Tubuh manusia atau human body adalah salah satu bagian yang tetap menjadi misteri bagi kehidupan manusia. Membicarakan tubuh manusia, kadang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraannya mengenai jiwa (soul). Tetapi, untuk konteks wacana ini, dan dibab ini, kita tidak akan menggeser wacana ini, ke arah tersebut.  Wacana kita hari ini, tetap akan berkonsentrasi untuk membicarakan masalah tubuh (body) manusia itu sendiri.

Pertama, dan mungkin pandangan inilah yang mendominasi pemikiran manusia modern, yakni memosisikan tubuh manusia ibarat mesin.  Jika kita melihat  kendaraan ‘mobil’, misalnya, tubuh manusia itu adalah fisik dari kendaraan tersebut. Untuk bisa bergerak, kita memang butuh bensin atau energy. Itu benar. Tetapi, pandangan pertama yang, akan ditegaskan di sini, tubuh manusia itu, ibarat mesin mobil itu sendiri. Kerusakan dalam satu organ mesin, pada dasarnya bisa dioperasi, dibongkar, dan diganti dengan onderdil lainnya.

Praktek bedah, adalah praktek montir menservis kendaraan. Seorang dokter bedah, bak seorang montir mobil melakukan bongkar pasang onderdil mesin mobil. Praktek pengelasan, penyambungan, pemotongan, atau penggantian onderdil adalah hal yang bisa dilakukan seorang dokter dengan organ tubuh manusia yang dianggap sedang rusak atau sakit.

Sakit dalam konteks itu, dapat diartikan adanya gangguan terhadap system mesin atau fungsi mesin-tubuh manusia. Untuk kembali menyehatkannya, yaitu menghilangkan penyebab rusak mesinnya, atau mengganti onderdilnya. Praktek itu dilakukan oleh seorang dokter di ruang-bedahnya.

Bila memang, organ tubuh manusia itu sama seperti halnya onderdil kendaraan, bagaimana kita mengartikan fenomena DNA ? atau teknologi klonning ? atau, bagaimana kita mengartikan syarat manusia yang memiliki karakter khusus dalam menjaga identitas kemanusiaan ?

Seseorang yang syarat sosialnya rusak, diketahui memiliki masalah dalam masalah sosialnya. Kemudian, seseorang yang suka mabuk, yang kemudian menyebabkan otaknya atau syarafnya rusak, ternyata mengalami masalah dalam komunikasi atau kediriannya sebagai manusia ?

Dengan fakta-fakta baru itu, kritik terhadap pemahaman bahwa tubuh manusia adalah mesin ‘mati’ sebagaimana mesin kendaraan menjadi sangat kuat.  Tubuh manusia terdiri dari organ-organ tubuh, itu adalah pandangan yang benar. Tetapi, organ tubuh manusia tidak bisa diartikan sama seperti halnya onderdil kendaraan.

Kritikan inilah, yang kemudian melahirkan kesadaran bahwa tubuh-manusia itu, tidak-bersifat material, melainkan juga bersifat organism. Dalam sel tubuh manusia, ada informasi yang kemudian akan berfungsi menjadikan berkembangnya pribadi manusia dan kemanusiaan. DNA, adalah bukti konkrit bahwa ‘bagian dari tubuh manusia’ ini menyimpan informasi lengkap mengenai kedirian manusia.

Temuan mengenai DNA, dan berkembangnya neurologi,  kemudian merangsang berkembangnya praktek layanan kesehatan yang ‘tidak memisahkan antara tubuh dan jiwa”. Dalam pemahaman modern, tubuh manusia tidak bisa diposisikan sebagai benda mati, bak mesin atau onderdil kendaraan, karena  setiap  bagian tubuh manusia memiliki simpanan informasi yang mendukung pada kemanusiaan itu sendiri.

Pandangan-pandangan itu, kita sebut pandangan yang diametral, atau beraduhadapan. Pandangan pertama, kita sebut pandangan mekanis, yang memosisikan organ tubuh sebagai onderdil dari mesin manusia. Sementara pandangan kedua, kita sebut pandangan organic, yang memandang tubuh sebagai system penggenap dari jiwa manusia.

Advertisements