Hasil gambar untuk wanita karir di rumahKesibukan seorang ibu yang ASN, atau keluarga ASN, sangat kompleks. Tarikan antara kepentingan pribadi, karir, dan keluarga, sangat terasa. idealnya, harus seimbang dan berjalan harmoni. tetapi, banyak kisah, kondisi itu kadang harus ada yang dikorbankan. 

Adzan subuh, biasa terdengar. Karena adzan subuh itu jugalah, Kanto bangun.  Istrinya lebih dulu bangun. Jika menggunakan kalender ibadah Subuh seorang muslim, mereka itu berarti bangun, kadang sekitar pukul 04.00, kadang pula sekitar pukul 4.30. Bergantung kalender ibadah.

Jadwal pagi hari itu, bukan hal yang aneh. Mandi pagi, masak-masik, buras-beres keadaan rumah, dan juga mempersiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah. Jika anak-anak sudah pada dewasa, itu masih mendingan. Sebagian pekerjaan sudah tergantikan oleh kegiatan mereka sendiri. Tetapi, bila anak-anak kita masih dibawah usia, atau masih manja kepada orangtuanya, maka agenda pagi hari seorang ibu, dan ayah, terasa sangat padat.

Kepadatan pekerjaan itu, bukan karena banyaknya pekerjaan itu. Pekerjaan itu tidaklah banyak. Pekerjaan rumah tangga serupa itu, adalah pekerjaan rutin, yang hampir setiap ibu rumah tangga miliki, dan lakukan. Kegiatan rutin harian. Ungkap seorang ibu, saat ditanya kesibukan pagi harinya.

Lantas apa yang menjadi penyebab, kesibukan itu menjadi sibuk-banget ?

Betul. Aspek penting yang menjadi sibuk itu, bukan jumlah pekerjaannya, tetapi waktu-mengerjakannya yang relative sempit. Jumlah pekerjaan yang melimpah dan segudang, tidak akan terasa banyak dan melelahkan, bila waktunya luang dan banyak. Tetapi, jumlah pekerjaan rutin rumah tangga itu, sangat terasa padat dan menyibukkan, karena harus terselesaikan untuk waktu kurang dari 1.30 menit.

Tak ubahnya serupa para peserta di Master Chief, dalam sebuah acara tv swasta di negeri kita. Mereka harus menuntaskan sejumlah pekerjaan memasak, dalam waktu yang kurang dari 1 jam. Dengan tekanan psikologis yang tinggi, tanggungjawab yang besar, dan juga dibawah pengawasan dewan juri yang tidak-pernah berhenti memberikan komentar, baik buruk maupun baik.

Pengawas ibu rumah tangga, sudah pasti anaknya. Jika telat, anak sudah menjerit. Jika terlalu cepat, anak belum siap makan dan mandi. Bila kurang disenangi, makanan akan dikomentari anak, dan bila membosankan, anak pun tak jarang memberikan sikap yang kurang kooperatif. Tidak mau makan.

Di lain pihak, waktu luang yang tersedia, sangat terbatas. Sekedar contoh. Tidak jarang, ada diantara kita yang masuk kerja sekitar pukul 6.30 WIB. Aparatur Sipil Negara di lembaga pendidikan, cukup banyak yang masuk kerja sekitar pukul itu. Jika rumah dekat, masih mendingan, bisa berangkat sekitar pukul 6.00 WIB. Itu artinya, waktu persiapan di rumah, hanya 1.30 jam, dari bagun pagi.

Sementara bila posisi rumah kita jauh, itu lebih merepotkan lagi. Ada sahabatku, yang harus berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB.  Untuk bisa seperti itu, bangun harus lebih pagi, dan persiapan diri di rumah harus lebih dini, dan resiko, anak sendiri kurang terpantau perkembangannya di pagi hari. Keberangkatan itu, dimaksudkan supaya bisa tepat waktu sampai ke kantor, dan tidak telat, dan tunjangan kinerja tidak dikurangi oleh Negara !

Situasi di Kota Bandung lain lagi ceritanya. Kendati sejumlah perkantoran, menetapkan aturan masuk kerja pukul 07.00 atau 08.00 WIB, namun para pekerja banyak yang berangkat pukul 05.00 WIB. Alasannya sangat sederhana, “berangkat lebih siang dari itu, akan terjebak macet yang parah, dan potensial kesiangan….”.

Cerita ini, belum digenapkan dengan kesibukan mengantar anak ke sekolah. Bila punya satu anak, dan lokasinya satu arah dengan tempat kerja. Masih mendingan. Lain cerita bila memiliki lebih dari satu anak, dengan sekolah yang berbeda-beda, serta lokasi sekolah yang berjauhan. Drama kehidupan, semakin kompleks !

Renung punya renungan, untuk mengantisipasi masalah ini, muncul sebuah pemikiran, “apa iya, setiap pegawai negeri butuh asisten rumah tangga, untuk membantu kelancaran pekerjaannya itu ?” pertanyaan ini, sempat muncul, terkait dengan seringnya pejabat Negara ngomel, bila kita kedapatan datang ke tempat kerja kesingan. Bukan malas, tetapi menyelesaikan pekerjaan rumah pun, sangat merepotkan.

“iya, butuh asisten rumah tangga ! tapi, pendapatan ASN sekelas kami, tidak cukup untuk semua itu…” komplikasi dari itu semua, pikiran tinggal sekedar pikiran, impian tinggal impian. Dengan rasa tanggungjawab kepada keluarga tetap tinggi,  maka resiko di omel atasan, tetaplah akan menjadi kisah harian di tempat kantor.

Advertisements