Suatu sore. Anakku, mengajak bermain olahraga. Olahraga di dalam kamar. Main tinju-tinju. Pada mulanya, dia melepaskan pukulannya ke telapak tanganku. Satu dua kali, masih kuat. Selepas beberapa kali dilepaskannya, kepalan tanganku mulai terasa sakit.

Untuk menghindari rasa sakit, kemudian, aku memanfaatkan beberapa boneka yang ada di kamar tidur anakku, sebagai kanvasnya. Sasaran pukulan dari anak-anakku. Boneka yang ku gunakan itu, yaitu boneka kuda pony dan boneka McQueen, si pembalap dalam kartun Cars.

“ayah, gak boleh pakai itu….” Pekik anakku, yang bungsu. Walaupun usianya baru 7 tahun, tetapi suaranya sudah lantang dan keras, “Ae sayang kuda Pony..” ungkapnya lagi.  Sikap serupa ditunjukkan pula oleh kakaknya, yang sangat mengagumi dan mencintai boneka McQueen. “kalau, dipukul-pukul, nantinya rusak. Sayang…”

Singkat cerita, permainan tinju-tinjuan itu, tidak jadi menggunakan kanvas, karena dilarang oleh kedua anakku tadi. Permainan pun, kemudian dihentikan, karena tanganku tak kuasa menahan rasa sakit pukulan kedua anakku. Permainan dengan kedua anakku, kemudian dialihkan ke model yang lain, yaitu main kemah-kemahan di dalam kamar.

Ada yang menarik dari kasus itu. Saya sendiri, sebelumnya tidak merasakan sesuatu yang aneh. Hanya, selepas beberapa saat berlalu, saya baru nyadar mengenai arti dari Cinta.

Dengan meminjam pengalaman dan sikap kedua anakku, saya berani menarik kesimpulan, bahwa cinta itu adalah rasa tanggungjawab, dan kesediaan untuk merawat. Cinta tidak diarahkan untuk merusak, atau mengganggu kenyamanan orang lain. Jangankan orang, barang sekalipun, diimpikannya tidak boleh rusak, dan tidak boleh dirusak. Itulah yang disebut cinta.

Sehubungan hal itu, ketahuilah dengan sebaik-baiknya, apakah pernyataan cinta yang kita kemukakan itu, membuat sasaran (orang yang kita maksud) menjadi nyaman, atau terganggu ? apakah, dengan pernyataan cinta yang kita berikat itu, kemudian pelajarannya terganggu ? karirnya terganggu ? kesehatannya terganggu ? akhlaknya terganggu ? atau kehormatannya terganggu ?

Bila sikap kita, tindakan kita, atau perilaku kita, menyebabkan orang yang kita cintai terganggu, sejatinya, tindakan dan perbuatan kita, belumlah sampai pada derajat cinta yang baik. Kita masih egois. Kita hanya mau mencari kepuasan sendiri, tetapi dengan cara mengorbankan kebaikan, karir, kesehatan, atau pelajaran orang yang kita anggap cinta !

Advertisements