Hasil gambar untuk demo 212Sudah sepekan lalu, demo fenomenal 212 dilaksanakan. Diakui atau tidak, setuju atau tidak, demo superdamai 212 ini, merupakan bagian dari sejarah gerakan politik Muslim di Indonesia. Publik harus mencatat, dan sejarawan pun tidak boleh ketinggalan dalam menuliskan penggalan gerakan Umat Islam kali ini.

Di luar substansi yang tengah dipersoalkannya, gerakan politik kirana dapat kita sebut sebagai gerakan yang lebih mengedakan etika politik dibandingkan etika kekuasaan. Bagaimana hal itu, bisa terjadi dan bisa kita kemukakan di sini ?

Pertama, jelas  nyata, ketika kekuasaan dan penguasa memberikan sejumlah rambu-rambu, baik itu keharusan untuk damai, menjaga kebersihan, dan tidak ricuh. semua itu terjadi dan dikembangkan oleh peserta damai.

Kedua, ketika kekuasaan dan penguasa, meminta kejelasan dan ketegasan agenda sikap politik dari peserta demo, hal itu pun ditunjukkannya. Tidak ada aspirasi lain, dan sikap politik lain, diluar yang sudah disepakatinya. Demo 212 yang super damai, hanya mengusung agenda ibadah berjamaah dan aspirasi meminta negara untuk menegakkan keadilan kepada pelaku yang disangka melakukan penistaan. Dengan argumentas itu pula, maka masuk akal jika pihak kepolisian menganggap ada kelompok penyusup dalam demo 212 itu, bila membawa isu diluar yang sudah disepakati.

Ketiga, prasangka selama ini, bahwa ada demonstran bayaran, terbantahkan oleh fakta kehadiran peserta yang mencapai angka 7 jutaan. Angka ini fantastis, dan tidak rasional jika digerakkan oleh materi (uang). Saat transportasi dilarang, atau enggan mengangkut dari lokasi demonstran ke Jakarta, mereka sanggup untuk long march dari jarak yang tidak pendek.

Di luar itu semua, publik hendaknya paham, bahwa gerakan moral kemarin, menunjukkan bahwa umat Islam Indonesia masih ada, masih bisa bersatu, kendati diluar kendali elit politik. Saya malah menghawatirkan, jika menggunakan fenomena yang kemarin, saat elit politik banyak yang terkooptasi oleh kekuasaan dan kepentingan politiknya, termasuk elit muslim sendiri, maka fenomena kemarin menggambarkan bahwa umat memiliki fgur lain, diluar elit muslim yang ada di lingkaran pemerintahan dan partai politik.

Catatan ini perlu dipertegas, karena jika kita salah baca, pemerintah sekalipun akan keliru, dalam menangani kasus dan aspirasi publik atau aspirasi umat Islam. Dengan merujuk pada fenomena kemarin, pemerintah tidak cukup bila menyerap aspirasi umat Islam dari kelompok elit partai muslim atau elit muslim partai.

Mereka digerakkan oleh elit agama, itu Ya. Tetapi, mereka itu adalah elit agama nonpartai. Mereka adalah pembina umat, dan hadir di masyarakat. itulah yang saya sebut, elit rakyat dan bukan elit-partai atau penguasa.

Atau, jangan-jangan itulah yang disebut islam rakyat, muslim rakyat, yang memiliki kepentingan sendiri, dan merasa perlu berjuang sendiri. Sementara elit muslim atau islam elit, sudah nyaman dengan retorikanya sendiri.

Advertisements