Hasil gambar untuk belajar onlineDalam keseharian kita. Hampir di setiap harinya, kita melihat peserta didik kita membawa dan menggunakan ponsel hp. Kendati kita tidak paham atau tidak mampu mengawasi cara dan bentuk penggunaan ponsel tersebut, namun dapat kita sederhanakan dengan prasangka positif kita, bahwa hari ini, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sudah biasa dan bisa digunakan oleh siapapun. Termasuk di dalamnya, oleh para peserta didik di jenjang pendidikan dasar dan menengah di persekolahan.

Seorang anak, membuka akses internet di rumahnya, dan kemudian bisa berkomunikasi dengan group sekelasnya, yang juga didalamnya ada wali kelas atau tenaga pendidik yang bersangkutan. Realitas itu, sudah bisa ditemukan di tengah-tengah kehidupan kita saat ini.

Fenomena ini, ternyata mendapat perhatian dari kalangan pendidik. Bukan dari sisi kontens pembelajarannya, namun dari sisi proses pembelajarannya. Adalah Salmon (2000) sebagaimana dikutip Elisabeth Skinner (2010), yang mencatat ada lima tahapan proses interaksi pembelajaran berbasis online. [1]

Dalam konteks ini, kita akan mengulas dan memberikan interpretasi kontekstual, dengan merujuk pada pandangan Salmon tersebut.

Pertama, seorang siswa berusaha untuk mengakses group diskusi.

Kedua, setiap siswa melakukan refleksi maksud dan tujuan, atau motivasi dari ikut bergabung dalam kelompok diskusi tersebut. Sebagaimana diketahui bersama, di dunia maya sekarang ini, kita dapat menemukan ragam jenis kelompok diskusi dengan tema yang sangat bervariasi.

Dari media ponsel saja, kita memiliki group virtual yang beragam, baik akademik, social, profesi atau sekedar hobi. Melalui Whatsap dan facebook misalnya, kita bisa memiliki group lebih dari satu. Sebelum berpartisi, setiap orang akan melakukan refleksi mengadap dia hadir dan bergabung dengan kelompok tersebut.

Ketiga, setiap peserta akan berusaha untuk mengetahui orang lain, karakter orang lain, sebelum mereka melakukan pertukaran informasi. Mengenai karakter anggota kelompok itu, dimaksudkan supaya bisa bertukar informasi yang berguna atau relevan dengan kajian atau kebutuhan anggota kelompok.

Keempat, setiap peserta berusaha untuk melakukan konstruksi terhadap pengetahuannya, dengan cara bertukar, dan mengevaluasi gagasannnya dari perspektif baru. Setiap peserta akan bertemu, dan mendapatkan ide, gagasan atau inspirasi dari orang lain.

Terakhir,   menurut Salmon, pada tahap ini, setiap students have the confidence to challenge and evaluate their own ideas as well as the ideas of others. Setiap peserta akan memiliki rasa percaya diri, untuk bisa tetap aktif dan berpatisipasi dalam group online itu. Sementara mereka yang tidak kuasa dalam group itu, ada kemungkinan menjadi pasif, dan atau malah merasa kurang cocok, dan kemudian mundur atau keluar dari groupnya.

[1] Elisabeth Skinner, Building Knowledge and Community  through Online Discussion. Journal of Geography in Higher Education, Vol. 31, No. 3, 381–391, September 2007, downloaded By: [Sudarma, Momon] At: 21:32 11 March 2010.

Advertisements