Ada pertanyaan, benarkah penyeragaman kebijakan pembelajaran dapat menumbuhkan kreativitas guru dalam menyusun strategi pembelajaran..? Dalam pertanyaan tadi, ada istilah kreativitas.

Jika ada pandangan bahwa uraian selama ini, lebih banyak kritik terhadap upaya penyeragaman, mungkin itu adalah benar. Tetapi, hal itu, bukan berarti bahwa tidak ada makna positif, atau tidak ada nilai yang bisa terkembang dengan kebijakan penyeragaman pendekatan saintifik dalam pembelajaran di kelas.

Khusus untuk konteks ini, saya menemukan, setidaknya ada tiga tahapan kreativitas guru dalam praktek pembelajaran.

Pertama, saya sebut kreatif tahap sederhana. Dalam tahapan yang sederhana ini, guru memiliki keleluasaan dan kewenangan untuk menetapkan pilihan model pembelajaran yang cocok dengan lingkungan atau situasinya.

Selama ini, suka ada prasangka, bahwa guru cenderung stagnan atau monoton. Dalam praktek pembelajaran, kerap hanya menggunakan satu atau dua model pembelajaran, atau lebih tepatnya satu atau dua metode mengajar. Kalau tidak ceramah, ya, penugasan, jika bosen dengan itu, paling banteran diskusi. Di seputar itulah, para guru lebih banyak bergerak.

Dengan adanya pendekatan saintifik, setidaknya, guru memiliki kewenangan untuk memilih model pembelajaran yang cocok. Kemampuan untuk memilih dan menetapkan model pembelajaran ini, perlu diapresiasi sebagai bentuk kreatif guru dalam memilih model pembelajaran.

Kedua, kreatif tahap menengah, yaitu kemampuan guru dalam mengadopsi, dan adaptasi model yang sudah ada. Model pembelajaran yang ada selama ini, sudah tentu, sudah banyak dilakukan oleh banyak guru dalam situasi dan lingkungan belajarnya sendiri. Untuk situasi kita sendiri, dan di sekolah kita sendiri, model pembelajaran itu bisa dimanfaatkan, tetapi juga sekaligus perlu dikemas dan disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Kemampuan mengadopsi dan mengadaptasi model pembelajaran itu, merupakan bentuk kreasi guru dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran di kelas. Perhatikan saja dengan seksama, model jigsaw saja, sebagaimana yang kita ketahui dalam Pembelajaran kerjasama (cooperative learning), sudah mengalami perkembangan dari tahap sebelumnya.

Terakhir, yaitu kreatif tinggi dalam pengembangan pembelajaran. Pada tahapan ini, seorang guru sudah mampu melahirkan model faktual, kontekstual dan bahkan orisinal. Metode Iqra dalam pembelajaran membaca al-Qur’an, merupakan kreasi asli seorang KH. As’ad Humam dalam dunia pendidikan, khsusnya pendidikan Agama.

KH. As’Ad Humam adalah contoh figur pendidik kreatif dalam melahirkan model pembelajaran. Beliau bukan saja, paham pendidikan dan metode mendidik, tetapi juga kreatif melahirkan model pembelajaran yang tepat bagi pendidikan anak zaman modern ini.

Dalam kaitan ini juga, pada umumnya, guru-guru dilapangan, baru sampai pada tahapan kreativitas yang pertama, yaitu kreatif memilih model pembelajaran yang sudah ada.

Advertisements