Image result for anak menulis“jika kita bisa menulis di medsos, itu berarti kita memiliki potensi menjadi penulis. Jika kita bisa membicarakan sesuatu, berarti kita memiliki bahan untuk menulis”.  Itulah beberapa penggalan kalimat, yang disampaikan dalam diskusi jarak jauh dengan Anggota Agumapi.

Dalam kesempatan ini, saya mendapat kesempatan untuk menjadi bagian yang membincangkan masalah kita menjadi penulis. Tema besar, tetapi juga menarik.

Di sebut tema besar, karena sepintas lalu, atau dalam pikiran normal, saya berpikiran bahwa, tidak mungkin, hanya dengan satu pertemuan, atau satu pembicaraan kemudian kita, mendadak menjadi penulis. Tidaklah cukup untuk membahas tema Kita menjadi penulis dengan satu  pertemuan ini. Itulah yang saya pikirkan, dan saya rasakan saat menerima tawaran ini.

Tetapi pada sisi lain, saya merasa tertarik dan tertantang, dengan tema ini. Pemberi tema, seolah mengajak kita untuk mencari solusi dan alternative, untuk menjadi penulis dengan cara mudah dan cepat.  Dengan kata lain, tip dan trik mendadak menjadi penulis. Bisa  Gak ? inilah tantangan menariknya.

Sekedar ilustrasi, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan, kejadian remaja kita. Sempatkan kita merasa dan  bisa membuat surat cinta, puisi cinta atau sekedar cerita, saat kita jatuh cinta atau diputusin cinta ? bagaimana rasanya, saat kita mengungkapkan  perasaan itu ke dalam sebuah tulisan ? lancar atau mandeg ? apa bedanya, dengan saat bermaksud untuk membuat surat menyatakan cinta, apakah kita merasa lancar menuliskan atau mandeg ?

Dari pengalaman itu, kita bisa menemukan  beberapa kiat yang kiranya bisa dijadikan patokan. Untuk memudahkannya, saya akan memanfaatkan kata CINTA, sebagai patokan pemikiran dalam proses MENDADAK JADI PENULIS.

CINTA itu, singkatan dari Curhatan, inspirasi dari internal, nekad,  tekun, ambisius.

Pertama, menulislah apa yang dirasakan atau dipahami. Ini adalah tip penting dan perlu disadari oleh setiap calon penulis. Kita akan mengalami kemudahan yang luar biasa, saat menuliskan apa yang dirasakan, dipikirkan, atau dipahami. Ibarat anak muda yang baru jatuh cinta (dengan menulisnya).

Cara curhat ini, bisa juga disebut cara personal. Artinya, mengambil posisi sebagai orang pertama tunggal, sebagai penutur. Tulisan yang menggunakan pola ini, dia seolah sedang curhat. Curhat mengenai masalah belajar, masalah pendidikan, atau masalah apapun. Menulis cara personal ini, mirip dengan menulis cara curhat. Hal ini, akan jauh  lebih mudah dilakukan, dibandingkan dengan “cara ilmiah” atau referensial.

Kedua,  sumber inspirasi dari internal. Menulis atau menuliskan ragam hal yang diketahui, atau dirasakan, akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan yang tidak kuasai. Kewajiban seorang guru, untuk membuat Penelitian Tindakan Kelas, pada dasarnya harus mudah dilakukan. Karena pada dasarnya, penyusunan PTK itu adalah pengalaman yang dialaminya. Akan lain halnya, jika memang tidak membuat pengalaman unik dalam mengajar, maka menyusun PTK akan terasa sulit untuk dilakukan.

Tidak jauh berbeda dengan menuliskan perasaan jatuh cinta, atau derita putus cinta. Kedua pengalaman itu, factual dan actual dirasakan,  hampir setiap orang yang mengalaminya, akan merasa mudah untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Ketiga, Nekad. Kita tidak akan mengetahui keputusan pastinya, apakah cinta kita diterima atau ditolak, jika tidak nekad membuat surat cinta, atau menyatakan cinta kepadanya ?    begitu pula dengan menulis. Kita tidak akan tahu mengenai kualitas tulisan kita, baik atau kurang baik, jika belum pernah diwujudkan dalam bentuk tulisan.

Selama ini, banyak orang yang menilai dirinya tidak bisa menulis, atau tulisannya kurang baik, padahal belum pernah membuat karya tulis itu sendiri !

Maka dari itu, prinsip dasarnya, adalah  nekad untuk menulis. Tulis saja dulu ! jangan khawatir salah atau buruk. Kewajiban penulis adalah menulis, sedangkan penilaian terhadap tulisan kita, serahkan kepada pembaca. Karena, bisa jadi, tulisan yang kita tilai biasa-biasa saja, dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Dalam konteks ini, seorang yang jatuh cinta, biasanya, menuliskan perasaannya tidak pernah memikirkan mengenai ejaan atau ketatabahasaan. Dia ekspresif, menuliskan apa yang ingin ditulislan. Tidak banyak pertimbangan dari sisi teknis menulis. Oleh karena itu, jangan dulu terlalu banyak pertimbangan. Mumpung di computer itu, mudah dikoreksi, mudah dihapus, dan dikembangkan, jadi tuliskan dulu saja, apa yang ada dalam pikiran. Editan, dibelakangkan saja dulu.

Keempat, yaitu  Tekun.  Untuk sampai pada tujuan, dan bisa mendapatkan hasil  sesuai dengan yang diinginkan, kita harus melakukannya secara tekun.  Orang yang sedang jatuh cinta, akan secara rutin dan tekun mengingatnya, mengulanginya, dan mengerjakannya dengan sungguh hati. Begitulah dalam menulis !

Jika kita ingin menerapkan rasa cinta dalam menulis, maka tekunlah dalam menjalaninya. Ulangi kegiatan menulis, sampai tujuan kita berhasil. Jangan hanya sekali. Karena kalau sekali, belum menunjukkan kesungguhan dan belum menjadikan cinta sebagai energy penggeraknya.

Kelima, yaitu Ambisius. Orang yang sedang jatuh cinta, senantiasa memiliki ambisi kuat atau semangat untuk menuangkan hasrat, gagasannya ke dalam tulisan. Ambisi kuat, tidak akan berhenti sebelum cita-cita terwujud. Itulah cirri orang yang cinta (akan tulisan).

Berdasarkan pertimbangan itu, prinsip CINTA, atau semangat CINTA, rasanya, bisa dijadikan alternative, cara kita untuk mendadak menjadi penulis. Dengan rasa cinta, gelora, semangat, kesungguhan akan hadir dalam diri kita. Dengan rasa cinta menulis, tidak akan bosan untuk mengulanginya.

Pepatah mengatakan, cintai apa yang kita lakukan, dan lakukan apa yang kita cintai. Cinta atau passion adalah kunci pokok dan mendasar, yang bisa mengantarkan kita menjadi penulis. Begitulah cara kita untuk mendadak menjadi penulis !

*tema ini, disampaikan dalam diskusi jarak jauh dengan Angota AGUMAPI (Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia), 5 Januari 2016, pukul 20.00-21.00 WIB.

Advertisements