“dalam pikiran saya, maksud dari pengurus OSIS untuk mengajukan acara mencari dan menemukan guru ter-ter itu, kurang pas…!” ungkap rekan guruku, yang juga kini menjabat dalam posisi strategis di sebuah madrasah.

Pada mulanya, saya tidak paham, arah dan maksud dari pembicaraan itu. Tetapi, setelah dia menceritakan salah satu program OSIS di sekolahnya, yang baru saja diterimanya minggu lalu, saya mulai memahaminya. Menurut pengakuannya, di minggu sebelumnya, datang pengurus OSIS di madrasahnya, dengan maksud untuk memeriahkan hari Guru (teacher day) yang jatuh pada tanggal 24 November.

Semula, anak-anak OSIS bermaksud untuk melakukan jajak pendapat, sejenis polling kecil-kecilan, atau poling amatiran kepada rekan-rekan siswa semadrasahnya, untuk mencari guru terfavorit, terdisiplin, dan terbaik busananya.

Menyimak dan melihat tujuan dari program OSIS tersebut, temanku yang jadi pejabat ini, merupakan salah satu dari dua pejabat lainnya, yang melakukan kritik terhadap program itu. Secara pribadi, dia mengatakan, “bukan menolak program itu, hanya saja, mudharatnya lebih besar. Dampak dari kegiatan ini, akan membelah guru menjadi guru yang difavoritkan dan guru yang tidak difavoritkan. Kondisi ini, akan memperburuk hubungan diantara para guru tersebut..!”

Sebagai orang yang sedang aktif di kegiatan kesiswaan, saya merasa kaget dengan komentar itu. Sebagai orang yang memang belum pernah mendapatkan predikat sebagai guru teladan, atau guru favorit di sekolah ini, tetapi, saya anggap komentar itu termasuk aneh buat saya sendiri. Hal itu setidaknya, karena di madrasah swasta, saya pernah mendapatkan posisi sebagai inspiring teacher (guru yang menginspirasi) oleh anak-anak, dan guru teladannya diraih oleh rekan yang lain. Kekhawatiran rekanku yang tadi, tidak pernah ada. Malah sebaliknya, membuat para guru menggeliat untuk memperbaiki diri.

Renung punya renungan, saya teringat pada jargon seniorku di tempo hari. Ada dua orang yang tidak mau dilihat orang lain, kalau bukan pencuri, ya, guru. Seorang pencuri tidak pernah mau kegiatannya dilihat orang lain. Begitu pula dengan guru. Ungkapan itu, tidak bermaksud menyamakan keduanya, tetapi karakter itu, kerap hadir dalam diri guru. Itulah masalahnya !

Tempo hari, saat ada isu UKG, atau PKG, atau setidaknya supervise dari pengawas, reaksi guru sangat emosional. Kritikan pedas terhadap program itu, sangat keras dilontarkan. Mereka malah mencari-cari alasan, dengan maksud untuk melemahkan fungsi dari pengawasan itu. Di sisi lain, saya melihat, jangan-jangan, reaksi itu pun adalah bentuk lain, dari sikap guru yang tidak mau dinilai, diawasi, atau dievaluasi.

Saya sendiri, adalah guru, di sebuah madrasah di Kawasan Bandung Timur. Saya mengajar di madrasah negeri dan madrasah swasta. Aura kegelisahan guru, untuk dinilai, baik oleh siswa seperti yang terjadi pada rekanku yang satu tadi, atau kegelisahan guru akan program PKG, atau supervise oleh pengawas, sangat kental terasa.

Hingga pada ujung-ujungnya, kita patut bertanya mengapa ada kegelisahan yang tinggi, kalau orang lain, termasuk siswa sendiri memberikan penilaian terhadap kinerjanya ? untuk sekedar mengetahui, apakah diri kita ini, termasuk guru yang diidolakan oleh siswa sendiri saja, kita sudah tidak siap ? mengapa ?

Mungkin benar, ukuran yang digunakan anak-anak OSIS itu relative ? tetapi, apakah karena masalah ukuran itulah, kemudian kita menolak gagasan tersebut ?

Advertisements