Gambar terkaitLebih baik, hidup itu, bisa istirahat nyenyak dan pekerjaan beres.  Ini adalah pilihan terbaik diantara yang lainnya. Dan bahkan, kita tidak berharap, tidak bisa istirahat karena pekerjaan, atau istirahat melulu karena tidak ada pekerjaan…!!!!

Hari-hari seperti ini, terasa sangat lelah. Itulah yang banyak dikeluhkan, atau terucapkan dari lisan para guru yang baru saja menyelesaikan kegiatan Penilaian Akhir Semester, atau Ujian Akhir Semester istilah kurikulum sebelumnya. Para guru, yang biasa disebut pahlawan tanpa tanda jasa (entah masih cocok atau tidak), kini tengah sibuk memeriksa hasil penilaian, mengolah nilai, dan menuliskannya kembali dalam buku laporannya.

Sebagian diantaranya, memang ada juga yang santai. Bersantai ria dengan kebiasaannya sendiri. Disaat orang lain sibuk, malahan dia masih bersantai-santai saja. Bukan disela-sela kesibukannya, disaat orang  lain sibuk, dirinya tidak terlihat menyibukkan diri, dan tidak mau larut untuk bersibuk-sibuk.

Gejala itulah, yang menarik perhatian kita, khususnya saya, dalam menjelaskan rupa-rupa tingkah laku manusia saat menghadapi kesibukan kerja dengan kebutuhan untuk beristirahat. Kita semua setuju, bahwa kita bukan mesin, dan mesin bukan kita. Kita tidak bisa bekerja terus menerus. Kita butuh istirahat. Tetapi, kapan kita harus beristirahat ?

Pertama, ada orang yang isirahat sebelum kerja. Atau lebih ekstrimnya, dia bersantai ria sebelum kerja. Waktu dibiarkan berlalu, sementara pekerjaan tetap menumpuk. Saya khawatir ini, adalah sikap yang tidak jauh beda dengan menunda-masalah, yang akan berbuah numpuk masalah dan menjadi bom waktu.

Kedua, ada orang yang istirahat setelah kerja. Pikirannya praktis dan sekaligus taktis. selesaikan dulu masalah, barulah ambil cuti untuk istirahat.Sudah tentu, orang akan memandangnya sebagai cekatan gesit atau sok rajin. Tetapi, dengan cara itu, dia bisa menikmati siswa waktu dengan istirahat yang tenang.

Beda dengan yang pertama, orang kedua bisa tidur nyenyak, karena pekerjaan sudah selesai. Lelap tidurnya orang pertama, lebih merupakan menyimpan masalah, dan menumpuk masalah.

Ketiga, ada juga orang yang bisa istirahat sewaktu kerja.Jika salah tafsir dan salah pilih, orang seperti ini, akan dinilai lalai dalam bekerja, karena waktu kerja dibuat istirahat. Tetapi, jika memiliki cara strategis, orang seperti ini, efektif dalam memanfaatkan waktu, yaitu memanfaatkan sela-sela jeda kerja sebagai istirahatnya.

Seorang pejabat negara, sulit untuk bisa istirahat di kantor. Dalam satu hari, dia harus pergi ke sana, pergi ke sini, dengan jarak yang tidak dekat. Tidak ada waktu istirahat di rumah. Maka cara  yang paling tepatnya, adalah memanfaat  perjalanan panjang di kendaraan sebagai waktunya untuk istirahat.

Keempat, yang lebih unik lagi, yaitu ada yang bekerja di waktu istirahat. Kadang saya merasa kasian dengan orang seperti ini. Orang lain liburan panjang, dia harus bekerja. Orang lain istirahat, dia masih tetap bekerja. Waktu istirahatnya, digunakan sebagai waktu kerjanya.

Di luar empat masalah itu, seorang teman berkomentar, lebih baiknya lagi, hidup itu, bisa istirahat nyenyak dan pekerjaan beres.  Ini adalah pilihan terbaik diantara yang lainnya. Dan bahkan, kita tidak berharap, tidak bisa istirahat karena pekerjaan, atau istirahat melulu karena tidak ada pekerjaan…!!!!

Advertisements