Ibu,Image result for sungkem dihadapan orangtua kartun

Aku tidak akan menangis dihadapanmu.  Air mata ini, hanyalah tanda kebahagiaan, dan rasa bangga kepadamu,

Ayah,

Aku tidak akan menangis dihadapanmu. Air mata ini, pertanda kuasa alam, untuk tetap berani mengalir kemanapun, dan bagaimanapun bumi itu terbentuk.


Sore itu, setiap peserta diklat, diminta oleh instrukturnya untuk mencurahkan hatinya dalam sebuah surat. Curahan yang sifatnya pribadi, dan ditujukan kepada orangtua, khususnya ibu.

Kendati kita ada yang sudah punya anak, bahkan cucu. Dimintai juga untuk membayangkan, masa kanak-kanak. Membayangkan masa perjuangan ibu. Saat beliau mengandung selama 9 bulan. Saat dia berjuang antara hidup dan mati, ketika melahirkan. Saat dengan sabar merawat kita dikala sakit. Saat dengan penuh cinta  membimbing kita saat belajar. Saat  dekapan hangat berbalut kasih,  menjelang kita tidur.

Saya tidak membayangkan, apa yang sedang terjadi pada sejumlah rekan yang ada saat itu. Mereka ada yang merunduk khusyu. Menengadah tegak. Bahkan, ada juga sendu, dengan beberapa saat kemudian, air matanya pun beriringan menetes, selaras dengan sejumlah untaian kata yang  tertuangkan dalam carik kertas yang ada saat itu.

Walau, ada juga, yang masih celangak-celinguk. Saya yakin. Bukan berarti tidak peka, tidak peduli, atau tidak  empati terhadap perjuangan ibu dan ayahnya di masa lalu. Tetapi, hilang kata-kata, bila dihadapkan kepada kedua sosok tersebut. Terlebih lagi, bila kedua orangtua kita sudah tiada.

Saya, adalah diantara orang yang cenderung pasif. Entah mengapa, disaat orang lain serius menuangkan gagasannya ke sepucuk surat, saya malah membayangkan posisiku, saat dihadapanku ibu, dan ayahku di masa lalu.

Aku masih ingat. Aku adalah anak yang paling manja dihadapan kedua orangtua. Aku banyak diam. Membisu. Tidak banyak kata. Ungkapan ibu, hampir seratus persen didengarkan. Walaupun, memang tidak selamanya terpahami. Kata-kata ayah, seratus persen disimak, walau tidak seluruhnya, dapat ditegakkan.  Aku banyak terdiam, dan terpana, dihadapan kedua orangtua.

Alasan itulah. Secara spontan. Diantara sekian peserta yang hadir saat itu, mungkin suratku lah, yang berbeda dengan mereka. Saat itu, aku hanya bisa membuat ilustrasi surat untuk ibuku, dan ayahku.

Dengan kedua pucuk surat itu, yang  kemudian direnungkan. Dibaca ulang. Kedua pucuk surat itu, masih tersimpan, kendati sempat kena  air wudlu saat shalat ashar, namun tetap terjaga isinya.

Sementara sejumlah surat orang lain, ada juga yang dibacakan didepan peserta diklat yang lainnya.

Entah mengapa. Setibanya di rumah.   Kedua pucuk surat itu, kemudian menjadi bagian dari gelora rasa, yang juga ingin dituangkan kembali dalam bentuk kata-kata.

Untukmu Ibu

Sore ini. Aku dihadapkan pada sebuah kerta putih. Untuk mencurahkan isi hatiku kepadamu. Untuk apa ? bukankah, kau tahu, kertas putih itulah, yang dulu kau hadapi. Kerta putih itulah, yang kemudian kau warnai. Dengan tinta kuning, hijau, biru. Kadang pula dengan warna merah. Hingga membentuk pelangi hidup dan kehidupanku serupa ini, sekarang ini.

Aku tahu. Aku bukanlah mas, bukan pula intan. Aku hanyalah lumpur dari ujung desa. Tetapi cintamu itulah, yang membentuku menjadi periuk yang indah, sebagai penyimpan air, penghapus dahaga.

Aku tahu. Aku bukanlah tembaga, bukan pula besi. Aku hanyalah kapas, halus lembut dan lemah. Tetapi dengan pintalan kasih dan sayangmu, terjalinkan kapas itu, hingga menjadi sutra nan indah, penutup aurat, dan penghias pengantin, penanda keagungan.

Aku tahu. Aku bukanlah kitab suci, juga bukan kalam Ilahi. Aku hanyalah kata, yang berserakan, hampir tidak bermakna. Dengan kesabaranmu, pazel huruf itu, kau susun dengan cinta, hingga menjadi puisi indah, bagi kita kehidupan ini.

Aku tahu. Aku bukanlah matahari, pun bukan bulan. Dengan kesungguhan hati, kau percikkan bakat dan kemampuanku yang mungil ini, hingga menyala menjadi pelita, saat dalam gelap, dan penyejuk di saat terang.

Aku bukanlah aku. Aku adalah amanah Tuhan, untuk melanjutkan pesan dan cintamu. Kepada sesama, dan juga lingkungan ini. Aku adalah anakmu, dan aku pun adalah miliki sejarah, tetapi aku akan tetap, mengingatmu.

Ibu,

Aku tidak akan menangis dihadapanmu.  Air mata ini, hanyalah tanda kebahagiaan, dan rasa bangga kepadamu,

Aku tidak akan merasa sedih dihadapanmu. Sedu sedannya jiwa ini, hanyalah tanda kerinduanku, akan kasih sayangmu.

Aku tidak akan merasa menyesal atas ulahku selama ini. Kepedihan  dalam hati ini, hanyalah rasa Maluku yang belum sanggup membayar  pengorbananmu selama ini.

Aku tidak resah dengan kepergianmu. Kegalauan selama ini, hanyalah tanda, harapanku untuk bisa selamanya denganmu.

Ayah,

Aku tidak akan menangis dihadapanmu. Air mata ini, pertanda kuasa alam, untuk tetap berani mengalir kemanapun, dan bagaimanapun bumi itu terbentuk.

Aku tidak akan meras sedih dihadapanmu. Sedu sedannya jiwa ini,  hanyalah tanda gelora usaha, untuk tetap setiap pada petitihmu.

Aku tidak akan merasa lemah dihadanpanmu.  Keringat ini adalah tanda kesungguhanku untuk tetap tegar  menjalani hidup.

Aku masih ingat. Aku tidak boleh menangis dihadapan masalah.

Sedihlah, jika kau mengikuti rasa lemahmu, dan kuatlah, saat kau berhadapan dengan peluangmu.

-o0o-

Itulah beberapa bait, yang muncul dalam pikiran, dan kemudian tertuangkan di sini.

Advertisements