Setiap orang memiliki mimpi. Besar atau kecil mimpi itu,  setiap orang berharap bahwa mimpi yang diimpikan itu menjadi kenyataan di hari esok. Tetapi, apakah impian itu akan menjadi kenyataan, atau akan tetap menjadi mimpi dihari-hari hidupnya di kemudian hari ?[1]

Sungguh amat sangat malang  nasib orang tertentu, yang menganggap bahwa mimpinya akan datang menghampirinya dan mewujud menjadi sebuah kenyataan. Mimpi tetaplah mimpi. Mimpi hanya akan berubah menjadi kenyataan, bila si pemimpi  bertekad untuk mengubahnya.

Dalam kaitan itulah, Rubin dan Avery Gold, bermaksud untuk berbagi pengalaman dan pemahaman mengenai memasarkan mimpi. Hal uniknya, memasarkan mimpi itu harus dilakukan oleh diri sendiri, dan strategi pemasaran mimpinya mengacu pada nilai-nilai kearifan local yang sudah tumbuhkembang 5000 tahun yang lalu, yakni falsafah China, dank arena itu, disebutnya sebagai spirit  naga.

Dibagian muka, kedua penulis sudah menegaskan diri, bahwa wacana ini, dipersembahkan untuk Zentrepreneur (entrepreneur berbasis nilai-nilai Zen). Nilai-nilai Zen yang diajukannya itu,  ada 12 poin nilai Zen.

Pertama, mimpi (zuomeng).  Mimpi itu, bukanlah dia, melainkan kita (us). Karena itu, mimpi harus  didukung oleh antusiasme dalam mewujudkannya. Mimpilah yang besar, sehingga kita terdorong untuk bekerja secara maksimal.

Kedua, gairah (reqing). Lukislah gariah Anda, dan tunjukkan warna tintanya.  Berikan label kepada diri kita, sesuai dengan gairah yang ingin kita wujudkan. Berkat Sang Naga, segala sesuatu menjadi luar biasa, dan penuh warna.

Ketiga, ketabahan (jianyi). Kehebatan sang Naga, bukan pada kekuatannya, tetapi pada keteguhan. Karena teguh, sesuatu menjadi kuat, dan hebat.

Keempat, keyakinan (xinxin). Keyakinan kuat, membangun rasa percaya diri. Karena, seseorang yang bisa melihat seekor naga, adalah mereka yang merasa yakin bahwa dirinya bisa.

Kelima, Individualitas (gexing). Naiknya naga ke langit, merupakan kemegahan yang tiada tanding. Naga hadir karena kediriannya. Seseorang maju, karena keunikan dirinya dalam mewujudkan impiannya.

Keenam, kata-kata (chuanbu). Ketika ada berita seekor naga muncul, setiap orang sibuk mencari keberadaannya. Karena itu, pukullah gong, biarkan gaungnya bertahan. Dengan suara, bisa menjadi asyik, juga berisik. Dengan kata, bisa menjadi bara atau cahaya.

Ketujuh, pandangan ke depan (yuanjian). Naga  meraih takdirnya, dengan cara menciptakannya. Buatlah takdir oleh tanganmu sendiri. Buatlah rancangan takdir, biarkan Tuhan untuk memilih dan menghapus usaha kita yang dianggap tidak cocok dengan takdir kita.

Kedelapan Pengetahuan (zhishi).  Kecemerlangan naga, hanya kalah oleh bintang dilangit.  Biarkanlah Bintang Pagi menyalakan cahayanya.

Kesembilan, melakukan yang baik (shanxing). Seekor naga, mengubah tindakan menjadi baik, dan perbuatan baik menjadi kewajiban.

Kesepuluh, ikuti kebahagiaan Anda (suiyi). Seekor naga yang tidak pernah memberikan sayap pada hatinya tidak akan pernah terbang.

Kesebelas, persiapan diri Anda (zixiu). Tanpa praktek yang benar, seekor naga tidak akan pernah hidup.

Keduabelas, perjalanan (lucheng). Hidup adalah perjalanan, maka jalanilah, karena sesungguhnya Naga yang sudah terbiasa terbang, akan tahu bahwa tidak ada jalan yang tanpa jalur.

[1] Rob Rubin dan Stuart Avery Gold, Dragon Spirit, BIP : Gramedia, Jakarta, 2004

Advertisements