Pengalaman mogok dan servis motor ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa (a) dipaksa berhenti oleh waktu, tidak menyenangkan, (b) dihentikan oleh waktu, resiko dan biaya lebih mahal, daripada secara sadar kita memilih untuk beristirahat, (c) servis itu adalah modal atau servis itu investasi dan bukan konsumsi,  maka (d)  jadilah servis sebagai sebuah kebutuhan untuk menjaga kebugaran, dan bukan beban !

Sudah lama, tidak servis motor. Merasa tidak ada waktu, sibuk inilah, atau sibuk itulah. Banyak alasan untuk menghindar dari servis motor.  Lokasi perawatan motor tidak jauh dari tempat  tinggal. Tidak lebih dari 15 menit pun, bisa sampai. Tetapi, karena malasnya itulah, yang kemudian menyebabkan perawatan rutin motor ini menjadi tidak kunjung juga dilakukan.

Hingga Jum’at ini. Kendaraan roda dua itu digunakan, dengan maksud untuk sekedar pergi ke depan, menuju ATM yang ada di pinggir jalan raya. Jaraknya pun tidak jauh beda dengan tempat servis motor tersebut. Hanya saja, yang satu dibagian timur, dan yang satunya lagi, dibagian Barat. Bila diukur-ukur menggunakan matematika, mirip dengan ‘segitiga sama kaki’ antara rumahku, ATM dan servis motor.

Keluar dengan penuh suka cita. Senyam dan senyum masih mewarnai perjalanan, maklum mau ambil sisa bekal hidup diakhir bulan. Gerak sepeda motor pun melaju ke jalan raya. Dengan kecepatan yang biasa-biasa saja, jarak yang kurang dari 1,5 km itu, dapat dicapai dalam beberapa menit saja.

Kendati sudah tepat di depan ATM, diri ini tak mau juga turun dari motor. Walupun demikian, sang sepeda motor pun dimatikan pula. Dipikir-pikir sejenak, melihat antrian yang begitu bejibun, asa ini merasa urung untuk turun dari kendaraan. “ah, mendingan pindah saja, deh, ke ATM kampus UIN SGD…” pikirku.

Secepat pikiran itu, kendaraan pun dibalikarahkan dari Bank yang ada di depan kampus UIN, dengan maksud menuju kampus UIN. Setelah berbalik, ternyata, starter motor gak jalan, dan diupayakan sedemikian rupa pun, sepeda motor itu tidak mau juga berbunyi. “Waduh, kenapa nih…” kekagetan ini mulai muncul di benak.

Diselah beberapa kali, tak juga berbunyi. Distarter apalagi. Kemudian dicek bensin, masih penuh. Walaupun pengetahuan yang pas-pasan, , hampir  “semua aspek” (hmm, maksudnya, cuma dilihat-liat doang)  yang saya tahu kadang menjadi masalah, diceknya. Maklum pengetahuan permesinan pas-pasan, maka, jadinya, masalah motor itu pun tidak ditemukan.

Masih beruntung, jarak dari Bank ke Kampus UIN, kurang dari 100 meteran. Sehingga kendaraan itu, bisa disimpan di pinggir jalan raya, dan saya pun lari ke ATM tersebut. Tidak butuh waktu lama, aras-urus masalah itu, selesailah sudah urusan di tempat itu, dan saya pun kembali ke kendaraan yang membawaku ke lokasi itu.

Distarter ulang. Mati. Di slah. Tetap juga mati.  Terpaksa di dorong. Bayangkan, perjalanan sekitar 500 meteran lebih, saya mendorong motor yang mogok. Sebenarnya di antara jarak itu, ada bengkel, Cuma karena tidak pengalaman servis di tempat itu, jadi merasa kurang ‘sreg’ mengirimkan kendaraan itu ke bengkel tersebut.

Mengenakan jaket tebal, dan dipunggung pun menggendong tas berisi banyak hal yang cukup berat dipikulnya. Sambil mengenakan helm, dituntunlah motor tersebut menuju bengkel ‘langanan’ yang berjarak tidak kurang dari 500 meteran.

Terik matahari siang itu, menaungi perjalanan. Waktu di jam, masih menunjukkan angka pukul 10 WIB. Kendaraan itu pun dituntunnya. Kendati fisik agak sedikit lemes, namun terpaksa dan memaksakan diri harus terus berjalan. Dalam jarak yang tidak lebih dari 200 m pun, keringat sudah bercucuran.  Nafas pun sudah terengah-engah. Minggu awal, di bulan syawal, dihadapkan pada pengalaman hidup seperti ini.

Entah berapa lama perjalanan itu, sampailah sudah ke bengkel yang dimaksud. Brondongan pertanyaan dari petugas servis sudah bisa diduga. Lamanya motor yang belum diservis, dan banyaknya onderdil yang harus diservis atau diganti, adalah pertanyaan dan rekomendasi yang banyak dimunculkan oleh petugas servis tersebut.

Piker punya pikir, dan hitung punya hitungan, keluarlah angka yang cukup besar untuk biaya servis kendaraan itu, di  hari itu, dan untuk bulan ini !

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari pengalaman hidup ini ?

Pertama, jika ada sebuah jadwal rutin, maka rutinkahlah, karena dirutinkan oleh ‘waktu’ akan terasa berat bagi kita. Masih mending mogoknya di dekat rumah, bagaimana kalau ditengah jalan yang jauh ke sana dan kemari ? dihentikan oleh waktu, akan jauh lebih berat masalahnya, dibandingkan kalau kita  merutinkan sesuatu yang memangnya harus rutin !

Kedua, menjaga ritme atau program rutin adalah bentuk antisipasi kita, terhadap resiko yang bakal terjadi. Jika kita rutin servis, tidak mungkin atau setidaknya resiko mogok akan dapat dihindari. Sedangkan, bila kita abai terhadap rutinitas pengecekan kondisi kendaraan, kita sulit menerka dan menduga musibah itu akan tiba !

Terakhir, jadilah sebagai pribadi yang mau merawat kendaraan (motor atau tubuh) secara rutin, karena dengan ritme yang teratur itu, biaya perawatan akan terasa jauh lebih murah.  Sakit adalah mogoknya onderdil tubuh kita. Jika tidak ada perawatan rutin, kambuhnya sakit kita, bisa lebih mahal daripada perawatan kesehatan secara rutin itu sendiri !

Dalam kaitan inilah, pengalaman mogok dan servis motor ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa (a) dipaksa berhenti oleh waktu, tidak menyenangkan, (b) dihentikan oleh waktu, resiko dan biaya lebih mahal, daripada secara sadar kita memilih untuk beristirahat, (c) servis itu adalah modal atau servis itu investasi dan bukan konsumsi,  maka (d)  jadilah servis sebagai sebuah kebutuhan untuk menjaga kebugaran, dan bukan beban !

Advertisements