Hasil gambar untuk rohingya

Jika ada aspek pidana, hukumlah yang harus bertindak. Jika masalah politik, kedepankanlah mekanisme demokrasi. Bila ada masalah sosial budaya, maka musyarawahkanlah, bukan dengan peluru. Walaupun bisa meredam, namun itu hanya sesaat. Dalam sejarah kemanusiaan, peluru tentara tidak akan menyelesaikan masalah kemanusiaan. Kita tahu, setiap letusan peluru, ada radiasinya. Letusan mesiu itu akan menyisakan radiasi kemanusiaan yang meracuni jiwa dan rasa manusia untuk waktu yang tidak terbatas. Radiasi itu, bisa dalam bentuk duka, dan bisa pula dalam bentuk dendam !

Sangat luar biasa. Temanku yang satu ini. Dia harus memilih antara satu, dari dua pilihan pahit. Menyelamatkan janin yang sehat, tetapi nyawa istri melayang, atau menyelamatkan istri dengan resiko sang buah hati, si janin yang sehat itu harus melayang ? pendarahan dalam kandungan, yang memojokkan dirinya, sebagai suami, diberi satu pilihan pahit.

“istriku…” jawabnya tegas. Entah apa pertimbanganya, yang membuat dirinya mengambiil kesimpulan itu. Hal pasti, hingga hari ini, dia masih mendampingi istrinya dalam proses penyembuhan, dengan merelakan sang buah hati tercinta, si Janin itu harus pergi lebih awal, menemui Sang Penciptanya.

“di sini, saya merasa bukan sebagai manusia…” ujarnya, dengan nada suara yang sesak didalam dada. Kalau ada pilihan lain, selain dua hal itu, bisa jadi pilihan ketiga itulah yang akan diambilnya. Ungkapan itu, dinilai banyak orang, sebagai rasa cinta kepada dua kekasih yang sangat mendalam.

Di luar persoalan itu. Saat menyaksikan penderitaan Umat Islam Rohingya di Myanmar, rasa ini teriris lagi. Teriris rasa sedih, dan tidak mengerti, terhadap perasaan seorang Ibu/bapak, yang berposisi sebagai kepala negara, bila dihadapkan pada konflk anak-anaknya di dalam rumah tangga negaranya.

Jika memang anak kita nakal, senakal apapun anak kita, nurani seorang ibu, tidak akan rela melihat kakak kandungnya mencederai, melukai, atau melakukan tindakan kekerasan kepada adiknya. Tidak akan tega. Nurani sang Ibu, akan berusaha untuk melerainya.

Kita memang belum memahami betul, apa motiv dari tindakan militer Myanmar terhadap etnis Rohingnya. Hal pasti, etnis itu hidup di wilayah negaranya. Andaipun dia anak tetangga, atau anak angkat, sejatnya sang Ibu masih tetap memberikan rasa cinta kepadanya. Terlebih lagi, jika kelompok itu adalah anak bangsa, baik secara administratif  maupun politik, sebagai anak kandung Myanmar, maka rasa kemanusiaan itulah yang bakalan banyak dipertanyakan.

Jika ada aspek pidana, hukumlah yang harus bertindak. Jika masalah politik, kedepankanlah mekanisme demokrasi. Bila ada masalah sosial budaya, maka musyarawahkanlah, bukan dengan peluru. Walaupun bisa meredam, namun itu hanya sesaat. Dalam sejarah kemanusiaan, peluru tentara tidak akan menyelesaikan masalah kemanusiaan. Kita tahu, setiap letusan peluru, ada radiasinya. Letusan mesiu itu akan menyisakan radiasi kemanusiaan yang meracuni jiwa dan rasa manusia untuk waktu yang tidak terbatas. Radiasi itu, bisa dalam bentuk duka, dan bisa pula dalam bentuk dendam !

Advertisements