http://baltyra.com/wp-content/uploads/2011/06/Ini benar-benar sebuah kejadian yang luar biasa. Luar biasa menurut persepsi sendiri, setidaknya sesuai dengan pengalaman yang baru saja teralami.

Aku merasakannya. Ini adalah sebuah pengalaman luar biasa. Hari ini, ditengah teriknya matahari menyinar, aku harus menunggu dipinggir trotoar, dibahu jalan.

Sendiri. Itulah sosiologi penantian. Menanti sesuatu, biasanya adalah sebuah pengalaman pribadi, sendirian. Akan lain ceritanya, pelangi hidup akan mudah terlihat berbeda warna, jika kita menantikan sesuatu secara bareng-barengan.

Tetapi, percayalah. Kendati kita menunggu sesuatu secara barengan, ekpekstasi, harapan, impian, pemaknaan, termasuk kegelisahannya sebuah penantian, akan terasa amat sangat subjektif.

Seperti hari itu. Di bahu jalan, aku memang tidak sendirian. Beberapa warga pun, ada yang tengah duduk-duduk di bangku trotoral yang disedikana Negara, dan ada pula yang tengah asyik membaca-baca Koran yang kelihatannya sudah lusuh dibolak-balik, sakingnya seringnya dibaca, tetap yang ditunggu belum juga tiba.

Ada juga, mereka hadir ditrotoar itu, sambil cekakak-cekikik dengan teman dekatnya. Entah pacar. Entah istri, entah tunangan, entah saudara. Aku hampir tidak peduli pada hubungan pribadi  mereka. Bahkan, andaipun aku mau, dan ada teman, daripada tercenung sendirian, menanti sesuatu yang belum jelas, mendingan cekakak-cekikikan seperti anak muda tersebut. sayangnya, impian itu sekedar impian, karena nyatanya, aku sedang sendirian menunggu sesuatu yang rencananya akan tiba !

Minggu lalu, sesungguhnya sudah pernah  bertemu. Ya, sahabatku, dan juga rekan organisasiku. MInggu lalu berjanji, kebutuhan organisasi akan dituntaskannya secepat mungkin. Tetapi, tempo hari, malah belum sedikitpun dikerjakan.

Alasan itulah, kemarin menjanjikan, bahwa pekerjaan yang hampir tertuda sebulan lamanya, hampir terbawa hanyut oleh angin kelupaan, diharapkan bisa hadir hari ini, sebagaimana yang dijanjikannya.

Penantian akan melahirkan sebuah kegelisahan yang menyenangkan, manakala terjanjikan akan hadir pelangi ke hadapannya. Penantian akan menjadi gerbang kebahagiaan, andaikata, cakrawala kehidupan yang luas akan dibuka.

“Sobat…, lagi nunggu ya…..?!” sapa seorang lelaki muda, yang seketika hadir di sampingku. Lamunanku pun, terhenyak. Tergugah, dan sedikit malu dibuatnya.

“kok bisa, dia membaca perasaan kegundahan dihati ini…” gumamku. Sahabat lelaku muda, yang baru kenal itu, tertangkap matanya, sangat kuat dan berkharisma. Tanpa berani untuk menjawab dengan lisan. Senyuman dikulum dalam bibir yang selama ini termanga dalam lamunanlah, yang bisa terkirimkan kepadanya sebagai sebuah pesan pengiyaan.

“jangan, gelisah..”nasihatnya padaku, “menanti adalah salah satu seni dalam hidup….”ungkapnya. “menanti, adalah riakan jiwa,  yang bisa menguatkan kebahagiaan…”.

Kebahagiaan yang datang secara spontan, akan menjadi sebuah kenangan. Kebahagiaan yang direncanakan, serta datang sesuai dengan yang sudah dinantikan sebelumnya, akan menjadi jalan pembuka bagi hadirnya kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya.

“Hai sahabat…” sapanya, “lihatlah, kakek yang satu itu,…”ungkapnya sambil menunjuk ke seberanga jalan. “dia itu menjalani hidup, sambil menunggu datangnya kematian. Dia juga adalah penunggu, penanti, sebagaimana yang tengah kita lakukan saat ini…”

Aku tersentak dibuatnya. “bedanya, dia menunggu sesuatu yang pasti datang, walaupun waktunya tidak pernah pasti. Karena itulah, si Kakek masih tetap bertingkah seperti biasanya, seolah tiada sesuatu pun yang sedang dinantikannya.” Paparnya.

“hai Sahabat,..” sapanya lagi, “lihatlah, anak kecil yang ada dibalik pagar rumah diseberang jalan itu…” ungkapnya sambil menunjuk seorang anak dibawah usia, berdiri tegak dibalik pagar, sambil senyam senyum, dan bolak balik di halaman rumah, “dia pun, sedang menunggu. Menunggu orangtuanya pulang dari kantor. Dia adalah sama seperti kita, menunggu sesuatu, sebagaimana yang kita lakukan saat ini…”.

