Sebagai guru mah, kita kerap dihadapkan pada masalah praktis di lapangan. Beda dengan pengalaman dan wawasan yang dimiliki oleh para pengawas, peneliti atau pengambil kebijakan.  Bagi  guru di lapangan, kita ini, dihadapkan pada tantangan, hambatan, gangguan dan juga peluang yang ada.

Hasil gambar untuk belajar outdoorPagi-pagi, di hari Guru, istriku mengunggah sebuah wallpaper dari media social lainnya. Isi dari  pesan itu, tertulis pernyataan, “guru yang baik itu,  adalah orang yang mengajar dari hati, bukan dari buku”. Ungkapan ini, menarik dan rasanya perlu mendapat cermatan dari para guru di lapangan.

Dari unggahan itu, setidaknya ada tiga masalah kunci yang harus dicermati, yaitu (1) kriteria guru yang baik, (2) mengajar dengan hati, dan (3) terindikasi ada yang  mengajar dengan buku.

Kita tidak akan mengulas mengenai kriteria guru yang baik, mengajar dengan hati, melainkan mengkritisi mengenai kesalahan kita dalam memanfaatkan buku sebagai sumber pembelajaran.

 

Informasi itu  dan hari guru hari ini, menjadi momentum dan sekaligus penyadaran yang tepat, untuk kita yang berprofesi sebagai guru. Karena memang, pada dasarnya, kita ini, bukan hadir untuk menyampaikan informasi kepada peserta didik, melainkan membantunya untuk menjadi pribadi yang dewasa, dan mampu menghadapi tantangan zaman, minimalnya hidup aktif di lingkungannya !

Kerap kali, kita kesal, jika ada peserta didik yang tidak mampu menguasai keterampilan atau informasi yang kita berikan kepadanya. Ketidakberdayaan anak itu, bukan memancing kita untuk meningkatkan rasa kasih dan cinta kepada anak, malah membuat kesal dan kita berusaha untuk menjauh darinya, atau menjauhkannya dari lingkungan kita.

Mari kita renungkan ulang, tugas kita, bukan untuk menjadikan anak kita menguasasi informasi yang ada di buku, melainkan untuk menjadi pribadi yang bisa hidup di lingkungannya.

Sehubungan hal itu, jelaslah, model pendekatan kontekstual dalam pembelajaran adalah sangat penting. Dengan pendekatan kontekstual, seeseorang bisa paham mengenai apa yang ada di sekitarnya, dan bisa beradaptasi terhadap dinamika lingkungannya sendiri.

Secara umum, saya ingin menegaskan, bahwa kecerdasan seorang guru dalam memanfaatkan lingkungan, dan membangun kompetensi praktis peserta didik sesuai dengan lingkungannya, merupakan indikasi penting bagi guru yang paham mengenai geografi kompetensi.  Karena pada dasarnya,  kebutuhan satu daerah akan berbeda dengan kebutuhan daerah yang lainnya.

Advertisements