http://uc.blogdetik.com/801/80112/files/2010/07/“mengapa, setiap pemikiran harus dirujukkan ke negeri Yunani ?” keluh seorang teman, saat menyimak pembicaraan mengenai perkembangan pemikiran di dunia sekarang ini. “setiap mengawali pembicaraan, penggalian makna sebuah konsep selalu saja dirujukkan pada pemikiran Yunani, apa tidak ada pemikiran yang lain ?” ujarnya lagi.

Kritik seperti itu, mungkin pernah kita alami. Saat seseorang menjelaskan makna geografi, sosiologi, demokrasi, politik, ekologi, atau pun yang sejenisnya, senantiasa diawali dengan merujuknya pada pemikiran Yunani atau bahasa Latin. Kalau tidak merujuk pada bahasanya,  rujukan pun kerap kali diacukan pada tokoh pemikir dari negeri “sejuta mitos”.

Tidak terkecuali, jika kita mengawali membahas geografi pun, akan diwarnai dengan rujukan-rujukan yang berbau Yunani. Istilah geografi, akan dirujuknya pada bahasa Yunani. Tokoh-tokohnya, akan diawali dari pemikir Yunani. Untuk kategori yang terakhir ini, kita akan mengenal nama Erasthothenes dan Dikaiarchos (276-194 SM),  Strabo (64-20 SM),  Heraclides (sekitar 320 SM), dan Thales (640-548 SM).

Seorang penutur geografi, akan mengawali dan memantapkan pijakan keilmuannya terhadap salah satu pemikiran geografi Yunani  tersebut. Memang, secara kualitas sangat berbeda. Artinya, ada yang sekedar mengutip definisi, atau filosofinya saja. Sementara dalam paparan selanjutnya,  para geograf modern, memanfaatkan paradigm pemikiran terbaru, yang berkembang di zamannya masing-masing.

Hal pokok yang ingin dikemukakan di wacana ini, yaitu, mengapa pemikiran manusia berbeda ? apakah ada pengaruh ruang terhadap karakter berfikir seseorang ? atau, bagamana geografi memandang adanya keragaman berfikir manusia saat ini, atau bagaimana hubungan antara ruang-waktu dengan karakter berfikir seseorang ?

Pertanyaan ini menarik, sekaligus menggelitik. Karena selama ini, geografi kadang lebih berfokus melihat ‘fenomena di luar dirinya’. Geografi selama ini, kerap hanya melihat aspek luaran saja. Berbagai aspek di luar geografi, seperti ekonomi, sosial, budaya, politik, kesehatan, pendidikan dan perilaku dilihat oleh mata-geografi. Sehingga, pada saat orang geografi itu melihat hal-hal itu, melahirkan disiplin ilmu baru dalam geografi, seperti  geografi ekonomi, geografi sosial, geografi budaya, geografi politik, geografi kesehatan,  geografi perilaku atau geografi pendidikan. Semua itu, merupakan contoh nyata, mengenai geografi yang melihat aspek di luar “dirinya”.

C.A. Qodir, misalnya, memandang bahwa penytaan Rudyard Kipling menunjukkan bahwa terdapat unsur-unsur pembentukan peradaban yang berbeda, antara peradaban Barat dengan peradaban masyarakat Timur.[1]  Akar peradaban dan spirik penggerak peradaban yang berbeda, kemudian yang menyebabkan kecil kemungkinan kalau bukan mustahil, untuk keduanya menyatu atau membentuk peradaban baru.

Tidak semua orang setuju, dengan adanya pemilahan pemikiran Barat dan Timur. HAR Tilaar, misalnya, sebagai pakar pendidikan kurang memberikan perhatian serius mengenai pemilahan seperti itu.[2]

Penulis (baca : HAR Tilaar, pen.) berpendapat falsafah Timur dalam kenyataannya ada meskipun sulit didefinisikan di dalam dunia terbuka dewasa ini. Penulis cenderung tidak jatuh di dalam konsep yang mempertentangkan antara filsafat Barat versus filsafat Timur namun adalah merupakan kenyataan bahwa kebudayaan Indonesia yang multikultural terbentuk dari berbagai pengaruh dari filsafat Timur seperti India, Cina, Islam. Penulis tidak terpaku kepada antagonisme antara filsafat Barat dan filsafat Timur namun di dalam uraian selanjutnya penulis bertolak dari falsafah Timur sebagaimana yang dipersepsikan dalam masyarakat awam. Penulis sendiri beranggapan bahwa baik falsafah Barat maupun falsafah Timur yang tidak terarah kepada kebahagiaan hidup manusia di dunia ini tentu tidak ada manfaatnya. Yang kita perlukan adalah “pandangan – ketiga ,” yaitu pendidikan yang didasarkan kepada falsafah manusia yang hidup di dalam masyarakat Indonesia yang berbudaya Indonesia dalam era global yang terbuka

Sementara  sebagai seorang pengajar filsafat, Konrad Kebung (2011) menunjukkan bahwa ada sejumlah perbedaan karakter antara filsafat Barat dan Filsafat Timur.  Di dunia Timur lebih menekankan aspek intuisi dan perasaan, sedangkan di belahan Barat menekankan aspek intelek atau akal budi. Di belahan Timur,  manusia diartikan sebagai  bagian dari alam (kosmos), sedangkan menurut pemikiran Barat, alam adalah objek kajian akal budi manusia.  Sehubungan hal itu pula, Kebung melihatnya bahwa manusia Barat jauh lebih aktif  dalam melakukan kajian-kajian, sedangkan manusia Timur cenderung pasif.[3]

Berdasarkan pertimbangan itulah, walaupun dilatari oleh rasa was-was, kiranya langkah kaki kita, harus tetap bisa mencoba berjalan menelusuri lorong pertanyaan, “adakah geografi pemikiran itu ?” adakah kondisi geografik, kemudian mempengaruhi pola pikir seseorang ?

[1] Penulis kutip dari C. A. Qodir. Filsafat, dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. YOB : Jakarta, 1991 : 1

[2] Dikutip dari HAR Tilaar, 2003, Filsafat Timur, Kearifan Lokal dalam Pendidikan Watak”, sumber diunduh dari http://fkai.org/wp-content/uploads/2013/05/KML-X-2013_paper_tilaar_pendidikan-berdasarkan-filsafat-timur-jalan-alternatif.pdf

[3] Konrad Kebung, 2011, Filsafat Berfikir Orang Timur (Indonesia, China dan India), Jakarta : PT Prestasi Pustakaraya

Advertisements