Aku tersentak dibuatnya. “bedangnya, anak kecil itu  tengah menunggu sesuatu yang sudah pasti, dengan rentang waktu yang bisa diprediks. Karena itu, wajar,  kendati sedikit gelisah, tetapi dia cerita menanti kedatangan orangtuanya… …”

“Hai Sahabat..”dia masih juga menyapaku, “perhatikanlah dirimu sendiri. Apa yang kau tunggu, dan apa yang kau nantikan…?” ungkapnya, seolah menginterogasi diri ini. “Apakah kau menunggu sesuatu yang pasti, tetapi tidak pasti waktunya, atau sesuatu yang pasti, dan memiliki sedikit kepastian waktunya…?

Aku tersentak dibuatnya. “Aku tidak tahu…”ungkapku secara lirih. Tidak kuasa untuk menjawab, dan tidak percaya diri untuk mengungkapkannya.

“Hai Sahabat…”dia menyapaku lagi, “lihatlah anak muda itu. Dia baru lulus dari SMA kemarin hari. Dia pun, sudah sedang menjadi salah satu orang yang tengah menunggu sesuatu. Menunggu kepastian, apakah dia lulus seleksi masuk perguruan tinggi atau tidak.. Dia pun sama dengan kita, yakni menjadi orang yang tengah menunggu. Menunggu sesuatu……”

Aku tersentak dibuatnya, “bedanya, mereka menunggu sesuatu yang pasti datang, tetapi tidak pasti keputusannya.  Esok hari pengumanan, pasti datang. Tetapi, tidak pasti mengenai  takdir  pendidikannya di masa depannya. Penantian serupa itu pun, melahirkan sebuah kegelisahan dan kegundahan, dikalangan anak muda usia.

“Hai sahabat…..”, sekali lagi, dia menyapaku, “lihatlah dirimu sendiri. Apa yang kau tunggu, dan mengapa kau termenung di sini…?”, berondongan pertanyaannya, membuatku main tak kuasa untuk memberikan jawabannya.

Lama sudah terdiam.  Dalam hatiku, diam bukanlah diam. Dia, adalah jeda untuk menentukan langkah selanjutnya. Seperti yang juga saat itu teralami. Aku terdiam, tetapi diam untuk mengambil jeda mencari celah dan sisi jawaban yang bisa kusampaikan kepadanya.

Beberapa detik sudah berlalu. Bahkan sejumlah menit pun sudah terhabiskan. Tidak ada yang sia-sia, kendati aku dalam keadaan diam. Karena kemudian aku bisa tersenyum dan berujar, “Aha !…”

“Aha,….” Kini akau pun melihat sebuah gejala yang serupa, yang juga sedang aku rasakan. Hingga aku berani balik bertanya kepadanya, “hai sahabat, apa yang membuatmu bertanya begitu kepadaku…”

Kini bukan aku yang tersentak. Kini bukan aku yang tercengang. Kini giliran dia yang berpikir, dan memikirkan, tentang apa yang sedang terjadi saat itu.

“Hai sahabatku…” tanyaku kepadanya, “aku kini balik bertanya kepadamu, ..”ungkapku,. “apa yang membuatmu menyusun berondongan pertanyaan itu kepadaku?”

“Aku bertanya, karena aku menunggu jawaban darimu, mengenai apa yang sedang kau tunggu…” jawabnya.

“Sadarilah itu. “paparku, “seorang penunggu, paling rajin mengumbar Tanya dan bahkan mempertanyakan alam. Mengapa begini. Mengapa begitu. Kapan dia datang, apa masalahnya..dan lain sebagainya..” itu adalah ciri dari seorang penunggu. “Aku Tanya lagi, mengapa kau buat bertanyaan sebanyak itu kepadaku…?”

Dia tersentak, dan kemudian menjawab, “karena aku tidak sabar, berharap segera hadir jawaban dari mu…” ungkapnya dengan tandas.

“ya, itulah kehidupan. Orang yang menunggu, berharap ada keputusan dengan segera. Ketidaksabaran, hadir dan menghampirinya setiap saat. Jika galau dan putus asa, hasilnya akan sangat memprihatinkan. Sedangkan jika ada kesediaan untuk meluangkan waktu lebih dari sebelumnya, maka hasil akan dapat dipastikan.”

“hai sahabat, “ tegurku lagi padanya, “menanti sesuatu itu, adalah  gelombang hidup. Jika terlalu keras melawannya, kita bisa tenggelam dibuatnya. Jika terlalu lemah, pun demikian adanya..”

Advertisements