Pengalaman hidup yang buruk di masa lalu, pengalaman baik di masa lalu, bisa menjadi sampah. Karena kita saat ini, menghadapi tantangan nyata saat ini, dan hari ini. Jadi, jangan bebani hidup masa kini, dengan beban masa lalu.

Hari ini, memaksakan diri, untuk bersih-bersih. Merasa terpaksa, karena memang sebelumnya belum ada niat, dan tak ada rencana. Tetapi, karena Istriku yang mengawalinya, maka mau tak mau, harus juga menimbrunginya bersih-bersih.

Agenda bersih-bersih kali ini, sesungguhnya lebih merupakan membersihkan kebutuhanku selama ini. Ruang kerja, eh, maksud the, ruang tempatku melakukan persiapan mengajar atau menulis. Di ruangan inilah, computer ini tersedia, dan juga beberapa buku yang kerap mendampingiku selama ini.

Kalau orang lain, menyebutnya perpustakaan pribadi. Kamarku malah menjadi tumpukan lembaran kertas. Ah, tak pantas untuk disebut perpustakaan. Lembaran kertas bekal printout perengkat pembelajaran, bikin soal atau serupa lainnya.
Mulai pukul 07.00 waktu Indonesia bagian rumahku. Sambil menyimak senandungan irama Sulis atau ST12, malah kadang Slank, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 Waktu Ponsel.

Apa hasilnya ?

Tumpukkan sampah,serahkan bekas yang sudah aus atau kedaluarsa. Disebut kedaluarsa, karena berkas itu adalah surat tugas selama menjadi aparatur sipil Negara. Tugas dari tahun 2007-an, yang dulu sempat digunakan untuk kebutuhan adminsitrasi.

Lembaran demi lembaran dikumpulkan. Bundelan demi bundelan, mulai diikat. Hingga melahirkan beberapa bundelan berkas, atau kertas yang dianggapnya sebagai sampah, atau sudah tidak memiliki fungsi praktis lain.

Sampai pada titik ini, saya tercenung dan tercengang, kemudian ingatanku melanglang ke ponsel atau PC yang selama ini, digunakan.

“pantas berat ponselku. Pantas loadingnya telat..” pikirku, “dalam system ini, terdapat banyak sampah yang harus dibersihkan. Terlampau bekas berkas sisa-sisa kerja, yang sesungguhnya sudah tidak berfungsi, namun masih tertinggal di kamar kerjaku…”

“HARUS di BERSIHKAN !….!”

Itulah langkah praktisku saat itu !

Hari itu, seperti menggunakan Clean Master dalam ponsel, atau scan dalam PC, bersih-bersih menjadi langkahku yang dilakukan saat itu. Maksud memanfaatkan program ini, untuk membersihkan ruangan, dan sekaligus membuka space yang bersih dan kosong, yang bisa dimanfaatkan kembali.

Hasilnya LUAS BIASA !

Didapatnya sejumlah sampah yang bisa dibuang, dan kemudian tampak juga beberapa space, ruang, atau tempat kosong yang dulu terisi sampah, kini bisa leluasa untuk dimanfaatkan untuk hal yang lainnya.

Eh, sampah itu apa ?, “waduh, saya tak mau ribet-ribet mikiran pertanyaan filosofis itu. Tetapi, setidaknya sampah itu adalah ‘sisa dari kebutuhan kita’, dan atau ’kebutuhan kita yang kedaluarsa, tetapi tetap dianggap masih berfungsi, padahal sudah tidak bermanfaat lagi…” Mirip kertas, sudah pernah digunakan, dan kini sudah tidak berfungsi lagi, eh malah tetap dipelihara, maka kertas itu kita posisikan sebagai sampah.

Sahabat-sahabat, temen dekat masa lalu yang kini sudah memilih jalannya sendiri, akan menjadi sampah dalam hasratmu. Hapuslah dan biarkanlah dia mengikuti jalur hidupnya sendiri !

Pengalaman hidup yang buruk di masa lalu, pengalaman baik di masa lalu, bisa menjadi sampah. Karena kita saat ini, menghadapi tantangan nyata saat ini, dan hari ini. Jadi, jangan bebani hidup masa kini, dengan beban masa lalu.

Dalam konteks itulah, saya bisa menarik kesimpulan, “jangan-jangan, langkah berat dalam hidup kita ini, karena dalam diri kita banyak sampah. Sampah Keinginan. Sampah Impian. Sampah Hasrat. Atau sampah-sampah yang lainnya. Sampah-sampah itu, banyak yang tidak mendukung pada kegiatan kita, atau tujuan hidup kita. Karena itu, bersihkanlah, biar kita bisa leluasa melangkah dan meningkatkan kualitas hidup kita ?!”

Advertisements