Hasil gambar untuk bencana alamIndonesia adalah negara rawan ragam-bencana (mutilhazard atau multidisaster). Ini adalah sebuah fakta. Tidak bisa diingkari, tetapi juga tidak boleh diabaikan oleh siapapun. Hal pokok, adalah bagaimana kita mensikapi realitas geografik, dan realitas geologis negeri kita ini. Ini adalah kunci, dan sekaligus pekerjaan rumah kita hari ini dan masa depan.

Salah satu pekerjaan berat dalam merespon realitas geografik dan realitas geologis ini, yaitu melakukan penataan ulang pasca bencana. Seperti yang terjadi akhir bulan tahun ini, yakni pasca bencana gempa di kawasan Pidie  Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Kita patut bersyukur, gerak cepat dari sejumlah elemen masyarakat, dan pemerintah sudah tampak dalam membantu dan menanggulangi pascabencana gempa ini.  Penanganan itu, mulai dari aspek pencarian dan evakuasi korban, penanganan infrastuktur daerah, dan penanganan krisis air, makanan dan kesehatan masyarakat korban bencana.

Tanpa mengurangi rasa simpati dan prihatin kita kepada masyarakat korban bencana, kejadian ini pada dasarnya, dapat “dimanfaatkan” sebagai proses pembelajaran atau lebih tepatnya praktek pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Khusus untuk mahasiswa geologi, atau mahasiswa departemen pendidikan geografi, kiranya dapat memanfaatkan kesempatan ini sebagai peluang pengabdian (mohon maaf, maksudnya belajar menerapkan)  pengetahuan dan wawasan kemitigasian bencana alam di kehidupan nyata.

Di bangku kuliahnya, mereka (mahasiswa departemen pendidikan geografi, dan geologi) belajar mengenai mitigasi bencana. Terlebih lagi, bagi mahasiswa departemen pendidikan geografi,  mereka pun belajar mengenai didaktik dan metodik mengenai  pembelajaran mitigasi bencana. Oleh karena itu, sangat tepat kiranya, bila mereka itu, diberi beban untuk menjadi  relawan dalam konteks penanganan bencana di berbagai daerah di Indonesia,  seperti di Aceh kali ini.

Kebutuhan akan personil untuk mendirikan posko penanganan masalah traumatic pasca bencana, selain memutuhkan peran psikiater, perawat lapangan, juga mereka yang memiliki wawasan mengenai mitigasi bencana.  Sinergi antara mahasiswa keperawatan, psikologi dan departemen pendidikan geografi, selain mematangkan pengalaman dan pengetahuan mereka, juga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan  masalah di daerah bencana.

Advertisements