“kecerdasaan saja tidak cukup, dan merasa cukup dengan kecerdasan, adalah sebuah sikap yang berbahaya…” demikianlah, pernyataan tegas dari Edward de Bono (2007).[1]

Hasil gambar untuk cerdasSaya jadi ingat, pengalaman diri ini saat mengendari roda dua. Sewaktu sudah menggunakan Honda Revo keluaran 2015, kecepatan laju kendaraan masih sama seperti saat masih menggunakan Honda ’70. Dalam kaitan itu, saya sempat bertanya, apakah semua itu terkait dengan jenis kendaraan, kualitas kendaraan atau keterampilan mengendarainya ?

Jawaban kita, pastinya sepakat, semua itu lebih merupakan ‘keterampilan mengendarai kendaraan’.

Demikian pulalah dengan kecerdasan. Kecerdasan adalah potensi berpikir manusia, sedangkan kualitas seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasan (intelligence)-nya, melainkan oleh keterampilan berpikirnya (thinking skill) atau keterampilan mengendarai kecerdasannya itu sendiri. Keterampilan berpikir itu, tidak lahir “ujug-ujug”, tetapi harus dilatih atau diberdayakan.

Edward de Bono, mengingkatkan kepada kita, bahwa berdasarkan pengamatannya selama ini, dia melihat banyak orang yang intelligensinya tinggi, tetapi menjadi pemikir yang buruk. Bahkan, ada yang  intelligensinya biasa saja, tetapi menjadi pemikir yang baik.

Salah satu kunci dalam memahami wacana ini, yakni adanya tuntutan kepada setiap orang untuk memiliki keterampilan berpikir. Kecerdasan  saja tidak cukup, karena setiap kecerdasan potensial membutuhkan keterampilan berpikir cerdas sehingga benar-benar menjadi pribadi yang cerdas.

[1] Edward de Bono, Intelligence is not Enough, Ireland : Blackhall Publishing, 2007.

Advertisements