http://guraru.org/wp-content/uploads/2013/09/“wey, keren hape-nya…?” ungkap Fitri ke temannya. Detri, yang kebetulan saat itu, kena komen dari FItri, gadis berjilbab umuran 18 tahunan itu, hanya tersenyum saja.

Tak ayal saja, karena melihat Detri kurang bergeming dengan komentaranya itu, kemudian, FItri malah melajutnya omelannya. “tambah keren uy dengan hape itu. Jadi anak gaul niih…!”

Kita mungki pernah mendengar, melihat, atau merasakan omelan sebagaimana yang dilontarkan FItri. Atau malah, kita pun, pernah pula mengungkapkan hal serupa kepada  teman kita, atau adik kita, atau orang lain.

Seorang anak kecil, akan merasa ‘remaja’ dan ‘gaul’ bila sudah bisa menenteng hape dengan gadget yang terbaru. Anak-anak muda belia itu, malah bisa ‘dewasa’ banget, bila menggunakan ponsel tersebut.

Mengapa hal itu terjadi ?

Salah satu jawabannya, karena setiap orang memiliki imajinasi sosiologis yang khusus  mengenai media-komunikasi. Setiap orang memiliki persepsi, dan pemahaman mengenai nilai social dari sebuah media komunikasi.

Untuk memudah kita dalam memahami masalah ini, misalnya, orang bisa menilai gaul seseorang jiga sudah memiliki media social. Tidak memiliki medsos, dianggapnya sebagai kurang gaul, kurang modern, atau ‘mati gaya’.

Persepsi serupa itulah, yang kita sebutkan bahwa persepsi orang mengenai media social, akan melahirkan pikiran, sikap dan tindakan khusus terhadap media dan orang lainnya.

Ada lagi, entah tidak mau larut dengan gaya-gayaan, seorang pengusaha, walaupun belum menjadi pengusaha besar, ternyata tidak mau mengganti ponselnya. Dia punya pikiran yang sederhana, asalkan cukup untuk berkomunikasi, maka ponsel jadulnya tetap menjadi andalan hidupnya, dibandingkan menggati ponselnya dengan yang aru, bila sekedar untuk gaya-gayaan.

Inilah yang kita sebutkan bahwa imajinasi sosiologi seseorang, mempengaruhi pada perlakuan orang terhadap media komunikasi, atau  sejenisnya, atau apapun yang dimilikinya.

Advertisements