Image result for jalan ditempatHal yang memprihatinkan, ragam gagasan yang sudah pernah muncul ke permukaan itu, seringkali hilang di tengah jalan. Bahkan, saya sendiri, kerap merasa bosan, untuk menyampaikan gagasan yang sejenis, untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, tetapi kemudian ternyata tidak pernah kelar-kelar.

“solusi kita yang tidak efektif… atau tidak pernah serius menerapkannya..” ujar seorang rekan di sebuah forum, saat membincangkan masalah kenakalan anak di kelas. “perasaan masalah ini, terus-terusan terjadi, dan berlarutr-larut…” paparnya lagi.

Ungkapan yang dihiasi oleh kekesalan itu, terasa dan mewarnai aura rapat dinas saat itu. Pimpinan sekolah, dengan staff-nya, kerap kali seolah cerdas dan cermat dalam menganalisis masalah. Mereka mengemukakan ragam masalah yang dihadapi, dan disampaikan kepada forum dengan penuh percaya diri, seolah sebagai sebuah hasil analisis yang cermat mengenai situasi dan kondisi pendidikan terakhir di sekolah itu.

Sementara di lain pihak, khususnya sejumlah guru, melihat dan merasakannya, sebagai sesuatu yang terus berputar. Berjalan ditempat. Bergerak di trademail. Berkeringat iya, tetapi tidak pernah berubah posisi dan  maju selangkah dari posisi awal.

“kita membicarakan masalah ini, hampir di setiap semester dan setiap tahun…” ungkap rekan yang lainnya, “tetapi, ternyata tidak pernah ada penyelesaiannya….”

Mendengar komentar dan ocehan para guru itu, pimpinan  sekolah menjawabnya dengan mudah dan enteng, “lho, kita kan dunia pendidikan, masalahnya ya pasti seputar ini terus…”  jawabnya, “hal penting kita tidak boleh kalah oleh masalah, harus sabar dan tidak boleh tergesa-gesa…..”. Sebuah argumentasi yang logis dan terasa paling tepat dalam menghadapi rangkaian sikap kritis para guru itu.

Jawaban serupa itu, bisa dipahami, dan para guru pun, menyadari akan hakikat pendidikan dan problema dunia pendidikan. Tetapi, jawaban serupa itu, bukan yang diinginkannya. Karena pada dasarnya, masalah dunia pendidikan bukan untuk sekedar dibahas, atau didiskusikan, tetapi harus diselesaikan.

Bila kita mengalami hal serupa itu, maka sekolah tersebut, mau tidak mau, tidak mengalami perkembangan, dan perubahan. Sekolah tersebut, hanya mengalami involusi pendidikan. Mengulas masalah yang sama, dan mengulang masalahnya kembali. Energy yang  dimiliki saat ini, habis terkuras untuk mengatasi masalah yang sama, dengan ujung yang tidak pernah selesai-selesai. Itulah involusi pendidikan.

Advertisements