Kualitas amalan itu ada tiga, yakni pedagang dadakan, pedagang tradisional, dan pedagang kreatif. Mereka memiliki keuntungan, tetapi memiliki  kualitas dan ketahanan hidp yang berbeda. Di ramadhan ini, ada muslim dadakan, dadakan dagang, dadakan soleh, dan dadakan aktif. Itgu bagus, tetapi bukan pilihan terbaik !

Perhatikan dengan seksama. Di depan rumah kita. Di depan perkantoran. Di sepanjang badan jalan, sudah tentu di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Kita dengan mudah menemukan, pada pedagang yang menyediakan kuliner ramadhan. Ragam makanan, baik itu yang sudah biasa kita temukan sebelumnya, seperti sate, kupat tahu, martabak, dan juga ada banyak ragam kuliner yang khusus muncul di bulan suci ramadhan, seperti kolek, atau candil.

Mengapa itu penting kita perhatikan ? mengapa kita perlu mencermati gejala sosial serupa itu ?

Banyak tafsir terhadap gejala sosial-ekonomi tersebut. Salah satu pelajaran penting, yang dapat kita ungkapkan di sini, yaitu adanya relevansi fenomena itu, dengan perilaku ramadhan umat Islam saat ini, khususnya Umat Islam Indonesia di sekitar kita.

Pertama, kita bisa menemukan ada para pedagang musiman. Mereka muncul disaat ramadhan. Mereka menjajakan kuliner atau jasa ekonomi di bulan suci ramadhan saja. Sebelum ramadhan, dan sesudah ramadhan, tidak pernah hadir atau tampil sebagai seorang pedagang.

Itu sah, dan hak mereka. Mereka bermaksud mendapatkan keuntungan di bulan suci ramadhan, dan mereka bermaksud untuk mengumpulkan rijkinya di bulan suci ramadhan. Sejak awal ramadhan, bahkan hingga menjelang akhir ramadhan, dengan semangat dan sungguh hati mereka berusaha untuk mendapatkan rijki atau keuntungan yang sebesar-besarnya.

Apa persamaannya dengan perilaku kita di bulan suci ramadhan ? Mohon maaf, di sekitar kita, di Indonesia, ada yang mendadak muslim di ramadhan. Mendadak rajin, di bulan ramadhan. Targetnya sama dengan pedagang dadakan tadi, yaitu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya.

Itu tidak keliru. Hak kita dan itu perlu kita apresiasi sebagai kecerdasan dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. Tetapi, perlu ditegaskan di sini, bahwa selepas ramadhan, para pedagang dadakan itu, kembali akan kehilangan mata pencahariannya, dalam bahasa agama, akan kehilangan semangatnya lagi dalam mencari pahala atau fadhilah dari Allah Swt. Tidak mengherankan, bila kemudian, mereka akan kembali seperti biasa sebelum bulan suci ramadhan.

Kedua, para pedagang kecil, yang sudah biasa dagang. Mereka tetap hadir dan tetap berdagang. Dengan hadirnya para pedagang dadakan, mungkin merasa ada pesaing baru, tetapi keuntungan tetap juga mereka dapatkan, hanya saja, para pedagang seperti ini, kurang kreatif, dan kurang bergairah dalam melahirkan produk baru yang bisa melipatgandakan keuntungan.

Mungkin itulah, kebanyakan diantara kita. Ibadah di ramadhan, dengan ibadah di luar ramadhan, biasa-biasa saja, dan tampak tidak ada perubahan besar dalam diri kita. Keuntungan pun, tidak melonjak besar.

Terakhir, yaitu pada pedagang yang kreatif. Mereka bukan saja memanfaatkan ramadhan sebagai peluang mendapatkan keuntungan, tetapi juga menunjukkan kreasinya dalam berjualan, sehingga menjadi daya tarik bagi pembeli, dan kemudian meraup keuntungan yang luar biasa besar.

Perhatikan dengan seksama, di sekitar kita. Di bulan ramadhan ini, supermarket berlomba menampilkan kreasi dan inovasinya dalam menarik konsumen, dengan maksud untuk meraih keuntungan yang luar biasa. Mereka berlomba untuk mendapatkan keuntungan yang luar biasa besarnya.

Di luar ramadhan pun, mereka sudah untung, sedangkan di bulan ramadhan, mereka berharap mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Kreatif dalam menarik konsumen, dan memanfaatkan ramadhan, menjadi inti dari perilaku usaha mereka di bulan ini.

Sehubungan hal itu, akankan kita, ramadhan kali ini, hanya sebagai pedagang dadakan, pedagang kecil, atau pedagang kreatif yang mamnpu memanfaatkan peluang keuntungan yang luar biasa ?

Semua bergantung pada diri kita dalam menafsirkan makna ramadhan dan memanfaatkannya !

Advertisements