Akhir tahun pelajaran sudah kian  mendekat. Bagi sejumlah orangtua, khususnya mereka yang memiliki putra-putrinya duduk ditingkat akhir di pendidikan dasar dan menengah, sudah mulai mengernyitkan dahi. Bukan memikirkan masalah biaya pendidikan (saja), hal yang paling mendasar adalah menemukan sekolah yang cocok untuk putra-putrinya.

Hasil gambarAdalah isa dipahami. Dalam tradisi pemasaran tradisional, pemasaran disandarkan pada kebutuhan (need) manusia. Karena ada kebutuhan itu, kemudian melahirkan ada permintaan (demand). Tetapi, apakah teori seperti ini, bisa diterapkan untuk memotret gairah orangtua menyekolahkan anak-anaknya ?!

Bisa “ya”, bisa juga “tidak”.

Disebut “ya”, karena pemilihan sekolah sebagaimana yang dilakukan para orangtua, diartikan sebagai sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk memberikan pengalaman belajar dan kemampuan dasar hidup (life skill) bagi anaknya. Seorang orang tua bermaksud baik, yaitu untuk memberikan pendidikan terbaik kepada putri-putranya.  Karena itu, menurut pandangan ini,  pengambilan keputusan menyekolahkan anak ke sekolah berbiaya mahal pun, atau ke pesantren yang berbiaya mahal pun, adalah bentuk dari respon orangtua terhadap kebutuhan anaknya tersebut.

Tetapi, bila dicermati dengan seksama, apakah gejala seperti itu, menunjukkan gejala normal dalam sebuah praktek ekonomi yang disandarkan pada kebutuhan-permintaan, yang kemudian mendorong perilaku ekonomi (pendidikan) tersebut ?

Mau tidak mau, salah satu pertanyaan dasar yang bisa diajukan adalah, “siapa yang memiliki kebutuhan tersebut ?”

Andaipun telaahan ini belum cermat, namun mari cermati bersama dengan seksama. Menetapkan pilihan ke sekolah A atau sekolah B, disandarkan pada kebutuhan anak, atau kebutuhan orangtua ?

Tidak selamanya ! itu jawaban moderat kita. Tidak selamanya,  pilihan orangtua sejalan dengan pilihan anak. Seorang anak  memilih ke sekolah A, orangtuanya ingin ke sekolah B.  Pada kasus lain, sikap anak yang pasif, di sekolahkan ke manapun, ikut pandangan orangtua saja. Di beberapa kasus, ada iming-imingan jaminan kerja dari seniornya (orangtua, kakak, atau  paman/bibi) yang kemudian mendorong anak itu, mau menjalani pendidikan di sekolah tertentu.

Bila gejala terakhir ini, terjadi pada diri kita, maka nyata sudah bahwa ‘pemilihan tempat belajar itu bukan berbasiskan pada kebutuhan anak”, melainkan atas kepentingan di luar kebutuhan anak. Pemilihan tempat belajar, lebih merupakan respon orang dewasa terhadap imajinasinya yang ditularkan kepada anaknya itu sendiri.

Lebih krusial lagi, bila kemudian, pilihan tempat belajar itu, bukan karena kebutuhan tetapi dalam rangka memenuhi citra social, gengsi, atau status social.  Sebagai orang yang mampu secara ekonomi, kemudian menyekolahkan anaknya ke sekolah mahal.  Supaya masuk dalam kategori kelompok sosialita atas, kemudian mengambil tempat belajar yang elit.

Sekali lagi,  dengan memahami gejala yang terakhir tadi, saya melihat bahwa perilaku orangtua sebagai konsumen pendidikan, lebih digerakkan oleh hasrat, tinimbang kebutuhan untuk belajar. Dalam konteks ini, para pemasar pendidikan, pada dasarnya juga, menjadi kelompok yang memanfaatkan hasrat orangtua, dalam mengembangkan pendidikan berbiaya mahalnya !

Advertisements