Hasil gambar untuk main depan rumahJarang kita peka terhadap apa yang terjadi di tengah permainan social anak kita di depan rumah !

TETAPI,  bila kita sedikit meluangkan waktu untuk mencermatinya, kita akan menemukan beberapa point penting yang sedang terjadi pada anak kita saat bermain. Point-point itu, sangat penting untuk dicermati, karena secara tidak langsung, akan membentuk karakter anak kita hari ini, dan ke depan.

Pertama, diakui atau tidak, dirasakan atau tidak, pola komunikasi dan pergaulan anak di dalam rumah lebih homogeny dibandingkan dengan di luar rumah. Anak kita, misalnya yang sudah 6 atau 7 tahun, dia sudah merasakan pola komunikasi yang berulang selama hidupnya itu.

Selama 6 atau 7 tahun mereka mengamati dan merasakan. Karena itu, anak kita sudah terbiasa mendengar bahasa tutur kita. Anak kita sudah terbiasa melihat amalan kita. Anak-anak kita sudah akrab dengan karakter kita semua. Secara sosiologis, pola dan budaya ini, akan membangun ‘kenyamanan sosial’ atau ‘keajegan budaya’ bagi kehidupan anak.

Kenyamanan dan keajegan budaya itu, akan  menjadi masalah bagi anak kita, saat dia berusaha keluar dari rumahnya sendiri. Dia akan bertemu dengan orang dewasa, yang memiliki perbedaan karakter  dengan orangtuanya. Dia akan bertemua dengan anak-anak, yang berbeda karakter dengan anggota keluarganya sendiri.

Bila tidak dibiasakan, dan tidak terbiasa, maka anak kita, akan mengalami kegoncangana jiwa, dan ‘kegagalan diri’ dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Satu sisi bisa minder, dan penakut,  atau pada sisi lain, akan menjadikan ukuran kenyamanan budaya di dalam rumahnya menjadi acuan dalam mengomentari kehidupan luar.

Mirip dengan orang yang terbiasa hidup dalam rumah ber-AC, selepas keluar rumah tak ber-AC, dia akan merasa kegerahan. Itulah yang sata sebut kegoncangan mental, yang bisa menyebabkan seseorang salah menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kedua, lingkungan di luar rumah memiliki atmosfer yang berbeda dengan di dalam rumah. Baik atmosfer meteorologi (cuaca) maupun atmosfer social, akan berbeda dengan kondisi di dalam rumah. Di dalam rumah bisa dipasang AC, tetapi di luar  rumah, akan bertemu dengan cuaca alam nyata. Di dalam rumah bisa jadi, sudah tersusun baku etika dan pola interaksinya. Sementara di luar rumah, akan bertemu dengan kultur yang beragam, dan bahkan bertolak belakang.

Dalam konteks ini, berkenalan dengan lingkungan luar, pada dasarnya, membangun ketahanan mental, untuk bisa hidup di alam terbuka. Kehidupan di dalam rumah, adalah kehidupan yang ada dalam kendali control  orangtua,  sementara di luar rumah, adalah kehidupan nyata yang liar, dan terbuka.

Terakhir, diakui atau tidak, dirasakan atau tidak, anak kita, akan bertemu dengan hal-hal baru di luar rumah. Sekedar contoh kecil, karena bermain di luar rumah itulah, anakku kemudian melihat, dan menemukan ada permainan dan bentuk permainan baru, khususnya yang dibawa oleh teman-teman yang lainnya. Karena bergaul dengan temah di halaman rumah, anakku menemukan ada kosa-kata yang baru.

Berdasarkan hal itu, bermain di halaman rumah, memberikan rangsangan baru kepada anak kita, baik dari sisi kemampuan komunikasi, kosa kata, permainan, dan juga karakter. Mereka hadir dan dihadirkan dalam konteks lingkungan yang dinamis, yang akan menuntut dirinya aktif dan adaptif dengan perubahan.

Pengalaman ini, akan dirasakan berbeda dengan suasana kehidupan di rumah, yang relative sudah baku, karena diisi oleh aktor dan kelakuan yang sama  oleh si pengisi rumah !

Advertisements