Hasil gambar untuk dana hajiJokowi berharap, dana Haji bisa diinvestasikan dalam bidang infrastruktur. Wacana ini, kemudian menyulut pro kontra terhadap gagasan tersebut. Semua pihak, sudah tentu akan ada argmentasi yang melatari sikap dan pandangannya tersebut.

Bagi kita, yang tidak banyak paham mengenai seluk beluk dana haji, dan atau masalah investasi tersebut, kiranya dapat pula membantu (atau mencampuri) pemikiran dari sisi yang lainnya. Misalnya. Saya ingin mengajak pembaca untuk melihat dari sisi psikologi kebutuhann hidup manusia.

Seperti dimaklumi bersama, setiap individu memiliki kebutuhan, begitu pula dengan negara. Negara dalam konteks politik, mirip organisme yang memiliki kebutuhan, dan ketahaan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, negara perlu mengerahkan segala kemampuannya, dalam memberdayakan seluruh aset, omset atau sumberdaya negara dalam memenuhi kebutuhan negara, yakni mensejahterakan warga negaranya.

Ada dua pola yang bisa dibicarakan di sini. Dalam situasi sadar dan kuasa mengelola sumber daya, maka kuasa kita dapat memberdayakan seluruh sumberdaya negara itu untuk pensejahteraan negara.

Lain cerita, bila kita dalam keadaan tidak berdaya. Di satu sisi, tekanan kebutuhan hidup sangat kuat, modal tidak ada, maka potensi yang akan terjadi adalah kepanikan finansial. Saat kepanikan finansial inilah, segala upaya akan dilakukan, kendatipun ‘mungkin’ akan melanggar aturan.

Orang yang mengalami kepanikan finansial, akan pinjam sana-sini, akan jual ini itu, akan ambil ini itu, yang penting, kebutuhan atau gaya hidup tercukupi.

 

Advertisements