Di malam ini, saya tercengang lagi. Setidaknya, terhentak lagi. Seolah kaset yang diputar ulang, dan diulang lagi, penceramah malam pertama tarawih membacakan kembali ayat-ayat ramadhan, berikut pula mengenai tafsirannya, baik secara fiqh maupun secara maknawi. Pertanyaan dasar, apakah terjadi proses perbaikan spiritual dari tahun lalu, atau kita malah mengalami jalan di tempat, atau involusi spiritual ?

Ayat yang dibacakan, sudah tentu, jama’ah tarawih sudah pada hapal, dan arah pembahasannya pun sudah mudah ditebak. Isinya, adalah mengajak jama’ah tarawih untuk memakmurkan masjid, memakmurkan ramadhan dengan amaliah ramadhan, sebagaimana yang Rasulullah Muhammad Saw sarankan.

Sejalan dan seiring pemaparan itulah, pikiran ini terusik kembali. Kembali terusik. Mengapa kesadaran ini, muncul lagi, di setiap awal ramadhan, dan mengapa penceramah ramadhan menjelaskannya itu kembali.

Satu tahun sudah berlalu, dan berlalulah waktu satu tahun lamanya. Jika grafik perjalanan di ramadhan lalu, sudah dianggap sedang naik menuju puncak, sayangnya disyawal kembali menurun, menurun, bahkan ada yang melorot.

Bertemu kembali ramadhan di tahun ini, gairah belajar dan perbaikan diri kembali muncul. Semangat yang dulu sempat muncul di ramadhan tahun lalu, kini hadir lagi, dan bermimpi bisa meraih puncak kesadaran di akhir ramadhan, kendati belum terbayangkan ulang pasca ramadhannya.

Ala kulli hal, di balik semua itu, saya merasakan, kejadian dan peristiwa malam itu, ibarat orang yang sedang berjalan, atau berlari. Sayangnya, perjalanan dan pelariannya itu, lebih merupakan sebuah gejala “jalan di tempat”, dibandingkan jalan maju berkembang.

Meminjam istilah sosiologi, fenomena ini mirip dengan gejala ‘involusi spiritual’, dibandingkan sebuah revolusi atau evolusi spiritual. Disebut involusi, karena ceritanya, gejalanya, uraiannya, bahkan masalahnya, kerap kali adalah pengulangan dari masa lalu, dan kita belum juga beranjak dari posisi yang 1 tahun lalu pun pernah kita rasakan. Gejala involusi spiritual, pada dasarnya, kurang menunjukkan nilai positif, karena yang ada bisa jadi, adalah ada penelantaran spiritual oleh individu, dan itu adalah indikasi gersangnya spiritual pada dirinya.

Ramadhan sudah berulang, tetapi posisi kita, masih di sini, dan malah kembali pada posisi derajat spiritual seperti masa lalu, layaknya satu tahun lalu, saat sebelum ramadhan. Itulah yang saya sebut involusi ramadhan, atau involusi spiritual.

ibarat sebuah roda, yang diikat dalam sebuah tiang. Hidup kita berputar, tetapi tetap di tempat. nilai spiritual kita dinamis, kadang naik, kadang turun, tetapi tidak pernah memuncak. tetap di sini, dan begini. Itulah involutif !!!!

Advertisements