1645b-pentingnya2bmetakognitif2bsebagai2bstrategi2bberpikirDalam konteks itulah, rutinisme adalah sifat hidup di dunia ini, tetapi bukan kebutuhan hidup manusia. Manusia tidak sekedar butuh rutin, tetapi butuh pemaknaan. Makan rutin, tidur rutin, jalan kaki rutin, tetapi semuanya akan menjadi lebih bermakna, jika kita mampu memberikan respon terhadap perjalanan  ruang waktu lebih makna !

Betul. Hari ini, sudah pagi lagi. Kemarin malam, sore, beberapa jam berikutnya sore lagi.  Rutinisme itu terjadi. Pagi lagi, sore lagi, pagi lagi sore lagi. Semua berjalan. Seolah sudah menjadi “hapalan-alam”, yang terucap lantang secara formal.

Dalam beberapa hari terakhir, bahkan ribuan tahun terakhir, matahari hadir memancari bumi dengan sinarnya. Tidak pernah bosan, dan tidak pernah berhenti. Beberapa saat kadang redup, itu pun hanya karena terhalangi. Sejatinya, matahari tetap ada, hanya awan menyelimuti bumi, sehingga seolah matahari tak hadir menepati janji.

Dalam situasi serupa ini, dipagi hari ini, terbetik sepotong kalimat, yang mendadak menjadi pikiran dalam hidup ini. Apa bedanya, manusia dengan binatang atau hewan yang ada di sekitar kita ?

Kita mengalami rutinisme siang dan malam. Mereka pun turut mengalami hal serupa. Mereka dikunjungi matahari dan bintang, mereka pun turut merasakannya. Mereka terlelap tidur saat kelalahan, mereka pun turut melakukannya.

Formalism, rutinisme atau mekanisme, adalah istilah yang biasa banyak digunakan. Mungkin makna sederhananya, jika hidup kita sama seperti yang dilakukan hewan, mengikuti dan menjalani roda pergerakan waktu dan peralihan tempat, maka manusia tidak ada bedanya dengan hewan ?

Bila terkena sinar matahari, manusia kepanasan hewan pun kepanasan. Apa bedanya ? respon terhadap kepanasannya tersebut. Sedari awal, cara hewan merespon panas tetap sama, menghindar atau lari. Manusia tidak hanya begitu ?

Bila malam tiba, manusia lelah tertidur, dan hewan pun lelah tertidur. Apa bedanya ? respon dalam tetidurannya. Sedari awal, cara hewan merespon malam tetaplah sama, terlelap pulas, sementara manusia tidak begitu.

Dalam konteks itulah, rutinisme adalah sifat hidup di dunia ini, tetapi bukan kebutuhan hidup manusia. Manusia tidak sekedar butuh rutin, tetapi butuh pemaknaan. Makan rutin, tidur rutin, jalan kaki rutin, tetapi semuanya akan menjadi lebih bermakna, jika kita mampu memberikan respon terhadap perjalanan  ruang waktu lebih makna !

Advertisements