Hasil gambar untuk di sidang kartunTidak ada yang salah, jika kita menuntut keterangan yang benar kepada seorang ulama. Di manapun, dan kapanpun. Termasuk dalam hal ini, di meja persidangan. Bahkan, untuk yang terakhir itu, siapapun, dan dengan jabatan apapun, dituntut untuk bisa mengeluarkan pernyataan dan sikap yang benar, sesuai dengan norma hukum yang berlaku.

Bagaimana, jika kita meragukan keterangan seorang ulama, saat dia memberikan kesaksian ? layakkah, pernyataannya diuji, dikaji, dan dipertanyakan ? jawabannya, “perlu”. Sepanjang demi melakukan penggalian, dan menemukan informasi yang benar, maka siapapun, perlu digali informasinya, sampai pada titik yang meyakinkan.

Dalam posisi sebagai saksi, siapapun kita, termasuk ulama, pasti dihadapkan pada dua pilihan. Kebenaran dan kepalsuan. Informasi yang disampaikan seorang saksi, pasti dihadapkan pada persimpangan jalan dimaksud.

Manusia tetaplah manusia. Nalar  dan kepentingannya tidak oleh diabaikan. Sisi kemanusiaan, akan mengisi kehidupan manusia, yang kemudian melahirkan situasi seseorang bisa khilaf, lupa, atau abai terhadap nilai-nilai kebenearan, kebaikan, keindahan dan keadilan.

Ajaran Islam, sebagaimana yang dikemukakan Al-Ghazali pun, melihat ada ilmuwan hitam dan ilmuwan putih, atau ulama htam (ulama su’) dan ulama putih. Bukan hanya dipersidangan, di luar persidangan malah lebih kentara lagi. Elit agama, dengan kibaran partai atau organisasinya, rela secara terbuka untuk membela kekuasaan dan penguasa. Untuk hal yang satu ini,  bisa jadi, sikap dn laku itu, bisa terjerumus pada kelompok ulama hitam !

Hal pokok yang harus dikedepankan. Siapapun dia, baik itu menjadi tersangka, terdakwa, terlebih lagi, sekedar saksi, maka haruslah diperlakukan sebagai warga negara dengan segala kehormatannya. Etika penggalian data, dan informasi, harus tetap berada pada koridor hukum yang berlaku, tidak boleh main sadap tanpa ada kepatutan hukum yang melindunginya !

Advertisements