Hasil gambar untuk cooperative learningModel Pembelajaran Kerjasama (cooperative Learning),  sudah menjadi pilihan teknik pembelajaran yang digemari di dunia pendidikan. Trend model pembelajaran ini, setidaknya dalam tiga decade terakhir saat ini. [1]

Salah satu nilai acuan yang menjadikan model pembelajaran ini popular, karena diduga memilik peran positif dalam mengembangkan kompetensi individual dan social peserta didik.

Melalui pembelajaran kerjasama (cooperative Learning), seorang peserta didik bisa belajar mengenai cara mengungkap isu, klarifikasi  dan juga menyusun ulang pemahamannya. Di forum kelompoknya, seorang siswa bisa mengajukan pertanyaan kepada rekan-rekan sekelompoknya sendiri mengenai sesuatu hal, sampai mereka semua memiliki pemahaman yang tepat terkait masalah yang didiskusikannya tersebut.

Sementara menurut (Barnes, 1969; Mercer, 1996), model pembelajaran kerjasama ini, memberikan pembiasaan dan pembelajaran kepada peserta didik untuk terbiasa mengembangkan keterampilan berbahasa, Seorang peserta didik, akan berusaha keras untuk menggunakan bahasanya untuk menyampaikan, mengajukan atau menjelaskan pengalamannya terkait dengan realitas, atau masalah yang sedang dikajinya. Bahkan, dalam konteks itu, dengan model pembelajaran ini, terbantukan untuk mengembangkan mode cara berfikir dan merasa.

Lebih dari itu, ketika peserta didik bekerjasama dalam pemnbelajaran, mereka akan menunjukkan peningkatan partisipasinya dalam diskusi kelompok. Setiap peserta didik akan berusaha untuk memanfaatkan peluang perannya dalam diskusi kelompok itu, seperti memberikan interupsi, atau koreksi terhadap pemahaman rekan sekelompoknya.  Nilai ini, sangat terasa saat kita memanfaatkan model pembelajaran kerjasama (Gillies, 2006; Webb & Farivar, 1999).

Hal yang tidak boleh diabaikan pula, dengan penerapan model pembelajaran kerjasama ini, akan lahir sebuah rasa tanggungjawab dari peserta didik, untuk mensukseskan tujuan atau target kelompok. Pembelajaran kerjasama, membangkitkan rasa solidaritas dan tanggungjawab peserta kepada kelompoknya.

Pada saat seseorang mengikuti kegiatan pembelajaran kerjasama, dia akan terangsang, dan dirangsang untuk mensukseskan tugas kelompok yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu, tepat jika dikatakan, bahwa model pembelajaran kerjasama ini, bukan saja, meningkatkan kompetensi individual, tetapi juga social, dan bukan saja masalah intelektual, tetapi kecerdasan sosialnya.

 

[1] Robyn M. Gillies*, Michael Boyle, Teachers’ reflections on cooperative learning: Issues of implementation, Teaching and Teacher Education 26 (2010) 933e940, journal homepage: http://www.elsevier.com/locate/tate

Advertisements