Image result for tahun baru 2017“Kau merayakan apa, dan untuk siapa ?” ujar, sang cicak, yang kemudian ditutup dengan “dar..dar..” ledakan kembang api di ruang angkasa.

“ssssst…byur…dar…..”

“ssssst…byur…dar…..”

Itulah suara kembang api, yang melesat ke ruang angkasa. Hampir perdetik.  Desingan, percikan dan ledakan kembang api di ruang angkasa itu terdengar. Oleh siapapun, yang melek di malam tahun baru. Suara itu, memecah malam yang sepi. Menerangi malam yang gelap, dan menggemuruhkan malam yang lugu.

Tidak hanya tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, pun, terjadi hal serupa. Tidak jauh berbeda. Dari sisi penghias angkasa, masihtetaplah sama dan serupa. Percikan warna-warni kembang api, menjadi aktof dominan yang menghiasi angkasa pergantian tahun baru.

Andaipun yang hendak disebut berubah, adalah suasana hati, atau orang-orang yang ada disamping kita. Siapapun kita, suasana batin, suasana social, suasana ekologis dan suasana budaya yang ada di sekitar kita itulah yang menjadi pembeda antara tahun ini, dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun sebelumnya. Ujung tahun masih benar-benar gelap. Sinaran tahun baru, pun belum menjadi cahaya penerang bagi masa depannya. Pada tahun sebelumnya, peralihan tahun tidak terasa istimewa. Kendati kembang api masih menyeruah ke angkasa, tetapi suara itu, kerap dirasa secara cekikikannnya melihat kemalangan yang belum berakhir.

Di tahun ini, suasana bathin sedikit berubah, atau malah berubah drastic. Pergantian tahun, benar-benar diharapkan menjadi sebuah pergantian suasana.  Pintu harapan mulai terbuka, bahkan cahaya mentari pun sudah tampak menyingsing lebih awal dibandingkan seharusnya.

Pada tahun sebelumnya, senyum ibu, tawa ayah, ketawanya kakak, cekikikannya adik, menjadi instrument tambahan disela-sela ledakan kembang api. Hadir bersama dengan kita. Duduk bersama di ruang tengah kita, dengan sesekali  keluar rumah, sambil menatap langit yang terang karena kembang api. Bahkan, sesekali pula, sempat berjalan keluar rumah, jalan-jalan menuju pusat keramaian, bergabung dengan peserta pesta akhir tahunan. Sumringah dan betah menghabiskan malam terakhir bersama.

Di tahun ini, sebagian diantara mereka tiada. Bukan pergir ke kampong halamannya, namun pergi ke  pangkuan Ilahi. Semburatnya percikan api, menjadi penggetar akan kerinduan kami, untuk bersama kembali handai taulan, bak keindahan yang sempat dinikmati pada tahun-tahun sebelumnya.

Masih terngiang dalam telinga. Pada tahun lalu, tangisan anakku yang tergugahkan karena ledakan kembang api di pinggir rumah. Sang bayi kaget, dan sempat menangis sesaat, yang kemudian dengan pelukan kasih dari ibunya, dia pun terlelap kembali. Di malam ini, dia malah sudah bisa menikmati perayaan tahun baru dengan suka cita. Dia khilap akan kekagetannya di malam hari karena ledakan. Ledakan kembang api, bukan lagi penggugah lelap tidur, malah menjadi penggugah rasa suka cita di malam terakhir tahun ini.

Pernah pula. Di tahun sebelumnya, perayaan tahun baru dipinggir pantai. Di depan penginapan. Di tengah balai kota. Di puncak gunung. Bahkan juga sempat sekedar di halaman luar rumah sendiri. Lingkungan perayaan tahun baru, kerap berubah seiring waktu, dan berganti sesuka hati. Hanyalah percikan kembang api, yang membuncah ke ruang angsa, yang setia menemai malam itu.

Diantara mereka yang tengah bahagia itu, ada seekor cicak di dinding, yang tetap berdecak.  Entah dia itu berdecak kagum akan kemeriahannya malam tahun baru, atau berdecak heran akan kelakukan manusia di malam terakhir ini. “Kau merayakan apa, dan untuk siapa ?” ujar, sang cicak, yang kemudian ditutup dengan “dar..dar..” ledakan kembang api di ruang angkasa.

Advertisements