Ubahlah dari terpaku pada abdi Negara menjadi abdi buana, yakni memosisikan diri sebagai pribadi yang bisa menemukan inspirasi dari bumi, dan memakmurkan bumi. Simpul dari pemikiran ini pun, pada dasarnya, adalah menuntut alumni untuk bisa mengembangkan jiwa entrepreneurial dalam kehidupan.

Kata kunci : ubah orientasi

Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin melanjutkan pemikiran yang kemarin terputus. Wacana ini, sesungguhnya sudah disiapkan sebanyak 17 slide dihadapan alumni dan mahasiswa Departemen Pendidikan Geografi UPI.

Sayangnya, karena melihat waktu, banyak hal yang ditangguhkan. Termasuk mengenai kebutuhannya untuk menjelaskan mengenai pentingnya melakukan peralihan paradigm pemikiran mahasiswa geografi, dan atau alumni Departemen Pendidikan Geografi UPI.

Saya tidak bermaksud untuk berpanjang-panjang dalam menjelaskan mengenai latar belakang pentingnya peralihan paradigm pemikiran ini. Cukup kiranya, dengan melihat kenyataan bahwa tantangan kita hari ini, jauh lebih kompleks dari kehidupan di masa lalu. Inilah tantangan hidup kita saat ini.

Sehubungan dengan kompleksitas tantangan itu, dibutuhkan ada respon yang tepat terhadap tantangan zaman. Sehingga kita, bukan menjadi korban sejarah, melainkan menjadi bagian dari pengukir sejarah. Bukan menjadi beban sejarah, melainkan menjadi pewarna sejarah.

Untuk kebutuhan itulah, maka dibutuhkan ada pencerahan, atau penegasan mengenai sikap atau respon kita terhadap realitas hari ini. Respon pertama, yaitu melakukan peralihan dari orientasi bekerja ke orientasi berkarya. Bekerja, kita maksudkan melakukan sesuatu yang diskenario oleh orang lain, perusahaan lain, ‘pihak lain’. Hasil dari pekerjaan itu, kita mendapatkan upah, tetapi seluruh pengorbanan kita pada dasarnya adalah sesuai dengan kebutuhan pihak luar.

Berbeda dengan berkarya. Berkarya adalah melakukan sesuatu sesuai dengan impian, cita, atau obsesi sendiri. Hasil karya kita, dalam ukuran dan kualitas tertentu, kemudian bisa disaksikan oleh orang lain, atau bisa dinikmati oleh orang lain.

Seorang ibu, atau bapak, atau seorang guru atau seorang dosen, biasa mengajukan pertanyaan, “kalau sudah lulus dari sekolah ini, mau bekerja di mana, Nak ?”.

Pertanyaan ini, pertanyaan normative. Biasa diungkapkan oleh banyak orangtua, guru atau dosen. Tidak salah, tidak keliru. Pertanyaan itu wajar dan alamiah untuk dikemukakan dan disampaikan kepada anak kita. Tetapi percayalah. Jika pertanyaannya, “mau bekerja di mana” itu lebih memosisikan diri kita sebagai karyawan, buruh atau pekerja pada orang lain.

Catatan kita di sini, bekerja itu mengeluarkan seluruh kemampuan kita, sesuai dengan visi dan misi, atau tujuan orang lain (perusahaan atau pabrik). Sedangkan berkarya, adalah menuangkan dan mewujukan impian sendiri.

Kebutuhan yang kedua, kalangan anak muda sekarang, atau alumni Departemen Geografi UPI hari ini, yaitu harus melakukan peralihan orientasi dari institusi ke profesi. Alihan paradigm ini penting. Bukan mengabaikan peran dan tujuan pokok, melainkan dalam rangka menjawab tantangan zaman.

Kalau seseorang, pikirannya itu “hanya mau bekerja di sebuah institusi” baik itu dalam pengertian sekolah, perusahana, atau pabrik, maka jalan hidup di masa depan itu terbatas. Terlebih lagi, jika hanya berfikiran ingin menjadi pengajar di sebuah sekolah atau lembaga pendidikan.

Ijazah adalah kompetensi pokok. Itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi nasib dan masa depan kita, tidak boleh dikerangkeng oleh jalan-hidup yang sempit. Artinya, manakala ada ruang terbuka di luar institusi pendidikan, maka hal itu adalah jalan hidup yang dibukakan oleh sejarah bagi diri kita.

Wacana ini, lebih meyakini bahwa kewajiban kita itu adalah ‘mengembangkan profesionalisme sesuai kompetensi diri kita’, bukan mencari lembaga/perusahaan atau sekolah untuk bisa menampung diri kita.

Sekolah adalah lembaga pendidikan, dan salah satu jenis atau bentuk halte tempat menampung orang yang berkompetensi dala mengajar. Tetapi kemampuan professional kegeografian kita, tidak hanya bisa diterapkan atau diaktualisasikan dalam konteks persekolahan. Banyak lulusan pendidikan geograf yang kini berprofesi di bidang survey, pemandu wisata, pemandu geotrek, analis demografi, birokrat dan lain sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa orientasi kita itu bukan ke institusi pendidikan, melainkan pengembangan profesi kegeografian !

Terakhir, khusus untuk konteks wacana hari ini, yaitu mengalihkan pemikiran dari abdi Negara ke abdi bumi. Dalam bahasa local Sunda, seorang geograf itu hendaknya menjadi salah satu pendukung pada agenda mamayu hayuning buwana, atau memakmurkan dunia.

Sesudah belajar geografi, dan kini menjadi seorang alumni, pada dasarnya, tidak perlu bahkan tidak boleh sekedar bernafsu untuk menjadi abdi Negara atau pegawai negeri sipil. Menjadi abdi Negara (PNS) adalah pilihan. Jika memang ada peluang, maka manfaatkanlah, tetapi jika tidak ada peluang, maka bukalah jalan untuk mengabdi pada bumi.

Ubahlah dari terpaku pada abdi Negara menjadi abdi buana, yakni memosisikan diri sebagai pribadi yang bisa menemukan inspirasi dari bumi, dan memakmurkan bumi. Simpul dari pemikiran ini pun, pada dasarnya, adalah menuntut alumni untuk bisa mengembangkan jiwa entrepreneurial dalam kehidupan. Jadi pribadi yang bisa memakmurkan bumi, bukan sekedar bernafsu menjadi pegawai negeri !

Advertisements