi cerita di lapangan, kasus-kasus serupa itu masih sangat terasa.

Menyimak gejala seperti itu, sekolah lebih dianggap sebagai penjara, dan pembelajaran terasa sebagai sebuah doktrin. Sehingga tidak mengherankan, bila kemudian banyak diantara siswa kurang betah, dan merasa ‘bebas terlepas’ dari belenggu saat pulang atau lulus ujian.

Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan impian ALfred Whitehead, yang berharap pendidikan sebagai sebuah petualangan hidup dan sekolah sebagai wahana untuk berpetualang.

Education is discipline for the adventure of life; research is intellectual adventure; and the universities should be homes of adventure shared in common by young and old. (Whitehead, 1929c, p. 98)

Advertisements

Makna Sumberdaya Lokal

Hasil gambar untuk sumberdaya lokalKita sering menggunakan istilah “mari manfaatkan sumberdaya lokal”. Ucapan yang kerap terlontar dari lisan kita, baik sebagai warga negara, masyarakat biasa, pendidik, elit politik atau pejabat negara. Harapan dan impian kita, supaya bisa memanfaatkan sumberdaya lokal, kerap kali muncul dalam asa dan pikiran kita.

Continue reading “Makna Sumberdaya Lokal”

Gejala Stress di Tempat Kerja

Setahun yang lalu, seorang teman sekantor, sempat mengeluhkan kondisi keluarganya. Dia sudah berkeluarga, namun belum juga dikarunia keturunan. Sang istri, sebenarnya profesinya adalah seorang guru.  Begitu pula suaminya. Entah mengapa, hingga sudah hampir 10 tahunan lebih, dia belum juga dikaruniai seorang putra. Continue reading “Gejala Stress di Tempat Kerja”

Generasi Maya

Hasil gambar untuk bayang-bayangSaat, anak-anak kita  jauh dari kasih sayang orangtuanya, mereka dekat dengan ‘pelukan media sosial’. Saat mereka jauh dari sentuhan edukatif dari para guru di sekolah, mereka malah masuk pada dekapan media sosial. Saat kehausan, mereka malah mereguk kekeringan makna dari  media sosial. Saat itulah, generasi kita, menjelma menjadi generasi maya atau bayang-bayang. Continue reading “Generasi Maya”

Jokowi Nonton Film G30S/PKI di Makorem Bogor

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan nonton bareng film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ di Bogor. Acara tersebut diselenggarakan oleh TNI. Continue reading “Jokowi Nonton Film G30S/PKI di Makorem Bogor”

Wapres: Terorisme Muncul di Negara Gagal

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengatakan bahwa terorisme tumbuh di negara-negara gagal karena mereka merasa tidak punya harapan dan banyaknya pengangguran.

“Terorisme dan radikalisme datang dari negara-negara gagal, karena mereka merasa tidak ada harapan. Begitu mudah dijanjikan masuk surga, mereka dengan senang hati melakukannya,” katanya saat memberikan kuliah umum di Universitas Columbia New York, Amerika Serikat, Jumat (22/9).

Lebih lanjut Wapres menjelaskan negara-negara gagal tersebut terjadi karena serbuan Amerika Serikat. Seperti yang terjadi di Irak, Syuriah, Lebanon dan sebagainya. Munculnya ISIS, tambah Wapres, juga berasal dari negara-negara gagal tersebut.

Wapres juga menjelaskan saat ini di Indonesia telah dilakukan program de-radikalisasi terhadap lebih dadi 10 ribu mantan teroris yang dipenjara di 72 penjara di seluruh Indonesia. “Tidak ada negara yang seperti Indonesia, dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia dengan berbagai etnis, suku dan budaya serta tersebar dalam berbagai pulau, tetapi saling menghormati,” kata Wapres M Jusuf Kalla.

Menurut Wapres hal itu terjadi karena di Indonesia sejak dahulu hidup dalam harmoni. “Kami memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meski berbeda-beda tapi tetap satu,” kata Wapres.

Wapres menjelaskan perbedaan agama di Indonesia juga tidak menjadi masalah. Wapres menjelaskan jika mendengar ada beberapa konflik di Indonesia, persoalannya bukan karena agama, tetapi karena kesenjangan, bahkan soal demokrasi atau politik. Wapres menjelaskan kasus di Poso atau Ambon terjadi konflik justru karena demokrasi. Sebelumnya pemimpin di wilayah tersebut ada harmoni antarumat beragama. Jika kepaka daerahnya Muslim, maka wakilnya non-Muslim, begitu pula sebaliknya.

“Namun tiba-tiba setelah demokrasi, maka pemenang mengambil semua. Pasangan kepala daerah bisa tidak menghiraukan harmoni tersebut, yang mayoritas mengambil semuanya,” kata Wapres.

Continue reading “Wapres: Terorisme Muncul di Negara Gagal”

Hoax buatan Negara!

Hasil gambar untuk hoax negaraSekedar tukar pengetahuan, ada dua jenis hoax. Hoak diproduksi untuk menyerang orang lain, dan ada hoax diproduksi untuk mempertahankan reputasi diri. Para penguasa, biasa membuat hoax, untuk membela kekuasaannya sendiri. Continue reading “Hoax buatan Negara!”

Radiasi Kemanusiaan

Hasil gambar untuk rohingya

Jika ada aspek pidana, hukumlah yang harus bertindak. Jika masalah politik, kedepankanlah mekanisme demokrasi. Bila ada masalah sosial budaya, maka musyarawahkanlah, bukan dengan peluru. Walaupun bisa meredam, namun itu hanya sesaat. Dalam sejarah kemanusiaan, peluru tentara tidak akan menyelesaikan masalah kemanusiaan. Kita tahu, setiap letusan peluru, ada radiasinya. Letusan mesiu itu akan menyisakan radiasi kemanusiaan yang meracuni jiwa dan rasa manusia untuk waktu yang tidak terbatas. Radiasi itu, bisa dalam bentuk duka, dan bisa pula dalam bentuk dendam ! Continue reading “Radiasi Kemanusiaan”

Siapa Bilang gajah tak bisa menari ?

Hasil gambar untuk gajah menariMuncul lagi pernyataan. “ini, karena peserta didik di kampus kita, sudah sangat besar. Sulit kita memantaunya…” ujar salah seorang tenaga pendidik, saat mengomentari masalah yang terjadi di sekitar kampusnya. Sebuah pernyaat yang biasa terlontar, namun perlu direnungkan kembali.  Mendengar pernyataan itu, saya jadi ingat pernyataan Louis Gerstner, apa iya gajah tak bisa menari ? Continue reading “Siapa Bilang gajah tak bisa menari ?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