Biarkan harapan itu menyala, menghangatkan, dan  mencerahkan. Dan biarkan Tuhan yang menetapkan takdir kapan api itu harus padam, atau menyala untuk selamanya !

Hasil gambar untuk lilin ulang tahun“di luar ekspektasi…” itulah, salah satu celetukan yang muncul dari anak-anak OSIS Terampil, saat menyajikan kue ulang tahun kepada pembinanya. Semula, mereka berharap mendapat ‘luapan emosional’ yang membahana, malah mendapat sebuah siraman pagi yang menyejukkan.

Di depan pengurus OSIS Terampil MAN 2 Kota Bandung, terungkap sabda pembinanya :

Saya, termasuk orang yang tidak berani meniup api lilin ulang tahun.

Andai api lilin itu, adalah emosi, tidak ada keharusan bagi kita untuk memadamkannya. Karena kehilangan emosi, akan mematikan gairah di dalam menjalani kehidupan.

Andaipun nyalanya api itu, membuat kita kepanasan, aturlah sedemikian rupa sehingga, api   harus tetap menyala, dan mampu memberikan kehangatan, dan bukan membakar tubuh.

Demikian pula, bila api lilin itu cercah harapan, maka janganlah ada upaya sengaja dari kita untuk memadamkan.

Biarkan harapan itu menyala, menghangatkan, dan  mencerahkan. Dan biarkan Tuhan yang menetapkan takdir kapan api itu harus padam, atau menyala untuk selamanya !

Terima kasih, atas semua orang yang sudah mengingatkan tentang hari kelahiranku. Dengan peringatan itu,  kita kembali diingatkan mengenai hakikat hidup dan kehidupan.

Bukan dari apa kita dilahirkan, melainkan akan berbuat apa setelah kita dilahirkan ?

Bukan dari siapa kita dilahirkan, tetapi kita akan melahirkan generasi seperti siapa ?

Bukan bagaimana kita dilahirkan, melainkan memikirkan bagaimana kita setelah dilahirkan ?

Jangan bertanya, mengapa kita lahir, tetapi, mengapa kita dilahirkan ? kelahiran kita adalah  takdir Tuhan, tetapi kita dilahirkan,  menuntut ada peran nyata kita dalam kehidupan.

Jangan bertanya, dimana kita dilahirkan, melainkan tanyalah dimana kita akan mengabdikan diri ?

Jangan bertanya, kapan kita dilahirkan, melainkan tanyalah kapan kita memulai peran nyata setelah dilahirkan ?

Rangkaian pertanyaan itu, kendati sifatnya spontan, tetapi mampu menghentakkan dan sempat menghentikan detak jantung diantara kami. Entah semua orang, atau hanya saya sendiri yang merasakannya, renungan saat itu, menjadi kejutan diri dalam mengartikan hari kelahiran.

Advertisements