Hasil gambar untuk mengajar di kelasMungkin sudah banyak yang tahu mengenai indicator dari seorang  guru yang professional. Untuk masalah ini, kita tidak perlu mengulasnya lebih jauh. Tetapi, sebagaimana yang saya rasakan sendiri, masih terbatas jumlahnya, yang tahu, atau paham menegai konstruk pengetahuan minimal  seorang guru.

Dalam kaitan ini, kita akan mencoba menampilkan standar pengetahuan umum seorang guru, menurut Schulman (1987). Gagasan ini, sebenarnya sudah lama dikemukakan, namun masih terbatas publikasinya, dan belum menjadi salah satu rujukan pengetahuan dasar seorang guru. [1]

Pertama, seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan mengenai pedagogic umum (general pedagogic). Pengetahuan ini, termasuk teori, prinsip, dan stratei manajemen kelas atau pengelolaan kelas/

Kedua, pengetahuan mengenai peserta didik dan karakternya. Di lapangan, kadang ada seorang tenaga pendidik yang tidak tahu jumlah peserta didik dalam satu kelas, siapa yang hadir dan tidak hadir, dan siapa peserta didik yang perlu mendapat perhatian khusus atau tidak. Semua pengetahuan itu, sejatinya harus menjadi pengetahuan minimal seorang guru.

Ketiga, pengetahuan mengenai konteks pendidikan. Mau tidak mau, terasa atau tidak, seorang guru pun dituntut memahami mengenai ragam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk mengenai pembiayaan pendidikan.

Seorang guru perlu paham, mengenai aturan dan pembiayaan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Termasuk didalamnya mengenai peraturan local atau pemerintah daerah, mengenai muatan local atau pembiayaan pendidikan era desentralisasi.

Keempat,  guru dituntut untuk memiliki pengetahuan mengenai tujuan pendidikan, nilai dasar pendidikan, filsafat pendidikan termasuk sejarah perkembangan penddiikan (Knowledge of educational ends, purposes, and values, and their philosophical and historical grounds).

Seorang  guru madrasah, akan terjebak pada kekeliruan layanan pendidikannya, bila tidak paham perbedaan filosofi pendidikan kemadrasahan, dengan pendidikan kedinasan atau pendidikan umum lainnya. Seorang pengajar di sekolah umum, akan terjebak pada kekeliruan, jika tidak memahami filosofi pendidikan umum dengan pendidikan kejuruan (vokasional). Oleh karena itu, pengetahuan mengenai tujuan dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting untuk dikuasai.

Kelima, pengetahuan isi (content knowledge). Tidak akan dapat melakukan layanan pendidikan, jika seorang  guru lemah dalam pengetahuan isi pembelajarannya.

Suatu hari, ada seorang siswa yang menyampaikan penilaian terhadap seorang  guru di suatu lembaga pendidikan. Menurut anak itu, “cara mengajarnya asyik dan menyenangkan, tetapi materinya minim. Lebih banyak cerita daripada pengetahuannya…” ungkapnyanya. Penjelasan itu, mungkin yang dimaksudkannya itu, guru tersebut cara mengajarnya bagus, tetapi pengetahuan mengenai kontennyta lemah. Sehingga  pembelajaran, kerap kali bolak-balik tanpa ada perkembangan pengetahuan yang positif.

Keenam, pengetahuan kekurikuluman (curriculum knowledge). Seorang tenaga pendidik, dituntut untuk memiliki pengetahuan dasar mengenai struktur kurikulum, silabus atau kompetensi dasar yang terkait dengan pembelajaran. Indikator dari kemampuannya itu, yaitu diwujudkan dengan hadirnya rencana pembelajara yang sistematis dan terdokumentasikan.

Terakhir, yaitu pendidikan pengetahuan isi (pedagogical content knowledge,  PCK.). Pendidikan  pengetahuan isi (PPI atau PCK), adalah keterampilan pedagogis seorang tenaga pendidik, yang mengelola sumberdaya pembelajaran, sehingga bisa mencapai tujuan pendidikan.

Tidak ada sekolah yang memiliki sumberdaya belajar yang sama-persis. Setiap sekolah memiliki keunikan sumberdaya belajarnya, terlebih lagi, bila dibandingkan antara sekolah di perkotaan dengan di pedesaan. Sementara dilain pihak, kendati sumberdaya belajar yang berbeda, mereka dihadapkan standar d n tuntutan kurikulum yang sama !

Seluruh lembaga pendidikan di Indonesia, pasti mengacu pada kurikulum nasional, atau sekarang dikenal dengan Kurikulum 2013 yang direvisi. Ini adalah fakta umum dan formal. Sementara di lain pihak, setiap  satuan pendidikan pun memiliki keunikan dan kekhususannya sendiri, termasuk yang ada di lingkungan pendidikan Kementerian Agama.

Merujuk pada hal itu, maka kompetensi tentang PCK menjadi sangat penting. Siapapun kita, dan dimanapun kita berada, dituntut terampilan dan kompeten untuk memberdayakan sumberdaya belajar di sekolah bersangkutan, untuk mencapai tujuan pendidikan sebagaimana diterakan dalam kurikulum nasional. Kita tidak boleh pasrah atau putus asa dengan lingkungan. Kita tetap harus mampu memberdakan sumbedaya lingkungan belajar di sekolah masing-masing, untuk pencapain tujuan pendidikan nasional. Itulah yang disebut kompetensi dalam PCK.

Daftar Pustaka

[1] Deborah Loewenberg Ball, Mark Hoover Thames, Geoffrey Phelps, Content Knowledge for Teaching , What Makes It Special?, Journal of Teacher Education, Volume 59 Number 5, November/ December 2008 389-407, © 2008 Sage Publications, 10.1177/0022487108324554, http://jte.sagepub.com, hosted at http://online.sagepub.com

Advertisements