Di awal tahun pelajaran ini, mendapat kesempatan untuk mengikuti pendampingan Kurikulum 2013 di Madrasah. Narasumbernya beragam, ada yang dari perguruan tinggi, P4PTK, dan ada juga yang dari pengawas. Alhamdulillah, dengan hadirnya mereka, pikiran ini terangsang untuk memahami, menelaah, dan mengkaji ulang mengenai ragam konsep, dan mengoreksi ragam pemahaman yang selama ini dirasa sudah ‘terpahami’.

Salah satu konsep yang ‘populer’ atau menjadi trending topic dalam Pendampingan Kurtilas itu, yaitu konsep metakognisi. Instrukturnya sendiri, merasakan bahwa konsep itu, agak berat, agak sulit, bersifat filosofis, dan memerlukan pemahaman yang serius guna mendapatkan makna esensialnya. Teman saya yang disamping berujar, ‘memang sesulit itu, mengartikan makna metakognisi ?”

Mendengar komentar itu, saya tidak bisa menjawabnya. Habis, pertanyaan itu, salah alamat. Mestinya ditanyakan langsung kepada instruktur itu sendiri, dan bukan kepada teman yang ada disampingnya ini. Tetapi, andaipun, dia bermaksud untuk bertanya, “apakah makna metakognisi dalam bahasa yang lebih sederhana ?” mungkin saya dapat sumbangsaran dan pemikiran untuk menjawabnya.

Populernya konsep metakognisi dalam dunia pendidikan, khususnya di pendidikan dasar dan menengah, saya duga berawal dari pemikiran Anderson/Krathwoll yang mengajukan revisi mengenai taksonomi Bloom.[1] Pemikiran kedua orang itulah, yang kemudian dijadikan “landasan teori” dalam mengembangkan model evaluasi dalam  Kurikulum 2013. Walaupun sesungguhnya, konsep itu tidak murni atau tidak berawal dari pemikiran kedua tokoh itu.

Untuk sekedar mengulas dan atau menyederhanakan maknanya, dengan maksud tukar pemahaman dengan yang lain, kita dapat meminjam pemahaman dari ragam tokoh mengenai makna metakognisi ini.  Ada yang mengartikan metakognisi adalah ‘kemampuan belajar untuk belajar”m atau ‘berfikir mengenai berfikir’, atau ‘belajar mengenai bagaimana cara belajar’.

Ada pandangan yang lebih praktis dari pemikiran itu. Gavin Reid (2005:10), [2]mengartikan metakognisi sebagai kesadaran dan kemampuan seseorang untuk memaksimalkan potensi belajarnya.  Hal ini mengandung arti, bahwa jika seseorang bisa menemukan cara belajar, waktu belajar, atau teknik belajar yang efektif bagi dirinya, maka dapat kita sebut ‘dia sudah memiliki kemampuan metakognisi’.

Jika kita perhatikan di kelas, banyak siswa yang baru mau belajar, kalau kita suruh. Mereka mau mengerjakan latihan belajar, jika ada tugas belajar dari gurunya. Para siswa serius mengerjakan tugas, bila ada perintah dari instruktur, atau mereka mau belajar bila besok hari ada ulangan atau tes.  Contoh-contoh tersebut, meminjam istilah ‘proses belajar yang terkontrol’ (controlled processing).  Bila praktek di laboratorium, seorang yang memiliki karakter pembelajaran terprogram (controlled processing) cenderung bertindak sesuai prosedur, program  atau langkah-langkah belajar yang sudah baku.

Di lain pihak, kita sendiri berharap, siswa dapat belajar dengan kesadaran sendiri. Kita semua berharap, setiap siswa memiliki kesadaran dan kemauan untuk belajar. Belajar diharapkan terjadi bukan karena disuruh atau dikomando, melainkan sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya sendiri.

“kira-kira, kapan waktu belajar yang paling efektif ?” ujar seorang anak kepada guru. Pertanyaan itu, pada dasarnya merupakan indikasi siswa yang belum mampu memaksimalkan kemampuan metakognisinya, setidaknya, dia belum mampu menemukan waktu belajar yang paling efektif bagi belajarnya sendiri. Seorang siswa yang metakognisinya berkembang, bisa menemukannya sendiri cara, waktu, dan tujuan belajarnya sendiri. Siswa tersebut mampu menjadi pribadi mandiri dalam belajar !

Oleh karena itu, meminjam kembali pandangan Gavin Reid (2005), kemampuan metakognisi itu, adalah kemampuan seseorang dalam memaksimalkan sumberdaya belajar secara mandiri  untuk meraih prestasi yang maksimal. Dalam bahasa yang sederhana, kemampuan metakognisi adalah kemampuan seseorang dalam menemukan cara belajar sendiri atau cara memecahkan masalahnya sendiri. Orang seperti itu, berbakat untuk menjadi seorang manajer, pemimpin atau innovator !

[1] Lihat ditelaah David Moseley, etc., Frameworks for Thinking : A Handbook for Teaching and Learning, UK : Cambridge University Press, 2005.

[2] Gavin Reid, Learning Styles and Inclusion, London : Paul Chapman Publishing, 2005.

Advertisements