Geografi adalah disiplin ilmu yang berfokus pada dunia nyata “the real world”. Dunia nyata dilihatnya sebagai gejala yang terhubungkan antar fenomena yang ada di muka bumi. Kehadiran GIS (Geographic Information System) sejal tahun 1990-an, membantu dan mendorong perkembangan pesat kajian geografi mengenai fenomena muka bumi, termasuk dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Salah satu penerapan praktis,  pemanfaatan disiplin ilmu geografi itu, yakni dalam memberikan kontribusi terhadap para pengambil kebijakan, khususnya kepolisian, dalam menangani masalah kriminalitas.[1]

Hasil gambar untuk animasi kriminalitasMenurut Smith dan Wilson (2008), setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dikembangkan geografi. Pertama, mengembangkan aplikasi teknologi informasi untuk melakukan pemetaan kriminalitas dan keamanan public. Teknologi pemetaan (mapping), adalah tools yang penting bagi seorang pengambil kebijakan untuk memahami sebaran, dan prevalensi kejahatan atau keamanan public di wilayah kewenangannya.

Kedua, yakni memanfaatkan geografi terapan dalam memahami dan mendeskripsikan masalah kriminalitas. Secara teoritik, geografik memiliki ragam perspektif (Momon Sudarma, 2015). Variasi perspektif ini, bisa dimanfaatkan untuk menganalisis dan memahami gejala kriminalitas yang terjadi di sekitar kita.

Seperti halnya, saat membaca kasus kebakaran hutan, melalui pemetaan atau SIG ini, kita bisa melihat titik-pusat kejadian (hot spots), dan juga titik-lokasi rawan kejahatan (hot places).  Informasi ini penting, bagi seorang petugas kemananan dan pemerintah, untuk melokalisir dan sekaligus menetapkan target pengamanan dan  penegakkan hokum.

-o0o-

[1] Kurt Smith dan Ron Wilson,  What Is Applied Geography for the Study of Crime and Public Safety?,  A Quarterly Bulletin of Applied Geography for the Study of Crime & Public Safety, Volume 1 Issue 1, March 2008,

 

Advertisements