Hasil gambar untuk ndesoNdeso , kampungan atau dasar udik ?

Ucapan memang gampang terlontar. Sebuah kata yang terucap, kadang sulit terkontrol. Terlebih lagi, bila kita dalam keadaan emosional. Pilihan kata, struktur kanaslimt, dan juga intonasi, juga kadang berubah.

Dalam permainan bahasa, kata sayang, dengan intonasina, beda bermakna kasih, dan juga bisa bermakna kasihan, atau sedikit ada penyesalan. “saaayang….”, “sayang !”, “Sayang..?”

Teruas, bagaimana dengan istilah desa ?

Bagi kalangan geograf, istilah “desa”, bukan hanya makna lokasi atau geografik. Tetapi, juga memiliki makna budaya. Desa bukan sekedar sandingan kota, atau kawasan yang ada di pinggiran kota. Bukan sekedar itu.

Desa bisa dilihat sebagai kategori budaya. Kalangan sosiolog dan antropolog, malah sudah memberikan rincian detil mengenai karakter desa, atau mentalitas desa. Karakter mental dan budaya desa, secara antropologi ‘kontras’ dengan budaya kota yang modern.

Karena itulah, maka sebutan desa, biasa juga digunakan dalam makna yang “kurang mengenakkan”, seperti kata kampungan, atau ndeso, wong deso.

Sebuah kata, selain mengandung makna leksikal, juga memiliki makna denotatif, Untuk makna yang terakhir ini, kadang diimbuhi oleh makna budaya, dan atau jnyauga si penuturnya.

Kita pernah mendengar  kata “tai”, goblok”, bajingan. Kata-kata itu, bagi anak sekolahan akan dikategorikan sebagai kata kotor yang tidak layak digunakan dalam komunikasi. Tetapi, jika kata itu digunakan oleh seorang pejabat, emmmm, ada yang menganggapnya wajar.

Begitulah juga kata ‘ndeso”…

Advertisements