“kalau kita berbicara mengenai perilaku siswa di dalam kelas, apakah bisa masuk dalam kategori kajian geografi ?” ujar seorang instruktur dalam sebuah pembekalan kepada peserta seminar. Sebuah pertanyaan yang pada mulanya bersifat retoris, dan pembuka wacana, malah kemudian memancing diskusi yang cukup intens dikalangan para peserta.

Pertanyaan itu diajukan dalam sebuah forum ilmiah. Acaranya disebutnya seminar pendalaman materi ajar geografi bagi tenaga pengajar di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Peserta yang hadir saat itu, adalah kalangan guru geografi dari sejumlah sekolah perwakilan yang berasal dari ragam sekolah yang ada di Propinsi Jawa Barat dan Banten.

Hasil gambar untuk bertamu

Saat merespon pertanyaan itu, satu orang mengatakan, “bukan, tetapi cenderung ke kajian pendidikan”. Satu pendapat lagi, “tidak, tetapi cenderung kepada kajian psikologi..”. Dengan lantang dan penuh percaya diri, yang lain pun ada yang  berpendapat, bahwa “gejala itu, hanya bisa dikaji oleh sosiologi pendidikan.”

Hampir tidak ada yang mencoba untuk menerima kajian itu sebagai sebuah  kajian geografik. Sebagai orang yang hadir dalam ruangan itu, agak sedikit terusik dan gelisah melihat  kenyataan itu. Mengapa, kajian mengenai keunikan dan keragaman perilaku siswa dalam sebuah kelas, tidak bisa dikaji geografi ? mengapa hal itu bisa terjadi !

Terhadap masalah ini, dan terkait dengan kasus serupa ini, menarik saya untuk sampai pada pemikiran mengenai problema filosofis kegeografian itu sendiri. Kesimpangsiuran atau keraguan kita  memahami masalah ini, bisa berawal dari kelemahan kita dalam mengartikan  hakikat geografi dan karakter kajian geografi itu sendiri.

Pertama, jika memang geografi itu mempelajari masalah fenomena di muka bumi, apakah keunikan perilaku siswa di dalam kelas bukan fenomena di muka bumi ? jika, bukan, lantas masuk kategori fenomena apa, dan jika masuk, maka mengapa tidak bisa dikaji geografi ?!

Kedua, geografi itu mempelajari masalah keruangan (spatial), pertanyaannya, apakah ruang kelas bukan sebuah ‘ruang’ (space atau spatial)? Jika bukan, apa makna spatial dan bagaimana ukurannnya ? jika masuk kategori spatial, mengapa tidak bisa dikaji geografi ?

Terakhir, jika geografi itu mempelajari interaksi antara manusia dengan ruang, apakah di dalam ruang kelas tidak ada keunikan interaksi antara manusia dengan ruang ? jika tidak, gejala apa yang sedang terjadi ? dan jika itu memang terjadi interaksi antara manusia dengan ruang, mengapa tidak bisa dikaji geografi ?

Sekali lagi,  diantara kita pasti ada yang menarik makna dan hakikat geografi mengenai kajian keruangan, dan makna keruangan itu, adalah keruangan di muka bumi secara luas.

Ok !

Saya setuju. Selama ini, kita lebih mengacu dan mengarah pada makan keruangan yang bersifat kewilayahan, region atau lingkungan, dan bukan dalam ukuran yang sempit, seperti di kelas atau di dalam ruangan gedung. Sehingga, kita dapat melakukan kritik dan penolakan terhadap tema yang kita ajukan di awal tulisan ini.

Saya memahami hal itu, dan itu bisa dimaklumi. Tetapi, melalui jawaban seperti itu juga, saya melihat bahwa problema awal dan mendasar dari jawaban itu, adalah perbedaan pemahaman mengenai hakikat geografi, dan sekaligus ketidaktegasan mengenai makna keruangan itu sendiri.

Tetapi percayalah. Saudara-saudara yang menolak kajian itu sebagai kajian geografi, pun, akan mengalami kesulitan untuk merumuskan batas geografi dari ruang, region atau wilayah itu sendiri.  Andaipun bermaksud untuk memberikan jawaban mengenai batasan ruang, paling cuma sampai pada titik pembeda antara satu region dengan region yang lain.

Percayalah, untuk jawaban seperti itu pun, saya anggap sebagai sesuatu yang masih ambigu, ngambang, dan kurang memberikan penjelasan. Karena ternyata, lingkungan di ruang tamu, akan berbeda dengan ruang kerja, dan ruang kelas.

Perdebatan itu memang menghabiskan energy intelektual yang tidak sedikit, dan waktu yang dihabiskan cukup banyak. Kian lama melakukan dialog, bukan malah mengikis kepenasaranan, malahan semakin memperdalam kepenasaranan terhadap pemahaman sendiri, tentang hakikat geografi.

Mungkin jadi, sebagian diantara mereka ada yang sudah bulat mengambil keputusan untuk menerima atau menolaknya sebagai kajian geografi. Tetapi, dalam konteks itu, saya malah kepikiran mengenai satu sisi yang terasa sebagai masalah mendasar dan menyelimuti pemikiran kami saat itu.

Sekali lagi perlu ditegaskan, atau setidaknya, saya mengajukan pandangan bahwa kita perlu mendalami ulang mengenai hakikat geografi, hakikat pendidikan geografi, dan termasuk di dalamnya mengenai objek kajian geografi. Sudah tentu, membincangkan masalah itu, membutuhkan waktu dan ruang diskusi yang panjang dan intensif. Tetapi, untuk sekedar mengawali diskusi kita di sini, saya ingin mengajak pembaca untuk bisa membedakan dua wilayah kajian geografi, ke dalam dua jenis yaitu geografi mikro dan  geografi makro.

Geografi makro dimaksudkan untuk wilayah atau region terbuka di muka bumi. Sedangkan geogrfi mikro untuk ruang-ruang terbatas, seperti di ruang kelas, ruangan rumah, ruang rumah sakit, atau ruang istirahat.  Sementara kajian yang selama ini dikembangkan, saya sebutnya, lebih mengaju pada geografi makro, seperti geografi desa, geografi kota, geografi pertambangan, geografi budaya dan lain sebagainya.

Advertisements