Hasil gambar untuk hoax negaraSekedar tukar pengetahuan, ada dua jenis hoax. Hoak diproduksi untuk menyerang orang lain, dan ada hoax diproduksi untuk mempertahankan reputasi diri. Para penguasa, biasa membuat hoax, untuk membela kekuasaannya sendiri.

Dalam kajian ilmu sosial, isi berita dipengaruhi oleh si penutur. Sehingga, mau tidak mau, kualitas kebenaran, akan berbeda, bergantung pada siapa peunuturnya. Bahkan kebenaran, bisa dimiliki oleh pemilik kekuasaan. Begitulah, pengalaman kita, dan begitulah, gejala hidup sekarang ini.

Seperti yang selama ini, kita bisa lihat. Di media sosial (medsos), ragam berita bohong, disebutnya hoax. Andaipun bukan bohong, hoax itu adalah informasi yang belum memiliki kepastian dan memiliki acuan nilai kebenaran.

Sayangnya, fakta yang ada, hoax itu lebih banya tujukan kepada ragam informasi yang beredar dan bersumber dari masyarakat. Selain itu, kita tidak pernah mendengar ada berita hoax yang bersumber dari pejabat negara. Apakah dengan demikian, pemerintah tidak pernah berbohong ? atau tidak pernah menyampaikan berita palsu ?

Dalam logika normal, berita benar berada di ujung kanan, dan berita palsu atau berita salah di ujung kiri. Sementara, berita yang ada diantara kedunya, bisa disebut gosip. Gosip adalah mekanisme sosial, yang memiliki fungsi kontrol terhadap kelakuan masyarakat. Gosip itu, bisa mengarah pada benar, dan bisa pula mengarah pada salah.

Terus, dimana posisi hoax? Apakah hoax ada diantara berita ittu?

Selama ini, kita melihat bahwa hoax itu adalah pengolahan informasi secara ‘sistematis’, dan bahkan cenderung dirasionalisasi, sehingga seolah-olah benar. Data bisa benar sebagian, dan tentu ada data tambahan (palsu) sebagian. Dengan paduan antara kedua jenis data itu, sehingga tampak atau seolah-olah benar. Karena itu, informasi seperti ini, kerap mampu menarik simpati dan dukungan dari mereka yang tidak memiliki data benar yang lengkap.

Bila demikian adanya, berita mengenai ketahanan ekonomi negara, utang negara, termasuk berita benar atau hoax ? apakah data dan informasi benar dan lengkap, atau ada sebagian yang disembunyikan ?

Distatisun TV tertentu, ada penegasan sikap, katanya, “jangan politisasi kasus Rohingya di Myanmar…”. Kemudia, dilain statisun  malah ditegaskan bahwa kasus disana, tidak ada kaitannya dengan agama (islam). Sebagai penonton, kita wajib bertanya, apakah pandangan itu hoax atau benar ?

Sayangnya, memang selama ini, kalau yang memproduk informasinya adalah elit media, atau penguasa, maka berita itu benar, dan kalau masyarakat yang membuatnya, bisa disebut hoax ! padahal, sejatinya sumber hoax itu bisa siapa saja ? ragam pandangan tentang KPK, atau termasuk tentang DPR, bisa  jadi ada hoax yang diproduksi……

Untuk sekedar mengingatkan, ada dua jenis hoax. Hoak diproduksi untuk menyerang orang lain, dan ada hoax diproduksi untuk mempertahankan reputasi diri. Para penguasa, biasa membuat hoax, untuk membela kekuasaannya sendiri.

Advertisements