Hasil gambar untuk belajar ngaji“Mengapa anak saya tidak lulus ?” ujar seorang ibu. Pertanyaan standar, tetapi cenderung interogatif.  Untuk tahun ini, setiap anggota panitia Penerimaan Peserta Didik Baru, sangat takut dan merasa risih, bila ada pertanyaan serupa itu, datang dari orangtua siswa, yang notabene berasal dari daerah sekitar madrasah.

Mereka mengajukan pertanyaan serupa itu, bukan karena sanksi dengan hasil penilaian, atau tidak tahu akan kemampuan putra-putrinya.  Saya yakin, mereka paham dengan hal serupa itu. Mereka tahu, kemampuan nyata anaknya, dan mereka percaya pada objektivitas proses penilaian yang dilakukan oleh tim seleksi PPDB di madrasah itu.

Tetapi, dibalik itu semua, mereka merasa punya hak, dan atau malah memiliki kewajiban untuk mengajukan pertanyaan tersebut. “mengapa anak saya tidak masuk ke madrasah ini?” alasan pokok yang mereka yakini kuat, adalah “rumah kami dekat dari madrasah ini, mengapa tidak lulus dalam tes masuk kali ini ?”

Iya, untuk masyarakat Kota Bandung khususnya, dan masyarakat Jawa Barat pada umumnya, sudah terbiasa mendengar kebijakan zonasi untuk proses penerimaan peserta didik baru. Secara sederhana, kebijakan ini menegaskan bahwa jarak lokasi rumah ke sekolah, menjadi salah satu factor utama yang mempengaruhi kepatutan seseorang dapat diterima sebagai calon peserta didik baru pada sebuah sekolah atau madrasah negeri.

Memang ada perhitungan khusus, mengenai hal itu, Alat bantu utamanya, adalah teknologi internet (google map atau google earth), yang bisa membantu proses seleksi zonasi atau jarak lokasi rumah calon peserta didik baru ke sekolah yang dituju.

Pertanyaan yang cenderung interogatif dan memaksa itu, diajukan sejumlah orangtua kepada panitia peserta didik. Termasuk salah satu diantaranya, yaitu seorang ibu yang kebetulan memiliki lokasi rumah kurang dari 500 m dari madrasah. “mengapa yang jauh diterima, sedangkan anak saya tidak diterima…?” ungkapnya lagi, dengan isi pertanyaan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

“ibu, sekolah kami ini, adalah madrasah aliyah, madrasah untuk tingkat SMA. Di sekolah ini, ada banyak pelajaran agama yang menggunakan bahasa Arab. Jadi, putra ibu, harus sudah bisa membaca al-Qur’an dulu.  Kelihatannya, hasil tes baca tulis Qur’annya, kurang baik, bu…?” jawab, seorang petugas PPDB yang menghadapi orangtua tersebut.

Mendengar penjelasan seperti itu, orangtua calon peserta didik baru itu, malah terus bersungut, dengan nada yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Mempertanyakan kebijakan zonasi  yang harusnya memberikan garansi kepada anaknya untuk bisa sekolah di madrasah tersebut.

Melihat gelagat yang kurang efektif, kemudian sang  petugas itu menghadap Ketua Pelaksana, dan menyampaikan kasus tersebut. Bincang demi bincang, akhirnya, sang petugas itu, kembali menghadap ibu calon peserta didik baru tadi. “Ibu, saya sudah menghadap ke Ketua Pelaksana PPDB. Andai putra ibu, memang bermaksud untuk sekolah di madrasah kami, kami beri kesempatan satu minggu untuk belajar ngaji dulu, dan kemudian dites lagi minggu depan. Mudah-mudahan, bisa lolos dan masuk sebagai siswa kami…?” Ungkapnya dengan lembut.

Mendengar keputusan itu, sang ibu sedikit sumringah. Harapan bisa menyekolahkan anaknya di madrasah ini, kini terbuka kembali.  Tidak berlama-lama lagi, kemudian dia membalikkan tubuhnya, dan berpamitan dengan maksud untuk menyampaikan pesan kesempatan baik itu kepada anaknya yang kini tengah ada di rumah, dan merasakan kepedihannya sendiri, akibat keputusan tidak lulus masuk madrasah  yang diterimanya hari kemarin.

Selang satu hari. Sang ibu, dan anak tidak kelihatan batang hidungnya di sekitar madrasah. Padahal rumahnya tidak jauh dari madrasah, dan aktivitas hariannya, jualan makanan ringan di depan sekolah. Pada hari kedua setelah menghadap ke madrasah, tampaklah dari jauh, sang ibu calon siswa baru itu, berjalan, dan tampak arah perjalannya menuju ruang penerimaan peserta didik baru tahun 2017.

Setelah  sampai di depan panitia, seorang panitia mendahulu bertanya, “mana bu, anaknya? Sudah siap di tes lagi…?” ditanya demikian, sang ibu, malah tersenyum. Jika dua hari yang lalu, dia sedikit kesal dan kadang nangis sedih menerima kenyataan tidak lolos anaknya masuk madrasah, hari ini, malah tersipu malu ditanya sang panitia. “bagaimana bu,  anaknya kok gak dibawa ke sini…?”

