CIMG2027Berita mengenai Jogjakarta, candi Borobudur, Pantai Parangtritis, Malioboro atau Darajat Pass di Kabupaten Garut sudah mudah didapat dalam internet. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi itu. Bahkan, jika dikaitkan dengan penjelasan Guide atau Tour Leader dari pihak travel, penjelasan di internet akan jauh lebih lengkap dibandingkan dari mereka. Inti masalahnya, informasi atau berita dari internet, dapat dengan mudah kita dapatkan. Tetapi mengapa kita harus pergi ke lokasi ?

Di sinilah persoalannya. Masalah kehadiran diri dalam ruang, menjadi hal pokok dari semua itu. Hadir dalam ruang, merupakan kunci persoalan dasar, baik dalam konteks masalah di atas, maupun dalam kajian mengenai interaksi keruangan dalam perspektif geografi.

Melihat Candi Borobudur dapat dengan mudah di internet (youtube.com), informasi mengenai pusat-pusat wisata, baik di Jogja, Bali, Mesir, Singapura, atau Negara manapun, dapat dengan mudah diakses di internet itu. Tetapi, semua itu kurang memberikan kepuasan kepada para penontonnya, bila dia tidak hadir dalam ruang.

Membawa atau membeli oleh dari lokasi wisata, dengan cara dibelikan oleh orang lain, sebagaimana yang dimaksud pihak travel, adalah hal biasa dan bisa dilakukan. Tetapi, kepuasaan wisata, tidak bisa digantikan. Karena persoalan dasarnya, bukanlah pada aspek material benda yang dijinjing atau dibeli, melainkan pada aspek ‘kehadiran diri dalam ruang’. Itulah pokok persoalannya.

Apa bedanya, dibelikan oleh pihak travel dengan mereka yang menitip oleh-oleh, tanpa harus pergi ke lokasi wisata ?

Kehadiran diri dalam ruang, merupakan kunci bahasan dalam membahas eksistensi orang dalam ruang, dan bahasan mengenai kebahagiaan ruang, atau kesadaran ruang. Kajian geografi, khususnya geografi manusia, akan kehilangan maknanya, bila mengabaikan aspek kajian mengenai kehadiran diri dalam ruang.

Ekspresi, apresiasi dan penghayatan, akan berbeda antara pencinta bola yang menyaksikan di stadion, dengan sekedar membaca berita tim favoritnya dari media. Akan ada perbedaan nilai penghayatan, antara mereka yang menyaksikan langsung di lokasi, dengan di media tv.

semua itu menunjukkan bahwa ruang, dan kehadiran ruang, merupakan fenomena eksistensial yang perlu dicermati dengan seksama, dan ini menjadi bagian penting dalam konteks kajian geografi humanis, atau geografi perilaku.

Advertisements