Hasil gambar untuk hujanan-hujanan olahragaDi luar masalah kesehatannya itu sendiri. Bermain saat hujan turun, adalah salah satu moment ekspresf anak kampung. Bukan saja, melatih keberanian, kematangan mental, kebugaran dan ketahanan fisik, tetapi juga menjalin sosialitas gaya kampung.

Hujan rintik-rintik. kurang menarik. Hujan serupa itu, hanya mengganggu agenda main, dan tidak bisa berkreasi model permainan baru. Akan lain ceritanya, jika hujan turun lebat. Kejadian seperti ini, amat sangat menjadi impian bagi anak-anak. setidaknya, itulah pengalaman kami, anak kecil yang lahir di tahun 1970-an.

Bagi kami pada waktu itu. Khususnya di daerah pedesaan. Hujan lebat di siang hari, atau sore hari, menjanjaikan sebuah keindahan tersendiri. Disuasana serupa itu,  anak seusia sekolahan (SD atau SMP), pada keluar menuju lapangan terbuka. Entah di jalanan, di sawah, di lapangan bola, atau di alun-alun.

Di sanalah, olahraga di waktu hujan, dilaksanakan. Anak-anak berbahagia, orangtua pun, tidak keberatan.

Lain cerita dengan zaman kita. Di tahuan 2000-an ini. Mungkin karena zaman, atau karena gaya hidup yang berbeda. Saat hujan turun, jarang dilihat anak bermain ke lapangan terbuka, dan orangtua membiarkan anak-anakny hujan-hujanan.

‘Ayo masuk rumah, hujan lebat turun…!” itulah beberapa patah ajakan orangtua kepada anak-anaknya, dengan harapan supaya mereka masuk ke dalam rumah dan tidak terkena hujan. “takut sakit…!” nasihat orangtua kepada anaknya.

Di luar masalah kesehatannya itu sendiri. Bermain saat hujan turun, adalah salah satu moment ekspresf anak kampung. Bukan saja, melatih keberanian, kematangan mental, kebugaran dan ketahanan fisik, tetapi juga menjalin sosialitas gaya kampung.

Entah mengapa, anak-anak yang bermain hujan-hujanan saat itu, masuk dalam kategori anak gaul dengan sosialitas  yang luas.  berbeda dengan kelompok anak lainnya, yang di zaman modern ini, disebut dengan anak rumahan.

Advertisements