Image result for mi'rajSebagaimana dapat dicermati bersama, dalam literatur kajian keilmuan Islam,  kita menemukan adanya kompleksitas persoalan tentang konstruks epistemologi Islam. Bahkan dalam batas-batas tertentu, terkesan seolah-olah adanya pertentangan antar alat indrawi, atau alat ilmu, atau premis empiris dengan premis transendental.

Pertentangan dan atau perbedaan aras pemikiran ini, pada dasarnya telah terjadi sejak dulu. Namun, tampaknya belum selesai pula sampai detik ini, atau setidaknya, perbincangan masalah ini, senantiasa mengundang kegairahan untuk terus berdialog dan membincangkannya. Dengan kata lain, kondisi ini kian mempertegas sebuah keyakinan manusia, bahwa dialektika pemikiran antara empirik dan idealisme atau materialisasi dan transendentalisasi merupakan isu klasik yang bisa muncul kapan saja.

Dengan memahami persoalan tersebut, dibutuhkan sebuah pewacaan yang intensif sehingga mampu menemukan sebuah sintesa pemikiran yang konstruktif untuk membangun tatanan nilai epistemologi Islam yang benar. Siapapun kita, dengan latar belakang keilmuan yang beragam-sekalipun, memiliki kesempatan yang sama dan terbuka untuk memberikan sumbangsaran dan pemikiran mengenai konstruksi keilmuan-keagamaan di masa kini, dan masa mendatang. Kiranya adalah bukan satu kekeliruan, bila kalangan ilmu sosial pun, atau ilmu alam pun, termasuk kalang filosof untuk berdialog dengan ahli agama dalam membicangkan masalah ini. Bahkan, nyata-nyata, dalam sejarah peradaban Islam, ragam ilmuwan sudah memberikan sumbangsaran dalam membangun pemikiran keagamaan Islam.

Tokoh yang paling dekat dengan kita, generasi muslim Indonesia, kita menemukan ahli sejarah Indonesia, Koentowidjoyo memberikan pemikiran mengenai Ilmu Sosial Profetis, dan Islam sebagai paradigma aksi. Kemudian, kita pun kenal Nurcholish Madjid yang memberikan pandangannya mengenai etika dan politik Islam. Rada jauh sedikit, di Pakistan ada Muhamamd Iqbal, selain dikenal sebagai sastrawan, juga filosof muslim yang memberikan sumbangan luar biasa terhadap perkembangan pemikiran Islam modern. Hal itu menunjukkan bahwa latar belakang keilmuan yang beragam, memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan pemikirannya terhadap kajian pemikiran keagamaan.

Dalam konteks itulah, wacana mengenai transformasi pemikiran ini, diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memahami salah satu sisi masalah epistemologi Islam. Kendatipun memang, pewacanaan kali inipun tidak bermaksud untuk (mengklaim mampu) menuntaskan masalah tersebut untuk saat ini, tetapi penulis anggap penting sebagai bagian dari pencaharian rumusan-pemikiran yang komprehensif.

Pada posisi dan memanfaatkan ruang peran seperti inilah, maka wacana ini perlu kita kedepankan. Dengan kata lain, wacana ini berusaha untuk urun rempug dalam mencari jalan keluar (way out) dari lorong kebingungan atau kekacauan tersebut. Tulisan ini mencoba untuk mengajak dan memahami pola pemikiran yang “berbeda” dari kebiasaan.
Jika kita membaca sejarah pemikiran masyarakat muslim saat ini, maka kita akan menemukan beberapa problema pembaharuan pemikiran dalam Islam. Salah satu penyakit yang terparah manusia saat ini, adalah berfikir stagnan atau jumud. Pemikirannya saat ini, seolah-olah telah sampai pada final pengetahuan, atau ujung dari sebuah kebenaran.

Sepanjang kita tidak menyadari kondisi pemikiran seperti ini, tidak mampu mengevaluasi pemikiran dan salah dalam memperlakukan pemikirannnya sendiri dan pemikiran orang lain, maka fanatisme, ketertutupan dan kejumudan akan menjadi bagian dari sisi kehidupan kita sendiri.

Dengan kata lain, sebagaimana kita kemukakan di bagian yang lain, bahwa masalah pemikiran manusia saat ini adalah cara berfikirnya itu sendiri. Oleh karena itu, mengkritisi nalar itu sendiri adalah satu modal awal untuk melakukan proses pembaharuan pemikiran dan pembaharuan masyarakat secara keseluruhannya. Dengan menyadari adanya ‘penjara’ nalar sebagai penghambat utama untuk melakukan pembaharuan, maka ilmuwan klasik dan kontemporer telah melakukan banyak analisis dan kritik terhadapnya.

