Hasil gambar untuk sumberdaya lokalKita sering menggunakan istilah “mari manfaatkan sumberdaya lokal”. Ucapan yang kerap terlontar dari lisan kita, baik sebagai warga negara, masyarakat biasa, pendidik, elit politik atau pejabat negara. Harapan dan impian kita, supaya bisa memanfaatkan sumberdaya lokal, kerap kali muncul dalam asa dan pikiran kita.

Secara normatif, rasanya, pandangan dan harapan itu, adalah sebuah impian yang baik. Harapan itu merupakan sebuah kesadaran kolektif untuk bisa memberdayakan potensi diri, atau potensi lokal, untuk membangun kejayaan, kehormatan, atau kewibawaan bangsa dan negara ini.

Namun demikian, kiranya, masih banyak pula, orang yang ada di sekitar kita, belum memahami sepenuh arti, terhadap makna sumberdaya lokal. Beda dengan istilah sumberdaya alam, atau sumberdaya manusia. Kedua istilah itu, sudah familiar dalam lisan dan pikiran kita. Sementara istilah sumberdaya lokal belum familiar, dan malahan belum banyak yang melakukan kajian instenstif terhadapnya. Untuk membantu kelangkaan itu, dalam kesempatan ini, kita akan mencoba untuk mengedepankan pandangan atau kajian analitis mengenai sumberdaya lokal.

Dalam kamus Bahasa Indonesia, ditemukan, makna “sumberdaya”, yaitu “segala sesuatu, baik yg berwujud maupun yang tidak berwujud, yang digunakan untuk mencapai hasil”. Dengan kata laiin, yang dimaksud sumberdaya lokal itu, adalah segala sesuatu yang ada di daerah setempat, atau lokal kita, yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan bersama kita. Pertanyaan kita selanjutnya, potensi apa yang ada di sekitar kita ?

Secara analitis, bila kita telaah seksama, maka yang dapat ditemukan di daerah kita itu, sangat beragam. Tetapi keragaman itu, bisa dikembalikan ke dalam tiga bentuk sumberdaya lokal.

Pertama, sumberdaya lokal yang bersifat material (material local resources). Mulai yang terdekat dari diri kita, yaitu tanah, air, udara, barang tambang, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Semua itu merupakan sumberdaya lokal yang kita miliki, dan dapat kita kembangkan sebagai modal pembangunan dan peningkatan kewibawaan  bangsa dan negara.

Tidak sedikit negara yang memiliki kekurangan sumberdaya lokal materal. Oleh karena itu rasa-rasanya, kita patut bersyukur, jika bangsa kita mendapat limpahan sumberdaya material yang melimpah. Harapan kita, kekayaan alam yang melimpah ini, tidak menjadi bencana atau musibah, malah menjadi sumberutama untuk medapatkan kehidupan yang berkah.

Kedua, sumberdaya alam yang bersifat nilai dan norma (values local resources).  Keragaman budaya, sebagaimana yang dimiliki bangsa Indonesia memiliki keragaman nilai dan norma. Memang betul, tidak semua nilai dan norma budaya daerah relevan dengan kebutuhan hidup modern ini. Namun tidak boleh diingkari pula, kita bisa menemukan sejumlah kearifan lokal yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang luar biasa.

Clifford Geeertz, malah sudah melakukan kajian sejak lama, mengenai local knowledge (Pengetahuan Lokal) ini. Menurut dia, masyarakat daerah selain memiliki pola kelakuan yang khusus, juga memiliki pola pikir, nilai dan norma yang bisa diberdayakan sebagai modal pembangunan. Zaman kita sekarang ini, menyebutnya dengan istilah kearifan lokal.

Ketiga,sumberdaya lokal yang terkait dengan manusia. Manusia Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah hebatnya dengan manusia non-Indonesia. Dalam ragam kompetisi sains,  anak-anak Indonesia banyak yang mampu meraih prestasi luar biasa di ajang intenasional, seperti olimpiade sains ataupun robotika. Persoalannya, adalah maukah kita memanfaatkan sumberdaya manusia Indonesia dalam konteks pembangunan ini ?

Jika nalar kitanya, masih ‘western-minded’, bisa jadi, akan menganggap tenaga kerja asing jauh lebih berkualitas dibandingkan tenaga kerja lokal. Padahal pandangan seperti  ini, tidak seluruhnya tepat. Banyak tenaga kerja Indonesia yang berkualitas dan unggul. Sehubungan hal ini, pendekatan pemberdayaan adalah pendekatan positif untuk membangun kesadaran partisipasi warga lokal  dalam ragam isu pembangunan.

Advertisements