Untuk zaman modern ini, dan bahkan sudah dipahami sebagai salah satu karakter modern, yaitu adanya spesialisasi. Kita boleh setuju, boleh juga tidak setuju. Terlebih lagi, bila kemudian, kita melihatnya dari sudut posmodern. Menurut kelompok yang satu ini, spesialisasi justru masalah menjadi bencana kemanusiaan, dan bukan meningkatkan marwah kemanusiaan.

Di luar persoalan itu, gejala spesialisasi dan holistika, terus menjadi wacana menarik di zaman sekarang ini, termasuk saat kita membincangkan masalah pesantren atau pendidikan ke madrasahan. Pada lembaga-lembaga pendidikan ini, tampak ada tautan antara kedua aspek ini.

Pertama, mempertahankan holistika.  Pesantren ini, tetap memegang pakem pembelajaran yang utuh, atau menyeluruh. Tidak ada spesialisasi dalam pembelajaran di pesantren ini. Alumni dari pesantren ini, yaitu melahirkan santri yang memiliki pemahaman agama yang bersifat umum. Dalam bahasa lain, “tahu banyak, walaupun tidak mendalam”

Kedua, cenderung spesialisasi. Pada kategori ini, pesantren tersebut berkembang dengan karakter spesial. Dalam konteks ini, kita menyebutnya ada spesialisasi pesantren. Imbas dari karakter inilah, ada pesantren tahfidz, pesantren qur’an, pesantren ilmu alat, atau pesantren pertanian, termasuk juga pesantren sains. Alumni dari pesantren ini, “tahu sedikit, tetapi mendalam”.

Pertanyaan kita sekarang, akankah pesantren tematik seperti ini, akan mendapat respon positif dari masyarakat ? ataukah malah akan menjadi penurunan karakter dan kualitas pesantren ? meminjam analisis posmodernis, spesialisasi menyebabkan manusia terasing, dan mengalami kekeringan.

Advertisements