Hasil gambar untuk sekolah rusak

pendekatan yang timpang, bila pelayanan pendidikan diartikan, dengan penyediaan sarana belajar, tanpa memberikan sentuhan dan pembangunan komunikasi harmoni dengan simpul pendidikan di internal sekolah/madrasah tersebut.

Seorang duda tanpa anak, menikahi seorang janda beranak. Anak dari si janda itu, lebih dari satu. Cukup banyak. Ada lima orang, dengan karakter yang beda-beda. Anak pertama, laki-laki, dan cukup nakal. Anak kedua dan ketiga perempuan, pendiam. Sedangkan anak keempat, uniknya, termasuk anak laki-laki yang berpenampilan dewasa. Sementara si bungsu, dengan cap social yang sering melekat padanya, yaitu sedikit manja.

Latar belakang Sang Bapak, walaupun duda, memiliki kekuatan ekonomi yang kuat. Sehingga, memudahkan dirinya untuk memberikan jaminan ekonomi kepada keluarganya. Sayangnya, dia memiliki pilihan hidup yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh sang Ibu Janda.

Pada umumnya, seseorang menikahi seorang Janda, lebih disebabkan karena mencintai sang Janda tersebut, dengan sedikit kurang perhatian kepada anak-anak si Janda tersebut. Untuk kasus yang satu ini, agak berbeda. Sang Duda itu, malah lebih mencintai anak-anaknya, dibandingkan ibu dari anak-anak itu.  Sifat itulah, yang kemudian menjadikan awal dari problema dalam keluarga itu.

Pikiran dari Sang Duda itu, cukup unik. Dia berpikiran, jika anak-anak si Janda itu, senang, suka, dan mencintai dirinya, maka dia yakin, rumah tangganya akan lebih baik, dan sukses membangun keluarga yang bahagia. Oleh karena itu, dia berusaha keras memberikan layanan prima kepada anak-anaknya, dan memberikan fasilitas materi kepada anak-anaknya, walaupun sedikit abai terhadap istrinya sendiri.

Pertama, sang Bapak berpikiran bahwa menyediakan rumah dan kebutuhan rumah tangga, merupakan cara utama penunjukkan rasa tanggungjawab kepada keluarga. Dia berpandangan bahwa tugas serupa itulah, yang  menjadi tanggungjawabnya sebagai suami, atau bapak dari anak-anak dari Si Janda tersebut.

Pendekatan seperti itu, mirip dengan seorang  Kepala sekolah/Madrasah yang lebih memperhatikan pembangunan fisik, daripada pelayanan social kepada isi rumah. Pimpinan serupa itu, menganggap bahwa keberhasilan pimpinan, adalah menyediakan fasilitas dan kebutuhan fisik bagi keluarga besar sekolahnya sendiri.

Kedua, melayani anak-anak itu penting. Meraih cinta anak-anak dari istri kedua, itu adalah cara penting untuk membangun keluarga yang harmoni. Begitu pula dengan pimpinan sekolah. Pimpinan sekolah harus meraih simpati dari  peserta didik baru, yang baru dia tempati sekarang ini. Tetapi, cinta dan simpati anak, bukan satu-satunya komponen yang ada di keluarga tersebut.

Ketiga, kebutuhan rumah tangga terpenuhi, tetapi kasih sayang kepada sang istri tidak terpenuhi. Mau tidak mau, guru adalah ibu dari  para peserta didik di sekolah. Oleh karena itu, mengedepankan pelayanan kepada anak, tanpa memperhatikan kasih saying kepada guru, bukanlah cara strategis dalam membangun budaya sekolah yang sehat.

Melalui ilustrasi serupa itu, saya melihatnya, ada titik persoalan krusial, yang terdapat di sekolah tersebut. Pada sekolah itu, pimpinan sekolah, kurang memperhatikan aspek relationship dibandingkan dengan pelayanan fisik kepada anggota keluarga. Padahal, dalam manajemen modern, sentuhan relationship lebih kuat dan membekas untuk menyentuh perubahan budaya organisasi, dibandingkan dengan sentuhan fisik atau materi.

Adalah pendekatan yang timpang, bila pelayanan pendidikan diartikan, dengan penyediaan sarana belajar, tanpa memberikan sentuhan dan pembangunan komunikasi harmoni dengan simpul pendidikan di internal sekolah/madrasah tersebut.

Advertisements