“Lebaran adalah hari kemenangan”, itulah pekikan yang dikumandangkan media mengenai makna dari idul fitri. “Diharapkan”, setiap orang bisa bersuka cita di hari lebaran, yang diartikannya sebagai hari kemenangan kaum muslimin dalam memerangi hawa nafsu. Jika kita salah tampil, alih-alih menjadi winner (pemenang) kita malah menjadi whinners atau pengeluh.
Kendati begitu, bila kita mencoba untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat, apa iya, bahwa kaum muslimin mendapatkan kemenangan  melawan hawa nafsu ? apa iya, idul fitri sebagai hari kemenangan ?

Di sini, kita akan meminjam beberapa pandangan Keith Cameron Smith. (2011), yang berbicara mengenai karakter pemenang (winners), dan buka karakter dari si pengeluh  (whinners).[1] Ide –ide itu, kita coba terapkan dalam kaitannnya dengan bulan suci ramadhan.

Pertama, calon pemenang akan merasa senang, jika dimasukkan ke dalam camp latihan atau pemusatan latihan, sedangkan pengeluh akan merasa tidak kerasan, karena seolah masuk ke ruang penjara. Muslim pemenang, mengartikan datangnya ramadhan dengan kebahagiaan, sedangkan muslim pengeluh mengartikan ramadhan sebagai bulan penjara, serta dibatasi.

Kedua, seorang pemenang akan mengartikan latihan sebagai sebuah kebutuhan, sedangkan pengeluh latihan sebagai sebuah beban. Puasa di bulan suci ramadhan, seorang muslim pemenang mengartikan ramadhan sebagai kebutuhan dalam meningkatkan stamina, sedangkan pengeluh mengartikan ramadhan sebagai sebuah beban.

Ketiga, seorang pemenang berakhirnya latihan sebagai sebuah kerugian, sedangkan pengeluh mengartikan berakhir latihan sebagai sebuah kebebasan. Mental seorang juara, akan merasa rugi jika sang Mentor menghentikan masa latihan, sedangkan sang pengeluh merasa bebas dan merdeka, jika jadwal latihan berakhir.

Keempat, seorang pemenang akan menikmati perjalanan ramadhan, sedangkan si pengeluh merusak perjalanan dan galau dengan perjalananya. Ramadhan dinikmati, dan bukan dikeluhkan, apalagi jadi beban hidup.

Kelima, seorang pemeng akan membangun persahabatan, sedangkan pengeluh mengucilkan diri dan merusak persahabatn. Idul fitri dijadikan sebagai momentum shilaturahmi, dan bukan merenggangkan persaudaraan, apalagi konflik.

Terakhir, seorang pemenang mendapatkan apa yang diinginkan, sedangkan seorang pengeluh menginginkan apa yang tidak dimiliki, atau mendapatkan apa yang tidak diinginkan atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan.  Di hari idul fitri, seorang muslim pemenang menjadi pribadi yang bertakwa, sedangkan seorang pengeluh ‘bermimpi menjadi orang bertakwa’.

[1] The Top 10 Distinctions Between The Winner and The Whiners, John Wiley & Sons, Inc

Advertisements