Dengan nada yang agak berat, sang ibu berujar, “kata anak saya, daripada di tes membaca tulis al-Qur’an  lagi, mendingan langsung saja, daftar ke sekolah swasta saja…” paparnya, “jadi, kami batal untuk daftar ke sekolah ini…” ungkapnya dengan sedikit rasa malu diwajahnya.

Setelah mendengar paparan itu, sang panitia berucap, “dimanapun sekolahnya, asalkan kita sungguh-sungguh, insya Allah bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi anak kita..” pesannya kepada sang ibu calon peserta didik baru tersebut.

 

-o0o-

Kisah ini, merupakan salah satu lelucon unik di PPDB tahun 2017. Saya secara pribadi, memberikan sebuah makna, bahwa sikap dan tindakan anak tersebut, sudah tepat, dan realistis. Calon peserta didik, sudah memiliki penilaian sendiri, terhadap  kemampuan diri, dan tantangan masa depannya. Calon peserta didik, tidak bisa dipaksa dan tidak boleh memaksakan diri untuk memasuki sebuah lembaga pendidikan, sesuai keinginan orangtuanya.

Sikap yang ditunjukkan peserta didik tersebut, satu sisi menggambarkan bahwa kemerdekaan memilih, sudah hadir pada peserta didik tersebut. Ini adalah sikap dan nilai hidup yang sangat mendasar dan strategis. Selama ini, khususnya di masa-masa pendaftaran siswa baru, saya sering melihat, orangtua calon siswa, jauh lebih sibuk daripada calon peserta didiknya itu sendiri. Sang orangtua calon siswa, dengan cekatan ke sana ke mari, lobi sana lobi sini, untuk bisa menemukan sekolah yang diimpikannya.  Diimpikannya orangtua, bukan diimpikan oleh anaknya sendiri.

Kemerdekaan memilih merupakan nilai hidup yang sangat mendasar. Tanpa ada kemerdekaan memilih, anak, bukan hanya tersiksa dalam hidupnya, tetapi juga akan terus terpenjara.

Kelemahan orangtua dalam membelajarkan anak untuk bisa menentukan pilihan sendiri,  potensial menyebabkan anak tidak kreatif dan kurang berani dalam mengambil resiko. Oleh karena itu, dengan sikap seperti yang ditunjukkan calon siswa tadi, setidaknya, memberikan inspirasi bahwa ‘anak kita memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri’.

Nilai penting lainnya,  anak seusia SMA/MA/SMK ini,  sudah memilliki kemampuan untuk menilai dirinya sendiri. Untuk zaman kita sekarang ini, kita sebagai orangtua, atau kita sebagai guru, tidak boleh memaksakan kehendak. Anak sesuai itu, setidaknya dalam kasus itu,  anak sudah memiliki kemampuan untuk menilai kemampuan dirinya sendiri.

Dengan kemampuan menilai diri sendiri, sang Anak berani mengambil keputusan untuk menempuh jalan hidupnya sendiri. Inilah fakta yang harus segera disadari dan dihapami oleh orangtua kita saat ini.

Imbas dari pemikiran dan pemahaman itu, maka tidak ada hak dari orangtua untuk memaksakan kehendak dirinya kepada anaknya sendiri. Orang yang mau menjalani proses pendidikan itu, adalah anaknya, bukan dirinya sendiri. Oleh karena itu,  orangtua tidak boleh memaksakan persepsi dan keinginannya kepada anaknya sendiri.

Bertepatan dengan kasus ini, di masa PPDB itu sendiri, saya kedatangan seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung  (ITB).  Sebuah perguruan tinggi terhormat di Bandung dan Indonesia.  Kampus ini, sudah terkenal bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Kedatangan mahasiswa ITB ini,  merangsang rasa bahagia dalam diri ini menguat seketika. Tetapi, rasa bahagia itu, tidak lama hadir. Karena beberapa saat setelah berbincang, ternyata dia datang sekedar mau meminta maaf, bahwa dirinya sudah keluar dari  Kampus Ganesa itu, dan pindah ke Kampus Isola (Universitas Pendidikan Indonesia).

Mengapa ? “saya tidak mau memaksakan diri. Saya merasa lebih kerasan kuliah di UPI, daripada di ITB, yang sangat diimpikan oleh orangtua dan guru kami di SMA dulu…” ujarnya.  Penjelasan itu, malah diimbuhi dengan sejumlah informasi bahwa ada sejumlah rekannya yang di DO (drop out, atau dikeluarkan) karena tidak mampu mengikuti irama dan budaya akademik di kampus tersebut.

Kisah ini pun menguatkan tafsiran kita terhadap kasus yang menimpa calon peserta didik tadi. Orangtua, termasuk guru sekalipun, tidak boleh memaksakan kehendak dan impiannya kepada anak atau calon peserta didiknya. Anak kita, siswa kita, atau peserta didik kita, biar tumbuh dengan kesadaran dan kemandiriannya untuk bisa menemukan jalan hidupnya sendiri. Kewajiban kita, adalah memberikan rambu-rambu jalan kehidupan, sedangkan drivernya, tetaplah anak itu sendiri.

Itulah pelajaran penting yang bisa dipetik kali ini.

-o0o-

Advertisements