Hasil gambar untuk diasporaSaat sebagian besar rakyat Indonesia, bersukacita dengan halal bihalal atau perayaan Idul Fitri, ada diantara warga Indonesia pun, yang berreunian dalam skala global.  Sebutan untuk reunion mereka, yakni dengan sebutan Congres Diaspora Indonesia (CDI). Pada tahun ini, mereka menyebutnya Kongres Diaspora Indonesia ke-IV.

Untuk sebagian diantara kita, mungkin belum banyak yang tahu, atau samar-samar bisa memahami makna dari Diaspora Indonesia tersebut ?

Bagi anak sekolahan, sudah pernah mendengar kata “spora”.  Menurut kamus Bahasa Indonesia (2008:1504) spora adalah alat perbanyakan yang terdiri atas satu atau beberapa sel yg dihasilkan dengan berbagai cara pada tumbuhan rendah. Dengan kata lain, diaspora pun, bisa diartikan ‘proses memperbanyak diri’.  Pada kamus itu, dikemukakan contoh, seperti Cryptogamae, berukuran sangat halus, mudah tersebar oleh angin, air, binatang dan sebagainya, dan dapat tumbuh langsung pada kapang (bakteri dan sebagainya) atau tidak langsung pada paku-pakuan menjadi individu baru.[1]

Warga Indonesia, dapat diposisikan sebagai ‘spora’.  Karena ada kepentingan mencari pekerjaan, kuliah, tugas Negara,  bencana alam, atau masalah politik, ada diantara warga Negara itu yang menyebar ke luar wilayah Negara Indonesia. Mereka menetap di Negara lain, dengan tetap merasa sebagai bangsa Indonesia. Gejala seperti ini, diartikannya sebagai gejala penyebaran spora-spora kebangsaan.

Selain istilah spora, ada istilah diaspora.  Para pengguna bahasa Inggris atau Yunani, istilah yang bermula dengan kata ‘dia’, mengandung makna timbal-balik atau interaktif. Misalnya, dialog, yang mengandung arti ‘saling menyapa’, dialektika adalah teori berfikir yang meyakini bahwa sesuatu hal yang ada adalah hasil dari hal yang bertentangan. Diagonal, yakni garis titik sudut dari satu titik ke titik lainnya. Dengan kata lain, diaspora pun bisa diartikan proses membelah atau memisah individu sehingga menyebar ke berbagai daerah.

Pada makna awalnya, diaspora mengandung arti “menyebar”, atau juga “dibuang”. Jika meminjam keterangan Kamus Sosiologi, istilah Diaspora, digunakan untuk menggambarkan seseorang yang keluar wilayah, atau menyebar ke luar wilayah. Hal itu digunakan untuk konteks orang Yahudi, yang menyebar ke berbagai daerah sejak abad IV sebelum masehi.   Orang-orang Yahudi,  diabad XXI ini, sudah bisa ditemukan di berbagai belahan bumi, di dunia ini. Mereka hidup dan berkembang biak, dengan tetap memegang teguh keyahudiannya.[2]

Spora dan Diaspora adalah gejala alam atau gejala social yang menggambarkan adanya gerak menyebar.  Bukan hanya menyebar, tetapi mereka bisa tumbuhkembang di tempat-tempat yang baru. Kalangan geograf, menyebut gejala ini sebagai gejala keruangan dan distribusi keruangan.

Hal yang perlu dicermati juga, selain itu ada istilah sporadic (sporadic). Istilah ini, biasa digunakan dengan arti tidak beraturan. Dalam bahasa kita, sebagaimana tercantum dalam kamus Bahasa Indonesia, kata sporadic, diartikan keadaan penyebaran tumbuhan atau penyakit di suatu daerah yang tidak merata dan hanya dijumpai di sana sin.

Dengan demikian, kita bisa memberikan tanggapan, bahwa Apakah Diaspora Indonesia saat ini, bersifat massif dan tersistematis, atau diaspora bangsa Indonesia ini, lebih bersifat sporadic ? Dengan diselenggarakannya Kongres Diaspora Indonesia, kita semua berharap, bahwa Diaspora Indonesia,  tidak lagi bersifat sporadic, tetapi memiliki fungsi dan peran nyata bagi bangsa Indonesia. Amin.

[1] Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa, 2008.

[2] Steve Bruce and Steven Yearley, The Sage Dictionary of Sociology, London : SAGE Publications Ltd, 2006. Hal 71.

Advertisements