Pengalaman pertama, dan nilai kebahagiaan yang tiada terhingga. Sebagai alumni dari Depdik Geografi UPI, hari itu kembali dengan posisi sebagai alumni dan pengurus IKA alumni Depdik Geografi UPI untuk berbicara mengenai kurikulum  Departemen Pendidikan Geografi UPI.

Menurut anggota Divisi Kurikulum dan Evaluasi Pendiidkan UPI, secara kelembagaan UPI tengah melakukan program revitalisasi kurikulum departemennya di lingkungan UPI. Kita melihatnya, program ini sebagai gerakan dan gebrakan mendasar, selaras dengan Nawa Cita dari Pemerintahan Jokowi, atau revolusi mentalnya Jokowi-JK.

Dede Rochmat, Guru Besar Depdik Geografi UPI, menegaskan, bahwa agenda revitalisasi ini, menandakan ada sesuatu yang vital, yang sudah perlu dievalusi. Agenda itu, sejatinya mengantarkan kita pada (a) pengkajian ulang mengenai hakikat dari tujuan kita, dan (2) reorientasi tujuan depdik di UPI, terhadap kebutuhan dan tantangan zaman.

Sebagai lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), memiliki kewajiban moral untuk menjaga –meminjam istilah Dr. Mamat Rukhimat,–marwah Departemen. Kita  berkewajiban untuk tegak dan konsisten dengan visi melahirkan –meminjam istilah Ketua Depdik Geografi, Ahmad Yani, guru atau tenaga pendidik. Di tengah-tengah perkembangan dan perubahan zaman ini,   UPI atau LPTK, perlu responsive terhadap kebutuhan zaman, tetapi teguh dengan identitasnya dirinya sebagai LPTK yang melahirkan tenaga pendidik.

Dalam konteks itulah, desakan melahirkan Departemen Non Kependidikan baik di UPI, atau di LPTK lainnya, hendaknya tidak menggusur atau membuyarkan identitas ke LPTK-an.  Latar belakang yang dikedepankannya, selain untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di Indonesia, yang tidak akan hilang,  dan malah membutuhkan adanya pembinana dan peningkatan kualitas tenaga pendidik.

“kebutuhan guru itu tidak akan pernah hilang, tetapi mungkin perlu pembatasan…” ungkapku dalam salah satu sesi tanya jawab.  Membludaknya lulusan, tanpa melihat kebutuhan dan keterserapan, akan melahirkan pengangguran intelektual. Satu sisi kita butuh standarisasi kompetensi, dan sisi lain, sertifikasi profesi harus terus ditingkatkan.”

Tantangan zaman, dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah, juga mendorong kesadaran akademik dan moral lembaga pendidikan, untuk melakukan perbaikan dan pembaharuan, sehingga tetap mampu merespon tuntutan zaman.

Advertisements