Related image“harus ke dokter…..” ungkapku, dalam hati. Pikiran itu terlintas dan tercetus kuat dalam hati, sesaat selepas mendengar bahwa anakku, sempat mengeluarkan darah dari mulutnya.

Suasana hati, sangat tidak menentu. Semangat kerja pun, hampir pupus dikarenakannya. Andai saja ada orang yang mengajak untuk bersikap prima dalam melayani, atau professional dalam kerja, maka ungkapan itu, akan menjadi ungkapan yang paling kubenci saat itu. Bencai bukan karena tidak mau, tetapi lebih disebabkan karena  kegalauan dan kegundahan yang tidak tara, terkait anak sendiri di rumah yang sedang sakit, lebih kuat daripada urusan pekerjaan tersebut.

Sudah tiga hari terakhir. Anakku demam. Jika malam tiba, suhu badan naik.  Diduga menyentuh angka 390C, atau mungkin lebih dari itu. Maklum, saat itu, thermometer keluarga, juga mendadak rusak. Entah dimana rimbanya.  Hingga pemantauan terhadap suhu tubuh anak, tidak terpantau dengan cermat. Hal yang sangat dirasakan, tubuhku pun bisa menghangat dibuatnya, bila kedapatan anakku yang bungsu meminta dipeluk.

Kepedihan semakin kuat dalam rasa, saat melihat anakku, tidak mau makan. Dalam sehari,  hanya satu atau dua suap nasi yang masuk ke dalam perutnya.  Jumlah itu bukanlah euphimisme. Tetapi itu benar-benar terjadi. Tidak lebih dari itu.  Cemilan, yang  biasanya terlalap habis dibuatnya, kini hanya beberapa butir saja yang bisa dikunyahnya.

Beruntung,  dalam beberapa waktu, jika anakku merasa kehausan, masih masuk minuman yang dianggapnya bisa menyegarkan atau menghilangkan rasa haus yang dirasakannya.

Akibat dari asupan yang terbatas, termasuknya juga nutrisi yang sangat kurang, tubuhnya melemah, melunglai, dan hanya bisa tergolek di hamparan kasur yang kerap dia minta  untuk istirahat. Di situlah, dua atau tiga hari terakhir, anakku lebih banyak membaringkan diri.

Naluri orangtua, kini hadir dan menguat. Toleransi terhadap rasa sakit dan panas anakku, terasa sudah diambang batas. Jika panas satu hari, saya masih anggap biasa. Dua hari, masih dalam kategori biasa. Tetapi, bila masuk hari ketiga, masih tidak mau turun panasnya, di sinilah, perasaan gundah itu hadir.

Di hari ketiga, pagi harinya itu, panas anakku masih berada pada posisi yang tidak normal. Inilah masa-masa krisis yang sangat menegangkan di hari itu. Kegalauan muncul, kian kuat, selepas mendapat informasi dari istriku, “dia minta makan mie ayam. Walaupun tadi siang, sempat mengeluarkan darah dari mulutnya….”. ungkapnya, saat bertemu di pertengahan jalan sewaktu dia mencari makanan yang dipesan anakku.

“Waduh, apa yang sedang terjadi pada anakku…” pikirnya, sembari mengencangkan larinya kendaraan roda dua yang ditunggai saat itu. Tak ada yang kepikiran saat itu, selain, cepat sampai ke rumah, dan membawa anak pergi ke dokter.

Tiba di rumah sekitar pukul 16.15 WIB.  Ini adalah waktu tersiang bagiku sampai di rumah. Karena setiap harinya, hampir tidak kurang dari pukul 17.00 WIB baru sampai menyapa kedua anakku yang ada di rumah.

Tidak berpikir panjang, selepas berbincang dengan istri dan merayu anakku untuk ke dokter, dan sore itu pun dibawanyalah ke dokter.

Seperti biasa. Antri di dokter bukan sesuatu yang menyenangkan. Alam poliklinik itu, seolah tidak bersahabat dengan rasa buru-buru dalam hati ini, yang bermaksud untuk mendapat pemeriksaan dari dokter.  Waktu berjalan terus. Entah berapa menit yang  sudah hilang percuma. Yang pasti, sewaktu pergi sekitar pukul 17.00 WIB, saat itu sudah terdengar alunan adzan isya dari sebuah masjid yang terdekat dari situ.

Anakku yang sedari sore itu panas, terselimut oleh jaketnya sendiri.  Mungkin itu salah. Bahkan, mungkin itu jugalah yang menyebabkan anakku kegerahan. Hingga  keringatnya keluar dari punggung dari tubuhnya.

Hingga tiba saatnya dipanggil untuk diperiksa. Dokter itu memberikan komentar, “tidak ada apa-apa. Tapi mungkin, bengkak karena dari giginya yang patah.” Ungkapnya, “Alhamdulillah, sehat, tidak ada masalah dengan anak bapak..”.

Terkulai sudah tanganku. Malam yang sempat menggelapkan jiwa, kini mulai menampakkan bintang di ruang angkasa. Udara yang sore tadi panas, sepanas tubuh anakku, kini kurasakan kembali hangat.

Bengkak di pipi kanan anakku, bukanlah, gejala  yang mengkhahwatirkan. Demam yang dirasakannya, lebih berupa infeksi karena giginya yang patah, dan kemudian membuatnya bengkak pada bagian pipinya. Sayangnya, semua itu tidak terpikirkan sebelumnya.

“Saat sang ahli berbicara. Ketenangan ini, mulai didapatnya lagi…”

Advertisements