Di lingkungan masyarakat Barat, Immanuel Kant dikenal sebagai tokoh utama dalam melakukan kritik nalar. Kant mampu memberikan paparan yang orisinal tentang pure reason dan practical reason. Dia menjelaskan tentang mind (jiwa) yang aktif. Dalam pemikirannya, jiwa bukanlah hanya kotak kosong untuk menyimpan data-data dari luar. Melainkan juga merupakan satu aktor yang mengetahui objek secara aktif. Dengan kata lain, rasio manusia dapat kita pahami sebagai sesuatu hal yang aktif bagi dirinya, dan juga rasio yang berinteraksi dengan ruang budaya di lingkungannya sendiri. Maka oleh karena itu, pola pemikiran manusia pada dasarnya dipahami oleh ilmuwan modern saat ini, sebagai sebuah konstruk dari realitas sosial. Asumsi yang demikian itulah, yang kemudian melahirkan disiplin ilmu sosiologi pengetahuan.

Pelajaran yang menarik dari pemikrian di atas, dan pentingnya untuk diperhatikan adalah adanya sebuah indikasi tentang rasio yang berinteraksi dengan nilai-nilai budaya. Pola pikir dalam konteks ini, merupakan sebuah reaksi atau respon terhadap stimulan yang ada di lingkungannya. Inilah pokok pikiran yang penting untuk ditekankan oleh kita saat ini.
Kemudian, tentang nalar Islam mendapat perhatian serius dari Mohammad Arkoun. Dalam hal ini, Arkoun memberikan paparan tentang kekeliruannya kelompok muslim dalam memahami Islam itu sendiri. Misalnya saja, tafsir Al-Qur’an dari seorang mufassir, atau fiqh Islam dari salah satu mazhab diposisikan sebagai korups tertutup, bahkan menduduki posisi yang suci layaknya Al-Qur’an itu sendiri. Sudah barang tentu, kita dapat melihat titik kekeliruan atau bias pemikiran budaya masyarakat kita ini. Kita tidak mampu melihat normatif dan esensialismenya kemulyaan Al-Qur’an dengan historisismenya tafsir atau fiqh mazhab.

Di sisi lain, Issa J. Boullota melakukan kritik terhadap nalar Arab . Boullata mengingatkan kepada kita tentang adanya kekeliruan antara Islam dan tradisi Arab. Padahal, kedua corak pikir tersebut, sudah jelas berbeda secara substansial. Di negeri Arabnya sendiri, ada sekelompok ilmuwan yang memandang bahwa tradisi lama Arab adalah tradisi Islam juga. Bahkan, memandang nilai-nilai tradisional Arab dianggap sebagai elemen dasar dalam memahami nilai Islam. Sehingga, masyarakat kita tidak memiliki kemampuan kritis terhadap nalar Islami dengan nalar Arab. Dengan kata lain, pemikiran Arab, telah mampu memberikan sumbangsih bagi proses pengembangan ilmu Islam, itu adalah benar dan tidak diragukan lagi. Namun, ummat Islam tetap harus membedakannya dari nalar Islam itu sendiri. Nalar Arab berbeda dengan nalar Islam.

Dengan latar teoritis dan praktik pemikiran seperti itu, maka ada satu kebutuhan mendasar bagi masyarakat Muslim Indonesia saat ini, yaitu untuk melakukan kritik ‘nalar etnis’ ke-Indonesiaan itu sendiri. Nalar etnis kita, perlu mendapat perhatian dan evaluasi yang kritis. Sebab, di dalamnya ada sejumlah persoalan dasar yang akan menjadi hambatan dalam proses pembaharuan pemikiran itu sendiri. Mochtar Lubis , dan Umar Kayam adalah sebagian dari intelektual Indonesia yang cukup sering melakukan kritik nalar etnis.

Beberapa alasan pentingnya kritik nalar-etnis, dilandasi oleh adanya (a) nalar sinkretisme masyarakat Islam Indonesia, (b) nalar skripturalisme dan atau kontekstualisme yang tidak proporsional, (c) nalar mazhabi yang telah mengakar dan berkarat di pola pikir muslim Indonesia, (d) etos kerja, atau mental budaya yang negatif semisal munafik, tidak menghargai kualitas, berfikir jalan pintas, dan (e) pola pikir nasionalisme yang sempit. Budaya pemikiran seperti itulah, yang menyumbang pada stagnannya pemikiran muslim di Indonesia.

Sebagai pemecahan masalah dari kondisi ini, maka dibutuhkan sebuah proses penghijrahan budaya dari budaya stagnan menuju budaya yang dinamis. Strategi penghijrahannya ini, kita sebutnya sebagai proses mi’raj aqli.

Advertisements